Kening Ten mengkerut dalam setelah mendengar apa yang disampaikan Matsuda--wali kelasnya--saat ia dipanggil di ruang konseling.
"Aku merisak Karin?" Ten memastikan pendengarannya.
Matsuda menghela napas sambil mengangkat bahu.
"Entahlah. Walinya mengadu padaku kalau kau yang membuat wajah Fujiyoshi terluka. Kupikir hubungan kalian baik-baik saja."
"Nyatanya kan memang begitu! Kami baik-baik saja kok." Kesal Ten. "Kalau tidak percaya tanya saja pada Karin langsung!"
"Fujiyoshi juga mengakuinya." Sahut Matsuda. "Selama ini kau mengancamnya, katanya begitu."
Ten terdiam.
"Sebenarnya aku ingin wali kalian bertemu, tapi wali Fujiyoshi tidak mau memperpanjang ini semua dengan syarat kalau kau harus pindah kelas. Hanya saja ... " Sekali lagi Matsuda mendengus sesal. "Ibumu pasti marah besar kalau aku tiba-tiba memindahkanmu ke kelas lain tanpa alasan yang jelas. Tapi pastinya dia jauh lebih marah jika aku memberikan alasan soal perisakan yang kau lakukan. Jadi, kami mengambil jalan tengah, kau harus memutuskan interaksimu dengan Fujiyoshi dan menjaga jarak. Lalu saat kenaikan kelas nanti, kalian dipastikan tidak akan sekelas."
.
Saat jam pelajaran Sejarah berlangsung, Karin mengangkat tangannya untuk izin ke toilet. Selang beberapa menit, Ten mengangkat tangannya dan pergi ke toilet.
Di sana, Karin sedang mencuci tangannya di wastafel. Gadis itu tahu keberadaan Ten yang mendekat dan akhirnya berhenti di sampingnya, namun Karin tidak melirik Ten sama sekali.
"Wanita itu keterlaluan." Keluh Ten. "Dia benar-benar membuatku seperti tukang bully."
"Itu baru ancaman kecil." Sahut Karin, akhirnya melirik sekilas Ten dari cermin.
"Memangnya ada yang lebih besar dari ini?" Ucap Ten, jengkel. "Dasar wanita sinting!"
Karin mengangkat bahu. Ia mematikan keran, lalu mengelap tangan dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari saku roknya.
"Aku akan memastikan tidak ada hal yang terjadi padamu, Ten. Selama kita membatasi interaksi." Kata Karin, kini berhadapan dengan Ten. "Semua orang di sekolah mulai memperhatikan kita dan akan terlihat juga dengan wanita itu."
"Sampai kapan kita begini?" Tanya Ten terdengar putus asa.
Karin hanya mengangkat bahu.
Hendak berlalu, lengan Karin ditahan Ten. Ia pun tak jadi melangkah dan kembali menatap Ten.
"Kau tak kangen merokok denganku di gedung belakang sekolah?" Tanya Ten.
"Tapi, tidak bisa kan?"
"Sebentar saja. Sekarang."
"Bakal ketahuan kalau aku yang membolos, Ten."
"Aku mohon."
Dengan perasaan berat Karin menurunkan tangan Ten dari lengannya. Tapi ia tidak melepaskan tangan itu, ia menggenggam dan mengusapnya dalam beberapa detik sebelum melepaskannya. Lalu Karin keluar dari toilet.
Ten menyugar rambutnya dengan rasa frustasi.
Sebentar lagi ujian kenaikan kelas tiga. Ten tak khawatir bila Karin tidak lagi membantunya belajar selama menjadi murid kelas tiga, tetapi ia khawatir bahwa ia dan Karin akan menjadi asing.
KAMU SEDANG MEMBACA
Freedom
FanfictionTen membuat perjanjian pada Karin, bila Karin berhasil membuatnya masuk ke peringkat 10 besar seangkatan, ia akan membayar 5 juta yen pada gadis itu. Tetapi bila gagal, Karin harus keluar dari SMA Sakurazaka. Semenjak perjanjian itu diresmikan, Ten...
