[ 18 ]

8 1 1
                                        

*******

"Assalamu'alaikum ...."

" Wa'alaikumussalam ..."

" Akhirnya kamu sampe juga, kasian itu istrinya udah nungguin daritadi sih, nak ..." Ujar Yuna sembari mengelus rambut Jevan.

" Iya ma, ke masjid dulu tadi, sama beli makanan." Sahut Jevan sembari mengangkat beberapa kantung plastik makanan.

Yuna mengelus pundak Jevan, " harusnya nggak usah juga ngga apa apa nak, yang terpenting itu isrimu."

" Loh, perut Jevan nggak penting, ma ?" Sahut Jevan, sontak mengundang tawa bagi semua orang yang ada disana.

" Yaudah, mama sama yang lain mau sholat dulu ya, kamu temani Nabilah disini. jangan di tinggal tinggal, paham ?" Pesan Yuna sembari mengambil tasnya dan mengisyaratkan pada Jesslyn, Sheila dan Rara untuk pergi ke masjid.

Jevan mengangguk, " iya iya, awas ketemu shumo dijalan, ma."

" Ahahah, nanti shumo nya mama tusuk pake jarum pentul biar kempes perutnya." Sahut Yuna.

Sepeninggalan keempat orang disana, Jevan meletakkan beberapa makanan di meja lalu menghampiri Nabilah. ia menatap lekat wajah sembab itu.

" Baru ditinggal sebentar aja udah sembab tu mata, di apain sama mereka hm ?" Ujar Jevan. sementara Nabilah, ia malah menarik tangan Jevan dan masuk kedalam pelukan lelaki itu.

Reflek tangannya mengelus pucuk kepala milik Nabilah.

" Oalah, cup cup cup ... nanti kita beli balon ya dek ya ?"

Plak!

" Awss!"

" Apasih kamu! orang lagi sedih, serius sehari aja bisa nggak ?!"

" Yauda yauda, kenapa ? lo kenapa ?"
" Eh iya, tadi ada toga sama topinya, pake terus foto, ya ?" Jevan beranjak dan mengambil sebuah tas berisikan ijazah, sk, dan baju toga beserta topinya.

Ia mengusap air mata yang berada di mata serta di wajah Nabilah, lalu memakaikan baju dan topi toga secara perlahan.

" Nah, gini kan baguss ..." Jevan mengambil handphone dan sebuah bucket yang ia bawa, bunga berwarna putih. " Nih,"

" Waah, cantik bangett!! makasih Jevann!" Seru Nabilah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Waah, cantik bangett!! makasih Jevann!" Seru Nabilah.

" Suka ?"

" BANGET!!"

" Yauda sini difoto dulu."
" Satu ... dua .... tiga ..."

Nabilah tampak cantik dengan tersenyum, ia memeluk bucket di tangan kiri dan di tangan kanan mengganggam ijazah.

" Sekarang ganti gaya."

" Gimana ?"

Jevan mengambil bunga dan ijazahnya.
" Megang tali topinya coba."

Chinese DescentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang