Maulana memilih kemaja biru dan jas putih, setelah selesai memakai dasi ia memutar tubuh berjalan mendekati Fira.
"Istriku, kamu mau ganti baju dengan busana muslim atau Mas ajak kamu mencari pahala terbesar setelah menikah?"
Fira mengerutkan kening."Apa itu?"
Maulana memajukan wajahnya, mendekatkan bibir di telinga Fira lalu berbisik,"Bercinta dengan Mas di atas tempat tidur."
Wajah Fira langsung memerah karena malu, ia menggerakkan tangan mendorong dada sang Suami.
Matanya melotot galak dengan ekspresi jengkel."Mas mesum sekali! Siapa juga yang mau melakukan itu?!"
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Fira sedikit menyesal saat memperhatikan tubuh Maulana dari ujung kaki hingga ujung kepala, tubuh tinggi tegap dengan tubuh tanpa lemak.
Maulana juga memiliki kulit putih bersih dan paras tampan, hidung mancung serta warna bibir merah alami.
Maulana terkekeh mendapatkan penolakan dari Istrinya, ia semakin tersenyum menggoda melihat ekspresi wajah gadis itu seperti menyesal.
"Jadi bagaimana, Sayang?" Maulana mengedipkan mata genit.
"Iya, iya! Aku ganti baju sekarang! Wanita itu bebas memakai baju seksi, kenapa aku tidak?! Mas suka kan kalau digoda oleh wanita itu?!" Fira berjalan melewati sang Suami, ia berjalan ke arah lemari baju, membuka lemari tersebut dan mengambil setelah baju warna biru.
Fira kembali berjalan mendekati Maulana setelah mengganti bajunya dengan busana muslim."Aku ingin kerja di perusahaan Mizuruky."
Maulana menaikkan sebelah alis, Fira masih kuliah semester 1 dan ingin kerja di perusahaan Mizuruky, salah satu syarat kerja di perusahaan Mizuruky adalah Sarjana bukan lulusan SMA.
Fira mengerutkan kening melihat ekspresi sang Suami."Kenapa?"
"Sayang, lebih baik kamu kuliah saja. Mas angtarkan kamu pergi ke kampus." Maulana meraih bahu sang Istri, merangkulnya dan membawanya keluar dari kamar.
"Setelah selesai kuliah, Mas akan jemput kamu dan membawa mu ke Mension Mizuruky." Maulana mengangkat tangan lalu memutar kenop pintu rumah.
"Mension Mizuruky?" Fira ingat itu adalah hunian mewah bagai Istana, rumah bergaya Eropa dengan lantai 27 tingkat.
Rumah seperti ini biasa dimiliki oleh bangsawan Eropa seperti Perancis, Amerika atau seorang Miliader, namun jika ada rumah seperti ini di Indonesia artinya sangat aneh.
Maulana mengangguk, ia kembali menutup pintu rumah dan menguncinya."Nanti Mas akan kembalikan rumah ini pada pemiliknya."
Maulana memainkan kunci rumah kontrakan itu lalu merangkul sang Istri mendekati mobil Limosin hitam yang telah siap di jalan berpaving.
Fira terdiam melihat deretan mobil di jalan berpaving di depan rumahnya, tidak ada satu pun mobil kelas menengah ke bawah, semua mobil berkelas atas.
Seorang supir membukakan pintu mobil untuk Maulana dan Fira, supir itu berdiri tegap memegangi pintu.
Maulana menoleh pada Fira, gadis itu masih berdiri tidak jauh dari mobil tanpa melakukan apapun, hanya diam seperti patung.
Maulana menggelengkan kepala, ia memutar tubuh lalu berjalan mendekati sang Istri."Sayang, kenapa diam saja?"
Dengan gerakan kaku, Fira mendongakkan pandangan menatap sang Suami."Ini semua mobil dari mana, Mas?"
Sudut bibir Maulana sedikit berkedut, segitu tidak percayakah gadis itu pada dirinya?
"Mobil dari Mension Mizuruky, Sayang. Ayo kamu masuk dulu." Maulana mengangkat tangan melihat pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 7:30, 30 menit lagi dirinya ada meeting di kantor Mizuruky.
Fira mengangguk, ia kembali berjalan dan masuk ke dalam mobil Limosin tersebut.
Maulana ikut masuk ke dalam mobil setelah sang Istri duduk dengan nyaman di dalamnya, ia menyandarkan kepala di kursi sejenak saat rasa nyeri menyerang.
