19

116 11 0
                                        

Restoran itu cukup penuh dan Ten tidak bisa berlama-lama berada di sana setelah ia menghabiskan makanannya. Maka Ten berdiri cukup lama di depan restoran sembari mondar-mandir hingga restoran itu sepi dan para karyawannya berkemas.

Beberapa kali pandangan Ten terlempar ke kaca restoran, menangkap sosok wanita berambut pirang yang ikut meliriknya sekilas.

Lampu restoran telah dipadamkan, 5 karyawan telah keluar bersama wanita berambut pirang itu.

Ten segera menegapkan punggungnya dari dinding saat wanita itu berhadapan dengannya. Mereka kembali bertatapan dan Ten seketika tidak tahu mau berbicara apa.

Wanita itu mendengus. Tampak mengeluh.

"Kau gila atau apa menungguku 3 jam di sini?"

"3 jam bukan apa-apa daripada 15 tahun." Ten menjawab spontan.

Lalu beberapa teman wanita itu yang tampak lebih tua terlihat penasaran sambil berbicara bahasa lokal yang sedikit dimengerti Ten.

"Aku sudah lama tidak mendengarmu berbicara bahasa Jepang, Karin."

"Sepertinya kalian berteman dekat."

Karin tidak menyahut, tapi wajahnya menunjukkan ketidaksukaannya. Tangan Ten pun ditarik wanita itu dan mereka masuk ke dalam sebuah gang yang sepi.

Kembali berhadapan, Ten yang memang telah dilingkupi rasa rindu tersenyum. Tangannya spontan menyentuh puncak kepala Karin. Tapi Karin segera menjauhkan tangan Ten dan mundur selangkah. Ten pun menarik tangannya dengan rasa kecewa, namun senyumnya tidak pudar.

"Aku tak pernah kepikiran kalau rambut pirang cocok untukmu. Kau berubah sekali ya?" Ujar Ten.

"Aku tak mau lama-lama bicara denganmu, Ten." Balas Karin, tak mau berbasa-basi. "Aku tak peduli sejauh mana usahamu mencariku--"

"Aku tidak mencarimu." Potong Ten. "Aku hanya kebetulan mampir ke sini. Ini kan jelas takdir."

"Yah apa pun itu. Tapi tolong jangan datang kemari lagi. Aku sudah melupakan semuanya."

Kening Ten yang tak tertutup poni tampak mengkerut.

"Mengerti kan?" Karin berkata dengan penuh penekanan.

"Mari bicara lagi dan sedikit lebih lama." Ajak Ten.

Karin mendengus kesal, lalu berbalik badan tampak tak peduli.

"Aku bakal datang lagi sampai kau mau berbicara denganku." Ujar Ten.

.

Ini sudah malam ketiga Ten mendatangi restoran tempat Karin bekerja.

Karin merasa muak melihat Ten tersenyum sumringah, tapi ia juga tidak bisa lari dari tanggung jawabnya di kasir.

Ia sampai menghentak nampan berisi pesanan Ten di meja makan tanpa ia sadari.

"Pelayananmu sangat tidak ramah." Komentar Ten dengan santai.

"Aku hanya menjaga kasir. Tidak pernah mengantarkan pesanan orang. Jadi jangan aneh-aneh permintaanmu itu." Kesal Karin.

Saat membayar pesanannya tadi, Ten malah meminta Karin mengantarkan pesanannya dan tidak mau orang lain. Pemilik restoran yang kebetulan tak jauh dari mereka berdebat malah setuju. Jadi Karin tidak bisa berbuat apa-apa.

"Mungkin aku akan beri bintang satu dan berkomentar bahwa pelayanannya tidak ramah di internet soal restoran ini, bagaimana?"

"Kau mengancamku?"

FreedomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang