Sewaktu Ten berumur 7 tahun, ia dan keluarganya berlibur ke sebuah vila di puncak. Ayah Ten membawa mereka menggunakan mobil jip berwarna hitam. Selama perjalanan, Ten tidak berhenti melirik tas camo persegi panjang milik ayahnya. Ten tahu isinya dan itu membuatnya penasaran kenapa ayahnya membawa itu.
"Nanti juga Ten bakal tahu." Ayah Ten menjawab seperti itu tiap kali Ten bertanya.
Selama ibunya menyiapkan makan siang di dapur, Ten mengikuti langkah ayahnya memasuki hutan di belakang villa.
Ayah Ten menunjuk sesuatu di depan mereka.
"Lihat!"
Ten mengikuti arah jari telunjuk ayahnya. Dari kejauhan ada dua ekor rusa yang sedang memakan tanaman di dekat akar pohon.
Ayah Ten mengeluarkan sebuah senapan dari tas camo. Pria itu pun bersiap membidik rusa itu bersama senapannya. Sebuah pelatuk ditarik. Ten kaget mendengar suara dari pelatuk yang lebih keras dari perkiraannya. Sebuah rusa tumbang.
Sementara Ten masih terkejut dengan apa yang ia lihat, ayah Ten tersenyum puas.
"Ten-chan mau coba?" Tawar ayahnya.
Antara takut dan ingin mencoba, ia pun mengangguk. Rasa penasaran Ten jauh lebih kuat dari segalanya.
Ayah Ten mensejajarkan diri dengan tubuh Ten, lalu membimbing Ten memegang senapan dengan posisi yang benar. Ten turut membidik, jarik kecilnya hendak menarik pelatuk. Namun di ujung penglihatannya rusa itu tidak ada, digantikan seorang gadis yang sudah lama tak ia lihat.
Ten mengangkat pandangan. Gadis itu mengenakan seragam SMA, rambut hitamnya dipotong bob, kulitnya putih, dan raut wajahnya tampak putus asa.
"Fokus, Ten-chan." Ucap ayahnya.
Tapi Ten kenal gadis itu. Sangat. Ia tidak bisa menembak gadis itu.
"Karin?" Ucap Ten.
Tapi jari telunjuknya ditekan oleh jari ayahnya, membuat pelatuk senapan tertarik. Suara tembakan terdengar lebih kencang. Peluru itu menembus dada gadis itu.
.
Suara alarm berbunyi, mimpinya pun membuyar. Perasaan tak nyaman menguasainya saat membuka mata.
Mimpi semacam itu bukan hanya sekali dua kali saja mampir. Bagaimana sebuah masa kecilnya dapat bertemu dengan Karin.
Tapi Ten semestinya mengabaikan mimpi itu sekaligus perasaan tak nyamannya.
Ada yang lebih penting untuk diurusi. Pekerjaannya.
Usai mandi dan berpenampilan layaknya wanita dewasa berusia 30-an yang memiliki kedudukan cukup tinggi di sebuah perusahaan besar, Ten telah duduk di meja makan bersama ibunya untuk sarapan bersama. Mereka saling berhadapan.
"Pak Sawabe mengubah jadwal pertemuan kemarin dengan hari ini kan?" Tanya ibunya.
Ten mengalihkan kegiatan makannya sesaat, "Ya. Saat jam makan siang nanti." Lalu kembali menyantap sarapannya.
"Kuharap dia bisa menjadi investor perusahaan kita di Taiwan berikutnya." Ujar ibunya. "Perusahaannya sukses di pasaran China dan Taiwan. Bahkan sukses di Asia Tengara."
"Ibu tenang saja. Aku bisa melakukannya." Sahut Ten.
Ibu Ten tersenyum bangga. "Ya, Ibu tahu. Kau memang bisa diandalkan. Perusahaan kita berkembang pesat karena campur tanganmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Freedom
FanfictionTen membuat perjanjian pada Karin, bila Karin berhasil membuatnya masuk ke peringkat 10 besar seangkatan, ia akan membayar 5 juta yen pada gadis itu. Tetapi bila gagal, Karin harus keluar dari SMA Sakurazaka. Semenjak perjanjian itu diresmikan, Ten...
