Episode 22 — Di Antara Terik dan Teriakan Cinta
Universitas Madangkara, Pukul 13:00
Langit siang menggantung terik di atas kampus Madangkara, membakar ubin-ubin halaman dan memantulkan cahaya menyilaukan dari kaca-kaca gedung fakultas. Namun di tengah panas yang menyengat itu, Fira justru merasa dingin. Dingin yang tak berasal dari cuaca, melainkan dari dalam dadanya sendiri.
Ia duduk melamun di kantin, sendirian meski Antonio duduk tepat di hadapannya. Nasi di piringnya tak tersentuh, uap teh di gelasnya sudah lama menghilang. Di seberangnya, Antonio mencoba mencairkan suasana, seperti anak kecil yang tak tahu bahwa mainannya bukan lagi menarik.
"Fir, kenapa kamu tidak makan? Tadi di rumah kamu sudah makan belum? Apa perlu aku suapin?"
Fira meliriknya, jengkel. Kalimat itu, yang mungkin dimaksudkan sebagai candaan manis, justru terdengar bising di telinganya. Kenapa pria ini begitu banyak bicara? Tidak seperti Maulana, yang diamnya saja bisa menjawab, yang tatapannya lebih fasih dari seribu kata.
Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Seolah ingin mengusir bayangan seseorang yang terus menghuni pikirannya. Namun semakin ia mencoba melupakan, semakin kuat kehadiran itu mencengkeram.
Di luar, suasana mendadak berubah. Suara langkah kaki berlarian, tawa, dan teriakan-teriakan kecil membelah udara. Para mahasiswi berhamburan keluar dari kantin, sebagian bahkan berteriak seperti sedang menyambut selebritas.
"Kenapa dengan mereka?" tanya Fira, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Antonio. Matanya mengikuti arah kerumunan yang bergerak menuju halaman depan kampus.
Sebuah mobil sedan hitam mengilap baru saja berhenti di sana. Pintu belakang terbuka perlahan, dan dari dalamnya turun sosok yang membuat udara seolah berhenti berputar.
"Hari ini kampus kita akan kedatangan pemilik perusahaan Mizuruky, Mizuruky Ivan. Mungkin dia sudah datang, jadi gadis-gadis itu berteriak karena kagum pada ketampanannya," celetuk Antonio, suaranya ringan, tak menyadari bahwa kata-katanya baru saja menyalakan sesuatu dalam dada Fira.
Fira mengangguk pelan, namun matanya tak bisa berbohong. Ia menatap ke arah mobil itu, dan di antara kerumunan, ia melihatnya, Ivan Maulana Rizky, berjalan tenang dengan jas biru azzure yang sama seperti pagi tadi. Di sampingnya, Rumina melangkah setia, dan beberapa dosen kampus menyambut mereka dengan senyum penuh hormat.
Fira membeku. Dunia seolah mengecil, menyisakan hanya satu titik fokus, suaminya. Sosok yang semalam ia peluk, yang pagi tadi ia tuduh, yang kini berdiri di hadapan publik sebagai pemilik perusahaan besar dan sebagai pria yang diam-diam membuat para gadis berteriak karena pesonanya.
Ternyata, alasan para mahasiswi itu berteriak, adalah karena suaminya.
Dan di tengah keramaian yang riuh, Fira merasa seperti satu-satunya yang diam. Seperti satu-satunya yang tahu bahwa pria itu bukan hanya pemilik perusahaan, bukan hanya wajah tampan yang dielu-elukan tapi juga seseorang yang setiap malam menahan nyeri, menelan obat dalam diam, dan tetap tersenyum meski tubuhnya perlahan melemah.
Kerumunan di halaman Universitas Madangkara semakin padat. Mahasiswa dan mahasiswi berdesakan, berebut ruang untuk sekadar menyapa, menyentuh, atau berfoto dengan pria yang baru saja turun dari sedan hitam mewah, Maulana, pemilik Mizuruky, pria 30 tahun yang kini menjadi magnet bagi semua mata.
Fira bangkit dari tempat duduknya di kantin, langkahnya cepat namun ragu. Ia berjalan menuju kerumunan, matanya menyapu wajah-wajah yang bersinar hanya karena satu sosok. Ia heran, kenapa mereka begitu tergila-gila? Kenapa mereka rela berdesakan hanya untuk pria itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Terimakasih Imamku
RomanceFiranda Firdaus dipaksa menikah dengan Ivan Maulana Rizky untuk menutupi aib keluarga, gadis 18 tahun kehilangan mahkota setelah dua malam tidak pulang bersama pacarnya
