Diam dengan tatapan mata kaku melihat sosok pria paruh baya duduk di meja kerja dengan tatapan aneh terhadap dirinya.
Pria yang merupakan Direktur Finance itu menggulirkan pandangan ke arah Maulana, ia mengangguk mengerti saat menerima isyarat dari pria itu.
Direktur Finance bernama Hernandez itu bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati Fira, dengan senyum ramah di wajahnya.
"Nyonya Muda, apakah Anda ingin ke kantin?"
Fira mengangguk, ia mengangkat tangan lalu menunjuk arah lain dengan gerakan kaku, namun tetap saja arah yang ditunjuk itu salah.
Hernandes mengikuti arah telunjuk Fira, itu adalah arah ruang kerja pegawai biasa.
"Sayang, kantin bukan di sini."
Fira mengerutkan kening mendengar suara Maulana, ia pun memutar kepala ke arah belakang, ternyata di belakangnya benar-benar ada Suaminya.
Tiba-tiba saja Fira merasa senang, ia pun memutar tubuh lalu memeluk tubuh tinggi tegap itu dengan senyum senang.
"Mas, aku senang sekali bisa melihat Mas lagi."
Maulana menurunkan pandangan pada Fira, lalu membalas pelukan gadis itu.
"Kenapa Istriku? Kamu lapar?"
Kalau saja pria itu tidak mendengar ucapan Fira pada Andrian, ia tidak akan bisa selembut ini pada sang Istri.
Fira mengangguk, ia semakin mengeratkan pelukannya terhadap sang Suami, rasa lega muncul dalam hati saat mendapatkan balasan dari pria tersebut.
"Baiklah, ayo Mas temani kamu ke kantin." Maulana melepaskan pelukannya lalu merangkul bahu gadis itu dan membawanya pergi.
Hernandes menghembuskan nafas lega melihat pemilik perusahaan akhirnya pergi, setelah sempat tadi tegang.
Fira memperhatikan para pegawai dari kelas rendah hingga memiliki jabatan, mereka semua terlihat begitu segan dan hormat terhadap sang Suami.
Gadis itu menunduk, merasakan perasaan tidak nyaman, memeluk lengan pria yang menjadi Suami bukan karena cinta melainkan demi kedudukan dan nama baik di depan banyak orang, sejatinya hanya Andrian yang paling disayang.
Fira sedikit bingung ketika tiba-tiba Maulana berhenti, ia pun mengangkat kepala mendongakkan pandangan ke arah sang Suami.
Matanya terbelalak melihat pria itu berusaha menutupi hidungnya mancung, cairan merah kental merembes dari balik sela-sela jarinya.
"Mas, Mas kenapa?"
Maulana memiringkan sedikit kepala, menggelengkan kepala menjawab pertanyaan sang Istri."Mas tidak tahu, Sayang. Tiba -tiba saja Mas mimisan."
Fira panik melihat darah itu terus mengalir seakan tidak bisa dihentikan, ia hendak melepas kain kerudungnya namun ditahan oleh tangan Maulana.
"Jangan, Sayang. Mas ke toilet sebentar, kantin ada di ujung sana." Maulana masih sempat menunjukkan arah kantin.
Fira mengangguk namun tidak segera pergi, gadis itu memperhatikan punggung tegap sang Suami, perlahan punggung itu menghilang di balik dinding.
"Dia kenapa?"
Fira tidak mengerti dengan perasaan sendiri, ia melangkahkan kaki dengan perasaan gunda.
Dalam hati masih mencintai Andrian, tapi tidak ingin bersama pria itu karena punya Suami yang lebih segalanya.
Seandainya saja semua harta serta kedudukan Suaminya itu milik Andrian, sudah pasti dia akan sangat senang dan bangga mengumumkan Andrian sebagai kekasihnya.
Sementara itu...
Andrian duduk di salah satu anak tangga belakang gedung perusahaan, kesal dan merasa bersalah karena tidak mampu melamar Fira pada orang tua gadis itu, sekarang kekasihnya itu sudah memiliki suami, dulu dirinya sibuk selingkuh hingga tidak menyadari bahwa orang yang paling disayang telah bersama pria lain.
"Ada apa?"
