[ 10 ]

23 2 0
                                        

*********
Deggh!

Nabilah menelan salivanya susah payah, segera ia menyusul Jevan yang sudah sampai di dapur. dilihatnya lelaki itu tengah berkutat dengan piring dan sendok, tampaknya Jevan baru saja memesan makanan online.

" Jevan."

Jevan menoleh, ia menaikkan satu alisnya sementara mulutnya masih mengunyah. Nabilah mengulurkan tangannya.

" Untuk tinggal berdua, paling nggak kita harus akrab, yaa ... minimal jadi temen." Nabilah melempar senyum manis pada Jevan. lelaki itu tersenyum sinis sembari menyuap makanan ke mulutnya.

" Nggak butuh temen, udah banyak temen."

Nabilah menarik kembali tangannya, ia mendengus kesal. " Oh ya, kasih tau dong, siapa pacar kamuu.."

Jevan bungkam, ia melanjutkan aktivitasnya hingga makanannya habis, segera ka membawa piring serta gelasnya ke wastafel dan mencucinya. lelaki itu berjalan ke depan untuk mengunci pintu rumah.

Saat sudah berada di ruang tamu, ia berhenti di depan saklar lampu lalu mematikan semua lampu di lantai atas, setelahnya ia berlari sekencang mungkin.

" HUAAA JEVANN! KURANG AJAR!!!"

" BUAHAHAHAHA, RASAIN LO!"

Bugh! Bugh! Dugh!

" Aw! Aw! Aw! Sakit coy!"

" Makanya jangan usil!"

Dua orang itu pun memasuki kamar secara berdampingan setelah saling mengejar satu sama lain. Jevan masuk dan langsung menuju ke balkon untuk menetralkan tubuhnya karena habis makan. sementara Nabilah, ia membelok ke wardrobe dan mengambil hadiah yang diberikan Yuna lewat Jevan tadi.

Perlahan ia membuka kotak itu dan ternyata isinya adalah sebuah kalung berlian yang terdapat liontin berbentuk angsa berwarna merah muda di tengahnya, terlihat senyum bahagia terukir di wajahnya, ia merasa di hargai sebagai menantu terakhir.

" Je, liat ini mamah kasih apa ?" Nabilah menghampiri Jevan dan menunjukkan betapa indahnya hadiah pemberian mertuanya itu.

Jevan menoleh, ia ikut tersenyum melihat itu. " Kata mamah dia udah siapin itu sejak lama."

" Buat ?"

" Buat menantu terakhirnya."

Nabilah mengangguk, ia hendak menutup kembali kotak itu namun ditahan oleh Jevan. " Sini gue pakein." Jevan mengambil kalung itu dan memasangkannya di leher indah Nabilah, reflek gadis itu mengangkat rambutnya karena sedikit menghalangi.

" Cantik."

" Apanya ?"

" Kalungnya."

Nabilah melengos, namun dengan cepat ia sadar, mau berharap apa ? berharap di puji cantik oleh lelaki cina itu ? oh tidak Nabilah, harga dirimu lebih berharga daripada itu.

" Kalungnya cantik karena dipakai sama orang cantik." Bisik Jevan setelahnya lelaki itu masuk kedalam kamar.

" Apaasih! Sok romantis! Basi! Kaku! Najiess!"

" Mending sok romantis ketimbang sokab. gue dah ngantuk nih, lo mau diluar aja ? Katanya sih nih rumah bekas rumah sakit terbengkalai."

Ceklek.

" Sorry, nggak akan ketipu sama jokes bapak bapak kayak gitu."

**

15.02

Nabilah sampai di cafe tempat ia janjian bersama Sheila dan Rara dengan napas yang terengah engah. pasalnya, gadis itu baru saja menyerahkan hasil skripsinya pada dosen pembimbing secara tiba tiba dan ini sudah lumayan sore untuk dipakai nongkrong.

Chinese DescentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang