"Sepertinya tas itu tampak berat. Biar aku saja yang bawa." Tawar ayahnya Ten melihat tas cokelat yang tergeletak di samping kaki Karin.
Ayah Ten hendak menggapai tali tas tersebut, namun ia terdiam memperhatikan sedikit isi tas yang resletingnya tidak tertutup sempurna. Karin yang sadar atas keteledorannya, buru-buru merapatkan resleting dan menggenggam tali tas.
"Tidak apa-apa, Paman. Aku bisa kok." Tolak Karin.
Karin dan pria itu saling berpandangan dalam beberapa detik sebelum Ten bersuara dengan riang.
"Biar ayahku saja yang membawanya, Karin." Katanya. "Tasnya kan memang berat."
Sesal Karin karena lupa merapatkan resleting tasnya setelah ia mengambil uang untuk membayar taksi tadi.
Tas itu pun sudah berpindah tangan ke pria itu dan membawanya ke dalam rumah.
"Ada tiga kamar di sini. Satu kamarku. Sisanya kamar tamu, mungkin harus dibersihkan sedikit. Jadi, kalian mau sekamar atau masing-masing kamar?" Tanya pria itu.
"Sekamar saja." Jawab mereka serentak.
Ten tersenyum girang, sementara Karin mengulas senyum tak nyaman.
Maka tas cokelat itu telah diletakkan ayah Ten di atas meja di sebuah kamar dekat dapur.
.
Sebenarnya Karin juga ingin membantu memasak, namun sejak tadi matanya tak berhenti memandang ornamen di sekeliling ruangan dengan penuh nuansa kayu itu.
Ada kepala rusa dan kulitnya yang menempel di dinding ruang keluarga. Ada sebuah senapan juga yang menggantung di dekat sana. Lalu, ada sebuah kapak besar menggantung di dinding ruang makan.
Melihat ayah Ten yang tinggal di wilayah dekat hutan, apa kemungkinan ayah Ten senang memburu binatang liar?
Pikir Karin.
"Itu asli loh."
Karin menoleh, Ten sudah berdiri di sampingnya, turut memandang kepala rusa yang masih memiliki tanduk.
"Benarkah?" Karin memastikan.
"Ya." Sahut Ten, mantap. "Ayah memburu 2 rusa saat aku masih SD. Itu yang satunya, pernah dipajang di rumah ibuku. Yang satunya mungkin sudah ayah jual."
"Ya, sudah Ayah jual dan dibeli oleh orang kaya Amerika." Ayah Ten nimbrung sembari meletakkan hidangan makan malam di atas meja makan. "Mari makan malam sembari mengobrol."
Sembari berjalan menuju meja makan, Ten berbisik ke telinga Karin.
"Senapan itu ... " Ten menunjuk sebuah senapan yang terpajang. "Aku bisa memakainya dan kuyakin ada peluru di sana."
Karin yakin Ten sedang membohonginya.
Mereka pun mengelilingi meja makan.
"Ceritakan pada Ayah, bagaimana kau bisa kabur dari rumah?" Ayah Ten membuka obrolan di sela kegiatan makan mereka.
"Ibu selalu membatasi semua keinginanku. Jadi aku memutuskan untuk pergi dari rumah." Sahut Ten.
"Ibumu tidak akan segampang itu membiarkanmu kabur, Ten. Apalagi sedang masa ujian kenaikan kelas." Lalu Ayah Ten memandang Karin yang menunduk sembari menyantap makanannya. "Kau juga membawa temanmu."
Merasa terpanggil, Karin mengangkat pandangannya pada Ayah Ten, lalu pada Ten sebentar sebelum kembali dengan makanannya.
"Dia juga kabur, Ayah." Jawab Ten.
KAMU SEDANG MEMBACA
Freedom
FanfictionTen membuat perjanjian pada Karin, bila Karin berhasil membuatnya masuk ke peringkat 10 besar seangkatan, ia akan membayar 5 juta yen pada gadis itu. Tetapi bila gagal, Karin harus keluar dari SMA Sakurazaka. Semenjak perjanjian itu diresmikan, Ten...