Seorang gadis cantik juga mengenakan seragam OB ikut duduk di samping Andrian, ia memiringkan kepala menatap pria itu heran, tidak biasanya rekan kerjanya berubah murung seperti itu.
"Aku pernah dicintai oleh seorang gadis, tapi aku selalu selingkuh darinya. Sekarang dia sudah menikah dengan pria lain, entah kenapa aku merasa sangat menyesal." Andrian menundukkan kepala, kalau diingat kembali bagaimana dulu Fira sangat manja padanya serta posesif, kini wanita itu telah bersama pria lain.
Gadis di samping Andrian mengalihkan perhatian ke depan, ia tersenyum tipis menertawakan sikap Andrian, pria zaman sekarang memang jarang ada yang setia, tapi setelah kehilangan baru menyesal.
"Penyesalan memang selalu datang belakangan, ya ..." Gadis itu perlahan bangkit dari duduknya, tersenyum mengejek pada sikap Andrian.
"Itulah kenapa aku tidak suka pada seorang pria, mereka selalu selingkuh dan tidak pernah setia."
Dahi Andrian mengerut mendengar ucapan gadis itu, ia tidak terima begitu saja kalau satu pria melakukan kesalahan maka semua dipukul secara merata.
Ia pun bangkit dari tempat duduknya lalu menoleh pada gadis itu."Tidak semua pria seperti itu, Siska. Hanya aku saja yang memang tidak baik pada Fira, aku terlalu berharap banyak. Aku tidak pernah bersyukur memiliki seorang seperti Fira, sekarang akhirnya Fira bersama yang lebih baik dari ku."
Dahi Siska berkerut mendengar nama wanita yang disebut, ia pernah mendengar nama wanita itu adalah Istri pemilik perusahaan Mizuruky.
Siska menoleh pada Andrian untuk memastikan bahwa wanita yang dimaksud pria itu bukan Fira istri dari Mizuruky Ivan.
"Yang kamu maksud bukan Nyonya Muda kan? Bukan Istri Boss besar?"
Andria menghela nafas panjang, sekarang gadis itu terkenal sebagai Istri pemilik perusahaan sedangkan dulu saat bersama dirinya, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa mereka pacaran.
"Ya, dia adalah mantan pacarku. Aku menyesal meninggalkan dia saat dia sangat mencintai ku."
Siska tertawa terbahak -bahak lalu meninggalkan Andrian seorang diri.
Andrian kesal sendiri karena ditertawakan oleh Siska.
Sementara itu,
Terlihat beberapa karyawan tergopoh -gopoh berlari ke kamar mandi, ada juga yang memanggil Ambulance dan ada juga yang sibuk menghubungi seseorang.
Fira hanya melihat dari balik dinding kaca saat mobil Ambulance meninggalkan perusahaan, di depannya terdapat hidangan siap dimakan.
Fira tidak berfikir apapun tentang Suaminya, ia juga tidak berfikir bahwa Maulana yang berada dalam mobil Ambulance tadi.
Gadis itu terus menunggu sampai sang Suami kembali.
30 menit berada di kantin, makanan Fira pun sudah habis, ia meninggalkan kantin dengan perasaan dongkol karena mengira Maulana sibuk lagi.
Fira meninggalkan kantin lalu memutuskan untuk kembali ke rumah, saat di rumah, ia merasa sepi padahal biasanya merasa sama saja.
Gadis itu berjalan gontai menuju sofa di ruang tamu, gerah karena tidak ada AC, padahal Suaminya adalah seorang CEO.
Berkali-kali Fira melihat layar ponsel, berharap ada notifikasi dari sang Suami, namun ternyata tidak ada.
Tanpa terasa gadis itu tertidur di atas sofa dengan pintu rumah masih terbuka.
Pukul 19:00
Hangat dan nyaman, tubuh bagai melayang di udara, Fira terkejut lalu membuka matanya.
Ia panik karena tiba -tiba tubuhnya melayang di udara, gadis itu belum menyadari kalau sekarang dirinya berada di gendongan seorang pria yang telah menjadi Suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terimakasih Imamku
RomanceFiranda Firdaus dipaksa menikah dengan Ivan Maulana Rizky untuk menutupi aib keluarga, gadis 18 tahun kehilangan mahkota setelah dua malam tidak pulang bersama pacarnya
