Di dalam kamar mandi lantai dua Mansion Lonenlis, suara gemericik air mengiringi detak waktu yang terasa lambat. Lampu gantung berkilau redup, memantulkan bayangan Fransis yang tengah duduk, wajahnya sedikit tegang. Ponsel di saku kemejanya bergetar, memecah kesunyian yang sempat menenangkan.
Ia meraihnya dengan gerakan cepat, lalu menjawab dengan nada yang tak bisa menyembunyikan kekesalan.
“Ya.”
Suara di ujung sana terdengar panik, nyaris seperti teriakan yang ditahan.
“Frans, cepat kemari!”
Maulana. Suaranya bukan sekadar cemas, ia terdengar seperti seseorang yang sedang menjaga sesuatu yang rapuh agar tak pecah.
“Ya,” ulang Fransis, kali ini lebih tegas. Ia memastikan sambungan teleponnya, lalu berdiri, menyelesaikan urusan pribadinya dengan efisien. Setelah mencuci tangan dan wajah, ia bergegas keluar dari kamar mandi, mengambil tas medis yang sudah tertata rapi di sudut kamar, dan melangkah cepat menuju Menara IMR.
Di kamar utama Menara IMR, pukul tujuh malam, cahaya lampu meja menyinari wajah Maulana yang duduk di sisi tempat tidur. Ia diam, matanya tak lepas dari sosok Fira yang kini duduk bersandar di bantal, pipinya memerah, bukan karena demam, tapi karena malu yang tak bisa ia sembunyikan.
Gadis itu terlihat imut, bahkan dalam kegugupannya. Ia melirik Maulana dengan tatapan yang mencoba tegas, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa gelisah.
“Kenapa Mas melihatku seperti itu?!” tanyanya ketus, alisnya mengerut.
Maulana menahan senyum, bibirnya terangkat sedikit, namun matanya tetap lembut.
“Mas hanya tidak menyangka kalau istriku ternyata memiliki hasrat tersembunyi padaku.”
Fira langsung bangkit, gerakannya cepat dan penuh emosi. Ia menjatuhkan diri ke pelukan Maulana, kepalanya mendongak, menatap paras suaminya yang tetap tenang. Wajahnya kesal, namun ada kilatan rasa yang tak bisa ia sembunyikan.
“Hasrat apa?! Hanya wanita bodoh yang memiliki hasrat pada pria tua seperti Mas,” katanya sinis.
Namun sebelum Maulana sempat membalas, darah kembali mengalir dari hidung Fira. Ia terdiam sejenak, lalu panik. Tangannya gemetar saat menutup hidungnya, tubuhnya kembali terduduk di atas tempat tidur.
“Mas, aku sakit apa? Apa aku sakit parah?” Suaranya pecah, tangisnya mengalir seperti anak sungai yang tak bisa dibendung.
Maulana bangkit perlahan, mengambil tisu dari meja kecil di samping tempat tidur. Ia duduk di sisi Fira, lalu dengan gerakan lembut membersihkan darah dari wajah sang istri. Sentuhannya tenang, seperti seseorang yang sudah terbiasa merawat luka yang tak terlihat.
“Jangan terlalu banyak memikirkan tubuh Mas, nanti mimisanmu tidak selesai.”
Fira terdiam, matanya masih berkaca-kaca. Di luar kamar, angin malam menyentuh jendela dengan pelan, seolah ikut menyaksikan drama kecil yang terjadi di dalam ruang yang seharusnya menjadi tempat istirahat, namun kini menjadi panggung bagi tubuh, hasrat, dan ketakutan yang tak terucap.
Kamar tidur Maulana dan Fira di Menara IMR masih diselimuti cahaya hangat dari lampu gantung bergaya klasik. Tirai beludru merah marun bergoyang pelan, menyambut angin malam yang menyusup lewat celah jendela. Di atas tempat tidur berlapis linen putih bersih, Fira duduk dengan wajah cemas, hidungnya baru saja berhenti berdarah, namun pikirannya masih berputar tak tentu arah.
Tiba-tiba—
Brak!
Pintu kamar terbuka keras, nyaris terlepas dari engselnya. Seorang pria berambut blonde panjang, mengenakan jas dokter yang sedikit kusut, berdiri di ambang pintu dengan napas terengah dan mata penuh kekhawatiran.
“Van!” serunya.
