Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
15.30
Jevan dan Nabilah sampai di depan sebuah rumah minimalis berlantai dua di komplek C kawasan Jogja. mereka sampai di Indonesia sekitar 3 jam yang lalu dan menempuh perjalanan kerumah membutuhkan waktu yang cukup lama. mereka pulang dengan dijemput supir dari mansion.
" Pak, tolong bawain barang dibelakang, ya, saya bawa Nabilah dulu kedalam." Pinta Jevan pada Pak Joko.
" Siap, Koh."
" Terimakasih, pak." Jevan turun dari mobil lalu memutar kearah kanan mobil lalu menggendong Nabilah yang terlelap masuk kedalam rumah.
Jevan membawa Nabilah dengan menggendongnya ala bridal style. Ia membawa gadis itu ke kamar utama yang berada di lantai dua, ia melepas sepatu Nabilah perlahan lalu meletakkan diatas kasur. tangannya tergerak mengusap kening Nabilah, setelahnya ia turun kebawah untuk membantu pak Joko membawa barang barangnya masuk.
Jevan datang membantu Pak Joko yang hendak membawa koper milik Nabilah dan sebuah koper berisikan hampers.
" Biar saya aja, pak. Bapak bawa koper yang ungu, itu isinya hampers." Ujar Jevan.
Pak Joko tersenyum, ia maju lalu memeluk tubuh Jevan, " terimakasih ya, Koh. sudah berbaik hati menguliahkan anak saya, dia anak saya satu satunya."
Jevan membalas pelukan Pak Joko, ia mengelus punggung lelaki itu. " Sama sama, pak. jangan ngerasa jadi orang lain di keluarga kami, pengabdian bapak jauh lebih besar daripada itu semua."
Pak Joko menitihkan air mata, sebab ia hanya tinggal berdua dengan anaknya. ia sudah bekerja pada keluarga Viejay sejak anaknya berusia 7 tahun, dan kini anaknya sudah besar, baru akan masuk ke jenjang yang lebih tinggi.
Azan ashar berkumandang, meminta Jevan untuk menghentikan aktivitasnya. ia datang menghampiri pak Joko dengan segelas air putih.
" Minum dulu, pak. maaf dirumah baru ada ini, setelah ini kita sholat berjama'ah."
" Iya Koh, siap!"
Setelah dirasa cukup untuk beristirahat, Jevan mengajak Pak Joko untuk sholat di masjid terdekat. mereka pergi dengan berjalan kaki sembari berbincang mengenai urusan rumah dan perusahaan, karena Pak Joko juga cukup bernaung menjadi tangan kanan Viejay.
........ Setelah melaksanakan sholat, Jevan dan Pak Joko kembali kerumah, sepanjang jalan, tak sedikit pembicaraan mereka melesat pada Nabilah, terlihat Pak Joko yang sedikit heran dengan pilihan Jevan.
" Saya kagum dengan pilihan Koh Jevan, perempuan yang terjaga, auranya adem, juga baik. mungkin itu yang membuat Koh Jevan semakin bersinar, saya bener bener nggak nyangka, ternyata Koh Jevan berani dalam menyuarakan kesukaannya."