15

93 18 0
                                        

Ten selalu sampai di rumahnya saat hari sudah gelap.

Walau tiap pulang sekolah ia tidak bersama Karin lagi, tapi Ten menyibukkan dirinya dengan belajar sendiri di perpustakaan untuk menyambut ujian kenaikan kelas sebelum menghabiskan sebatang rokok di bawah jembatan.

Masuk ke dalam rumah, ia dapati ibunya duduk di kursi meja makan. Sebelah alis Ten naik, tidak ada hidangan makan malam, yang ada hanya kamus Bahasa Jerman miliknya di sana. Raut wajah ibunya seakan sedang bergelut dalam pikiran, begitu serius.

"Jadi, malam ini menu makan malamnya Bahasa Jerman?" Tegur Ten. "Padahal Senin nanti jadwalku ujian Matematika dan Bahasa Jepang."

Teguran Ten bagaikan angin lalu bagi ibunya. Wanita itu membuka halaman tengah kamus, terdapat sebuah lembar dari photobox.

Mata Ten membulat. Ia baru ingat, ada sebuah foto yang ia simpan di sana agar ibunya tidak tahu. Ten dengan sigap mengambil kamus itu dan menutupnya.

Jantung Ten seketika berdetak kencang. Ia merasa panik sekaligus gugup.

"Kau bisa menjelaskan semuanya?" Tanya ibunya, semakin serius.

Foto itu berisi beberapa pose dirinya dengan Karin di sebuah photobox. Mereka saat itu sedang berkencan. Dan di antara pose-pose yang tampak sangat dekat, mereka terabadi sedang berciuman sebanyak dua kali.

Sudah jelas mengarah ke mana pembicaraan ibunya.

Tapi bagaimana ibunya bisa tahu? Tidak mungkin kan secara kebetulan mengambil kamus Bahasa Jerman miliknya dan menemukan foto itu? Ibunya kan sudah lancar Bahasa Jerman.

Bukannya menjawab, Ten segera naik ke lantai dua. Pintu kamarnya sudah terbuka lebar. Ia ingat, terakhir ia meninggalkan kamar pintunya tertutup rapat.

Saat memasuki kamarnya, ruangan itu berantakan. Buku-buku pelajarannya berserakan dan lemari hingga lacinya terbuka. Bahkan lembar perjanjiannya dengan Karin yang terletak di atas kasur tampak ronyok.

Ten merasa berang. Ia berbalik badan, ibunya berada di ambang pintu.

"Apa-apa'an Ibu ini?! Bukankah sudah keterlaluan hingga privasiku diganggu?" Marah Ten.

"Kau yang keterlaluan, Ten. Kau tak sadar atas apa yang kau lakukan bersama Karin?!" Marah balik ibunya.

"Memangnya kenapa? Ibu tidak terima kalau putrimu menyukai perempuan?" Balas Ten.

Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Ten. Rasanya sakit, tapi rasa sakit itu semakin kentara karena ia tak menyangka bahwa ibunya bisa memukulnya.

Air mata seketika lolos dari kelopak matanya sembari mengusap pipinya.

"Kau tahu kan, Ten, Ibu tidak menyukai perbuatan semacam itu. Kau mengecewakan Ibu, sama seperti ayahmu."

"Dan lagi-lagi membawa Ayah ... Memangnya Ibu sendiri tidak mengecewakan? Sudah berapa kali Ibu mengecewakan aku karena janji-janji Ibu? Berapa kali aku kecewa karena hal-hal yang kuinginkan tidak pernah dikabulkan Ibu karena tidak sesuai dengan keinginan Ibu. Dan sekarang ... Ibu mulai mengurusi hubunganku."

"Karena semua pilihanmu itu salah, Ten! Sadarlah! Ibu akan memaafkanmu. Jadi berhenti berhubungan dengan anak itu dan bersikap baiklah selama menjadi murid kelas 3 nantinya karena semua itu berpengaruh untuk masuk ke perguruan tinggi."

"Aku berjanji akan masuk ke universitas terbaik, tapi aku tidak bisa berhenti menyukai Karin. Kali ini aku tak mau menyerah."

"Ten?!"

"Aku tidak bisa, Ibu! Aku mohon ... "

Ibunya memandang Ten begitu kesal.

"Kalau itu pilihanmu, jangan pernah terlihat di hadapan Ibu lagi."

FreedomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang