Episode 20

13 1 0
                                        

Terimakasih Imamku,  episode 20

Di Antara Nyeri dan Keheningan

Ruang Kerja Maulana

Menara IMR

Langit malam masih menggantung tenang di luar jendela Menara IMR, sementara di dalam ruang kerja yang megah dan tenang, Fransis duduk menyendiri di atas sofa berlapis beludru. Matanya menyapu ruangan, seolah mencari jawaban dari dinding-dinding yang bisu. Ia menunggu, dan waktu berjalan pelan, seperti menghormati kesunyian yang sedang tumbuh.

Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Maulana yang melangkah masuk. Namun belum sempat ia mencapai sahabatnya, tubuhnya limbung, kepalanya terasa nyeri seperti ditusuk ribuan jarum halus. Ia hampir tersungkur, namun Fransis, dengan refleks seorang sahabat sejati, segera menangkap tubuh ringkih itu sebelum sempat menyentuh lantai.

"Van, kamu harus segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang," ucap Fransis, suaranya tegas namun penuh kekhawatiran.

Dengan hati-hati, ia membantu Maulana duduk di sofa panjang, lalu mengeluarkan peralatan medis dari tasnya. Tangannya bergerak cepat dan terlatih, namun tetap penuh kelembutan, seperti seorang pelukis yang tahu betul kanvasnya adalah nyawa sahabatnya.

Maulana menatap langit-langit ruangan, senyum kecil tersungging di bibirnya. Ia mengalihkan pandangan pada Fransis, mencoba menyembunyikan rasa sakit yang tak bisa lagi ia kendalikan.

"Aku akan baik-baik saja," katanya pelan.

Fransis menghentikan kegiatannya sejenak, menatap Maulana dengan mata yang tak bisa dibohongi. "Kamu mau menipu siapa? Aku seorang Dokter, melihat dari denyut nadimu saja aku mengerti."

Ia kembali melanjutkan pertolongannya, sementara Maulana terkekeh pelan, suara tawanya seperti angin yang menyentuh kaca jendela.

"Lalu aku harus bagaimana? Aku juga tidak ingin seperti ini, aku pun sudah berusaha mencari donor namun tetap saja hingga kini belum menemukannya."

Setelah selesai, Fransis membereskan perlengkapan medisnya dan duduk di samping Maulana. Ia menatap pria itu dengan mata yang penuh janji.

"Aku akan berusaha lebih keras lagi, kamu satu-satunya sahabatku. Kamu yang paling memahamiku, kamu juga seperti Kakak bagiku."

Maulana tersenyum, kali ini lebih dalam. "Aku percaya padamu."

Dan keheningan kembali menyelimuti ruangan, bukan sebagai jeda, tapi sebagai pengakuan bahwa persahabatan kadang lebih kuat dari darah.

Kamar Maulana

Pukul 2 Dini Hari

Fira terbangun dari tidurnya, matanya masih berat namun rasa penasaran mengalahkan kantuk. Ia menoleh, melihat Maulana yang masih terlelap di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya tenang seperti malam yang baru saja reda dari hujan.

Perlahan, tangan mungilnya bergerak, menyentuh bagian tubuh sang suami. Wajahnya memerah saat merasakan sesuatu yang keras di balik selimut. Ia terkekeh pelan, suara tawanya seperti bisikan angin.

"Ternyata barang Mas Ivan segini."

Namun sebelum pikirannya melayang lebih jauh, suara Maulana terdengar, lembut dan sedikit serak karena baru bangun.

"Sayang, untuk apa kamu terus menggenggam ibu jari tangan Mas?"

Fira terdiam, matanya beralih pada tangannya sendiri. Ia terkejut, wajahnya semakin memerah karena ternyata yang ia genggam dan belai sejak tadi hanyalah jari jempol tangan Maulana, bukan bagian tubuh pria itu yang sempat ia bayangkan.

Kamar Maulana masih diselimuti keheningan dini hari. Lampu temaram memantulkan bayangan lembut di dinding, sementara suara detak jam berdetak pelan seperti menjaga rahasia malam.

Terimakasih Imamku Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang