Situasi sekitar yang tumpang tindih membuatnya pingsan.
Ia berpikir akan terbangun di sel penjara. Tapi ia terbangun di sebuah bangsal rumah sakit.
Sebagian bangsal kosong dan bangsalnya berada di ujung. Tampak petugas kesehatan sibuk mengurus pasien-pasien darurat.
"Oh ... sudah sadar? Maaf karena sudah membangunkanmu."
Hampir di ujung bangsal ada seorang wanita berjas putih. Rambut cokelat sebahunya diikat ekor kuda. Wanita itu tersenyum sesaat pada Karin sebelum kembali memperban luka jahitan di telapak tangan Karin.
Karin meringis, merasakan nyeri di telapak tangannya yang sempat terluka karena serpihan kaca botol sake.
"Sakit ya? Tidak apa-apa. Ini hanya sementara." Ucap wanita itu. Lalu ia menghela napas sembari berpindah membersihkan luka di lutut Karin dan ia mulai berbicara sendiri. "Sebenarnya ini bukan departemenku, tapi aku tidak bisa tidak membantu departemen ini yang selalu ramai pasien darurat tiap malam."
"Maaf." Gumam Karin.
"Kok jadi kau yang minta maaf?" Wanita itu terkekeh. "Aduh... aku tak menyalahkanmu kok."
Tak lama dua orang pria yang ternyata petugas polisi datang menghampirinya.
Karin seketika merasa takut hingga ujung jemarinya terasa dingin. Ia tahu alasan dua orang itu mendatanginya, ini karena ia membunuh ayahnya.
"Fujiyoshi-san, mari kita bicara mengenai kematian ayahmu beberapa jam lalu."
Polisi itu ingin menginterogasinya di tempat. Karin sangat gugup dan ia tidak bisa bersuara.
"Agar semua ini cepat selesai, bicaralah Fujiyoshi. Apa yang terjadi sampai ayahmu terbunuh?" Desak polisi lainnya.
"Maaf aku menyela, tapi bisakah kau memberinya waktu untuk beristirahat?" Sela sang dokter di antara mereka. "Aku pikir kalian bisa mengajaknya berbicara di kantor polisi besok setelah dia lebih mendingan. Dia masih syok dan perlu beristirahat yang cukup."
Kedua polisi itu tampak setuju, lalu meninggalkan mereka.
Rasa gugup meluntur, tapi bukan berarti ia tidak merasa takut. Besok ia harus menyatakan kebenaran dan akan dihakimi. Ia seketika khawatir hingga air matanya meleleh.
Ia ingin kabur, tapi tak tahu ke mana. Ia tidak punya keluarga yang membelanya dan polisi pasti sedang berjaga di luar ruangan ini.
"Tenang saja, jangan khawatir." Kata dokter itu.
Karin menatap wanita itu dengan banjir air mata dan wanita itu tersenyum hangat.
"Aku akan menolongmu." Ucapnya.
Sebenarnya Karin tidak percaya akan omongan dokter itu. Masalah yang dihadapinya tidak sesederhana yang dipikirkan oleh sang dokter. Lagipula mereka juga orang asing, memangnya ada orang yang mau menolongnya secara cuma-cuma?
Tapi apa yang dipikirkan Karin salah. Dokter muda bernama Watanabe Risa itu membuatnya tidak bersalah saat di pengadilan. Bahkan Karin tidak dibiarkan masuk ke ruang pengadilan agar ia tidak panik melihat para hakim, para jaksa, dan para penonton.
Karena dokter itu, Karin tidak diadili. Ayahnya tidak dinyatakan korban dan Karin adalah korban sebenarnya.
"Kau yakin tidak ingin tinggal denganku?" Risa mengatakan kembali tawarannya.
Karin menggangguk dengan perasaan sangat ringan dari sebelum-sebelumnya. Ia sekarang tinggal di sebuah panti asuhan. Banyak anak-anak seumurannya yang senang mengajaknya bermain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Freedom
FanfictionTen membuat perjanjian pada Karin, bila Karin berhasil membuatnya masuk ke peringkat 10 besar seangkatan, ia akan membayar 5 juta yen pada gadis itu. Tetapi bila gagal, Karin harus keluar dari SMA Sakurazaka. Semenjak perjanjian itu diresmikan, Ten...