Maulana menoleh cepat, wajahnya refleks berubah kesal. “Untuk apa mendobrak pintu?! Ganti rugi! 10 miliar!” katanya, nada suaranya tajam, namun masih menyimpan gurauan yang hanya bisa dibaca oleh sahabat lama.
Fransis melangkah menyapu ruangan, lalu berhenti pada Maulana yang tampak sehat-sehat saja. Ia menghela napas, lalu menggerutu sambil menutup pintu yang masih bergoyang.
“Pintu seperti itu saja minta ganti rugi sangat mahal, lagipula pintunya juga masih kokoh.”
Tanpa menunggu jawaban, Fransis meletakkan tas medisnya di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia membuka ritsletingnya, mengambil stetoskop, dan menatap Maulana dengan ekspresi profesional yang bercampur rasa jengkel.
“Berbaringlah, biar aku periksa.”
Maulana berdiri dari kursinya, mengangkat tangan seolah menyerah. “Bukan aku yang sakit, tapi istriku. Tadi dia mimisan.”
Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Baginya, penyebab mimisan itu terlalu absurd untuk diucapkan dengan suara keras.
Fira masih duduk di atas tempat tidur, wajahnya pucat, namun darah di hidungnya telah berhenti. Ia menatap Fransis dengan mata yang penuh harap dan sedikit malu.
“Berbaringlah,” ucap Fransis, suaranya tenang namun tegas.
Gadis itu menurut, berbaring perlahan di atas kasur, rambutnya terurai di atas bantal, matanya menatap langit-langit sejenak sebelum beralih pada Fransis.
“Dok, saya sakit apa?”
Fransis mulai memeriksa detak jantung, nadi, dan tekanan darah dengan gerakan terlatih. Ia tetap diam beberapa saat, lalu bertanya sambil menatap Fira dengan alis terangkat.
“Kenapa bisa mimisan?”
Fira menelan ludah, lalu menjawab dengan suara pelan namun jujur, matanya menatap Fransis tanpa ragu.
“Tadi aku VC sama Kak Andrian, lalu aku ingat pernah lihat Mas Ivan tidak pakai baju dan celana saat keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba saja, aku mimisan.”
Ia mengangkat pandangan matanya, wajahnya memerah, namun tetap bertanya dengan polos.
“Dok, saya sakit apa?”
Fransis berhenti sejenak, membereskan perlengkapan medisnya dengan gerakan lambat, lalu menatap Fira dengan ekspresi serius yang dibuat-buat.
“Penyakitmu sangat berbahaya…”
Fira langsung tegang, tubuhnya menggigil, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
“Dok, saya… aku ingin sembuh. Aku masih belum punya anak, aku belum menghabiskan semua harta Mas Ivan.”
Maulana menunduk, menahan tawa yang nyaris meledak. Ia tahu betul, sahabatnya itu sedang mengerjai istrinya.
Fransis menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada dramatis yang disengaja.
“Karena itu, aku kasih saran. Kamu segera ajak Ivan membuat anak, penyakitmu pasti sembuh. Dasar anak kecil mesum.”
Fira mengangguk pelan, masih belum sadar bahwa dirinya sedang dipermainkan. Namun saat kesadaran itu datang, ia langsung bangkit dari tempat tidur, berdiri dengan tangan berkacak pinggang, wajahnya merah padam.
“Dokter sinting! Kamu yang mesum! Semua keluarga mu mesum!”
Fransis tidak marah. Sebaliknya, ia tertawa terbahak-bahak, tubuhnya sedikit membungkuk karena tak bisa menahan geli. Tawa itu menggema di kamar, mencairkan ketegangan yang sempat memenuhi udara.
Maulana ikut tersenyum, lalu duduk kembali di kursinya, menatap istrinya dan sahabatnya dengan mata yang menyimpan rasa sayang dan lelah sekaligus.
Di luar, malam terus berjalan. Tapi di dalam kamar itu, darah, tawa, dan cinta yang absurd saling bersilangan, membentuk babak baru dalam kisah yang tak pernah benar-benar sederhana.
Maulana berharap, waktu akan terus berputar dan dirinya masih bisa menemani gadis itu selamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terimakasih Imamku
Lãng mạnFiranda Firdaus dipaksa menikah dengan Ivan Maulana Rizky untuk menutupi aib keluarga, gadis 18 tahun kehilangan mahkota setelah dua malam tidak pulang bersama pacarnya
