Belum juga memasuki lorong menuju pintu depan, tangan Karin terlepas dari Ten. Kepala Karin tertarik ke belakang dan tahu-tahu tubuhnya sudah terseret mundur di lantai.
"Mau kabur beneran, huh?"
Ten berbalik dan memandang kejadian itu dengan amarah yang meledak. Ten pun berusaha melepaskan jambakan Risa dari rambut Karin. Namun perlawanan Risa jauh lebih kuat dan Ten sempat terhempas ke dinding.
Risa sempat menendang perut Karin sekali, sebelum menarik badannya untuk berdiri dan mendorongnya hingga keningnya membentur sudut meja sampai terluka. Karin pun tergeletak tak berdaya di lantai.
Ten berlutut dengan panik di samping Karin, berusaha membangunkan gadis itu. Akan tetapi, rambut panjangnya ditarik Risa, membuat wajahnya menengadah dan tubuhnya ikut terseret.
Rasanya sakit sekali, seakan kulit kepalanya hendak terlepas dari tengkorak kepalanya.
"Rambut panjangmu ini enak sekali dijambak." Kata Risa, sembari terkekeh ngeri.
"Sialan! Hentikan, jalang psikopat!" Ringis Ten.
Risa pun melepaskan jambakannya dan membiarkan Ten terbaring di lantai.
Tak sampai di situ saja, Risa duduk di perut Ten yang hendak meronta. Risa dengan sigap memukul wajah Ten dengan tangan kanan terkepal.
Rasanya giginya akan rontok jika Risa sekali lagi memukul wajahnya dengan keras.
"Sudah sangat lama aku ingin menghajarmu, kau tahu?" Kata Risa, memukul wajah gadis itu sekali lagi. "Kau itu sangat berani mengambil milik orang lain ... " Lalu ia memukul gadis itu lagi.
Risa menghela napas kesal.
"Daripada membunuh kekasihku, akan jauh lebih baik bila aku membunuhmu, kan, Yamasaki Ten?"
Sekarang Ten tahu rasanya menjadi Karin saat dipukuli wanita itu. Rasanya, lebih baik ia mati mendadak ketimbang dipukul gila-gilaan seperti ini ...
Bagaimana bisa Karin bertahan sejauh ini?
Ten yang sedari tadi sudah melawan akhirnya pasrah. Ia mencium aroma amis yang kemungkinan dari dirinya. Kepalan tangan wanita itu juga terdapat cairan merah.
Sekali lagi menerima pukulan, mungkin Ten akan pingsan. Atau lebih buruknya ia mati.
Ia sudah memejamkan mata, namun ia mendengar jeritan Risa. Ia membuka mata dan segera mengangkat punggungnya dengan susah payah sembari memandangi tali kabel dari lampu hias melilit leher Risa.
Di belakang Risa, ada Karin yang susah payah mengencangkan tali kabel itu.
Sempat kendur dari leher Risa yang berusaha melawan dengan kedua tangannya, Ten dengan sigap mengambil satu kabel dari tangan Karin dan menariknya bersama-sama.
Kabel tersebut semakin mencekik Risa hingga wanita itu kehilangan napasnya membuat tubuhnya semakin tak berdaya.
Wanita itu terjerembap di lantai saat tangan mereka melepaskan kabel tersebut.
Ten dan Karin saling berpandangan, lalu mengecek keadaan Risa.
Mata wanita itu melotot. Tidak ada napas dari hidungnya. Tubuhnya perlahan dingin dan kaku.
"Dia mati." Ucap Ten, lalu memandang Karin.
Karin tidak berkata-kata, tapi wajahnya kacau. Wajah Ten juga jauh lebih kacau.
Mereka terdiam cukup lama di tempat seakan mencerna segalanya.
Kami sudah membunuh seseorang. Pikiran Ten berkecambuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Freedom
FanficTen membuat perjanjian pada Karin, bila Karin berhasil membuatnya masuk ke peringkat 10 besar seangkatan, ia akan membayar 5 juta yen pada gadis itu. Tetapi bila gagal, Karin harus keluar dari SMA Sakurazaka. Semenjak perjanjian itu diresmikan, Ten...