Fira menoleh pada sang Suami, pria itu nampak pucat tidak seperti biasanya."Mas kenapa?"
Maulana menoleh pada Fira, ia tersenyum lembut dan berkata,"Tidak apa, hanya sakit kepala saja."
"Mas sakit kangker?" tanya Fira dengan kalimat nada lebih serius.
"Astaghfirullah, kenapa kamu dan Rumina sama-sama mendoakan yang tidak baik padaku?" Maulana berbicara dengan suara lemah.
"Aku tidak mendoakan Mas." Fira menyangkal ucapan Suaminya.
"Kalau begitu, tadi bilang apa?" Maulana mengalihkan perhatian ke arah lain.
Fira memutar kepala ke arah lain."Bukan begitu..." Katanya lirih.
Maulana memerintahkan supir untuk melajukan mobil.
Mobil Limosin hitam yang elegan dan mewah melaju dengan kecepatan yang stabil di jalan berpaving yang sederhana. Ketika mobil tersebut meninggalkan jalan, debu dan kerikil kecil berhamburan ke udara, meninggalkan jejak yang jelas di jalan yang sederhana.
Fira memperhatikan jalan raya, ia tahu ini adalah jalan menuju kampung tempat dirinya nempuh pendidikan gelar sarjana, namun ada perasaan aneh saat melewati tempat ini.
Fira menoleh ke samping, terlihat Maulana fokus dengan map biru di tangannya, ia tidak tahu apa isinya.
"Mas."
"Hm." Maulana tidak menoleh pada sang Istri, ia sibuk memeriksa laporan kantor.
"Mas tidak merasa ada yang aneh dengan tempat ini?" Perasaan Fira semakin tidak nyaman.
Maulana menutup map warna biru di tangannya, menaruh map tersebut di pangkuannya.
Maulana memandang jalan di depan melalui kaca mobil, jalanan memang sedikit sepi tapi itu bukan hal aneh, kecuali Istrinya ketakutan.
Maulana menggerakkan tangan meraih pinggang sang Istri lalu menariknya lebih mendekat padanya."Tidak ada yang aneh, Sayang. Hanya sedikit sepi saja."
Jantung Fira berdebar lebih cepat saat tubuhnya bersentuhan dengan sang Suami, saat tidur satu ranjang pun seperti itu.
Fira gugup meski biasanya tidak seperti ini, perlahan kelopak mata kecoklatan itu terangkat memandang sosok pria tampan di sampingnya.
Ada rasa aneh dalam dada, perasaan ingin menyentuh dan membelai pipi putih tersebut.
Maulana menggerakkan tangan meraih tangan sang Istri lalu meletakkan telapak tangan gadis itu di pipinya."Mau sentuh ya sentuh saja, Sayang."
Mata Fira membulat karena ternyata Maulana menyadari keinginan samar dalam hati.
Maulana menurunkan pandangan matanya, tersenyum lembut menatap sang Istri."Apakah senang?"
Tanpa sadar Fira mengangguk, namun segera menggeleng cepat saat menyadari apa yang dilakukan terasa memalukan.
Fira menggeser tubuh menjauh dari sang Suami, ia memalingkan muka menghindari tatapan matanya.
Fira mengangkat tangan menyentuh dadanya, perasaan cemas dan panik saat merasakan debaran lebih cepat di jantung dengan tubuh terasa panas sedangkan suhu tubuhnya normal.
"Bawa aku ke rumah sakit."
Maulana terkejut, ia menoleh pada sang Istri, menggeser tubuh lebih dekat dengan gadis itu.
"Sayang, kamu sakit?"
Fira mengangguk, Maulana meraih bahu gadis itu lalu mendekatkan padanya, memeluknya erat."Kerumah sakit sekarang."
"Tapi, Pak. Sekarang Anda ada meeting dengan CEO perusahaan Cinta Abadi." Supir sekaligus asisten Maulana mengingatkan.
"Itu bisa ditunda, kesehatan Istri ku jauh lebih penting." Suara Maulana lebih berat dan serius.
Supir itu mengangguk, ia segera memutar kemudi ke arah rumah sakit terdekat.
Fira diam tidak mengatakan apapun, jantungnya semakin tidak beraturan apalagi saat pria itu semakin memeluknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terimakasih Imamku
RomantikFiranda Firdaus dipaksa menikah dengan Ivan Maulana Rizky untuk menutupi aib keluarga, gadis 18 tahun kehilangan mahkota setelah dua malam tidak pulang bersama pacarnya
