Episode 21 - Di Antara Obat dan Pengkhianatan
Pagi itu, cahaya matahari menyelinap malu-malu melalui jendela kaca besar ruang makan, menari di atas meja marmer yang dipenuhi hidangan mewah. Aroma roti panggang, telur rebus setengah matang, dan teh melati memenuhi udara, namun tak mampu menutupi rasa getir yang perlahan tumbuh di antara dua insan yang duduk berseberangan.
Maulana menelan beberapa butir obat dengan segelas air putih. Gerakannya tenang, nyaris tanpa suara. Ia sudah terbiasa dengan rasa pahit di lidah, dengan tubuh yang tak lagi bisa ia andalkan sepenuhnya, dan dengan keheningan yang tak pernah benar-benar kosong.
Di seberangnya, Fira menikmati sarapan dengan lahap. Wajahnya berseri, matanya berbinar melihat piring-piring porselen yang tersaji rapi. Hidangan pagi ini bahkan lebih mewah dari yang biasa ia nikmati di rumah orang tuanya. Namun, di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tak bisa dibeli, kepekaan.
Maulana menatapnya diam-diam, senyum tipis mengendap di sudut bibirnya. Ia tak ingin mengganggu momen kecil itu. Dalam diamnya, ia berdoa, agar waktu berpihak padanya, agar keajaiban datang dalam bentuk donor sumsum tulang belakang, agar tubuhnya diberi kesempatan untuk bertahan untuk tetap bisa menjaga.
Namun, harapan itu seketika runtuh oleh satu kalimat yang meluncur ringan dari bibir Fira, seperti angin lalu yang membawa badai.
"Kemarin aku jadian sama Antonio di kampus."
Suara itu ringan, nyaris ceria. Tak ada jeda, tak ada rasa bersalah. Seolah yang dihadapinya bukan suami, melainkan teman sebaya yang bisa diajak berbagi kabar tanpa beban.
Maulana menarik napas pelan. Dada kirinya berdenyut, bukan karena penyakit, tapi karena luka yang tak berdarah. Ia menatap Fira, lalu mengangguk, seolah menerima takdir yang baru saja diumumkan.
"Jika kamu merasa dia cocok untukmu, kamu katakan saja pada Mas. Mas tidak ingin kamu mendekati zina."
Kata-katanya tenang, namun di balik ketenangan itu, ada badai yang ditahan. Ia tidak marah. Ia tidak menangis. Ia hanya menunduk pada prinsip yang ia pegang erat, bahwa cinta tak bisa dipaksa, dan kehormatan harus tetap dijaga, bahkan saat hati sendiri yang dikorbankan.
Fira mengangguk, seolah semuanya sudah selesai.
"Tenang saja, aku pasti bicara. Ya sudah, aku berangkat ke kampus dulu."
Ia bangkit, memutar tubuh, dan melangkah pergi. Tak ada pelukan. Tak ada pamit yang hangat. Hanya langkah ringan yang menjauh, meninggalkan aroma parfum dan jejak yang tak akan pernah bisa dihapuskan dari lantai rumah itu.
Maulana menatap punggungnya hingga menghilang di balik pintu. Lalu ia bangkit, merapikan jasnya, dan berjalan keluar rumah. Di depan pintu, supirnya sudah menunggu, berdiri tegak di samping sedan hitam mengilap yang siap membawanya ke dunia luar, dunia yang tak tahu bahwa pagi ini, seorang suami baru saja ditinggalkan oleh cinta yang tak pernah tumbuh.
Ia masuk ke dalam mobil tanpa suara. Supirnya segera menyusul, menutup pintu, lalu menyalakan mesin. Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan rumah yang megah namun terasa hampa, seperti tubuh yang kehilangan jiwanya.
Dan di dalam mobil yang sunyi, Maulana menatap ke luar jendela. Jakarta mulai sibuk, tapi pikirannya justru kosong. Ia tidak tahu apakah hari ini akan menjadi hari yang panjang atau hari terakhir yang bisa ia jalani dengan utuh.
Pukul dua belas siang. Matahari menggantung tinggi di langit Jakarta, namun sinarnya tak mampu menembus kelelahan yang mengendap di tubuh Maulana. Ia baru saja keluar dari ruang rapat lantai delapan, langkahnya pelan, nyaris tanpa gema, seperti seseorang yang sedang berjalan di antara dua dunia, dunia kerja dan dunia yang perlahan menggerogoti dari dalam.
Hari-harinya kini tak lagi mengenal kata "fit." Bahkan setengah hari bekerja saja sudah cukup membuat tubuhnya terasa seperti reruntuhan. Kepalanya berdenyut, tulang belakangnya seperti ditarik paksa oleh tangan tak kasat mata. Nyeri itu bukan lagi tamu, tapi penghuni tetap yang menolak pergi.
Di belakangnya, Rumina, sang asisten yang juga sahabat lama, mengamati punggung Maulana dengan dahi mengernyit. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya lelah, tapi seperti ada kabut yang menyelimuti aura pria bermata safir itu.
Ia mempercepat langkah, menyamai irama kaki Maulana yang mulai goyah.
"Pengantin baru, semalam lembur berapa ronde sampai kamu terlihat lemas begitu?" ucapnya dengan nada menggoda, mencoba menyuntikkan tawa ke dalam siang yang terasa berat.
Maulana menoleh sedikit, tersenyum tipis. Senyum yang tak benar-benar sampai ke matanya. Ia tak ingin Rumina tahu bahwa tubuhnya bukan lelah karena cinta, tapi karena sel-sel di dalam dirinya sedang berperang tanpa jeda.
Lalu tiba-tiba-
Tes.
Suara kecil itu terdengar seperti tetes air di ruang sunyi, namun bagi Maulana, itu adalah alarm. Ia merogoh saku jasnya dengan cepat, menarik sapu tangan dan menekannya ke hidung. Darah. Hangat dan pekat. Ia tahu tanda ini. Ia tahu tubuhnya sedang mengirim pesan yang tak bisa lagi diabaikan.
Dengan satu gerakan cepat, tangan kirinya menarik tubuh Rumina menjauh, seolah sedang menyelamatkan sahabatnya dari sesuatu yang lebih dari sekadar noda.
Ia tak ingin Rumina melihat darah itu. Ia tahu betul, pria itu bisa pingsan hanya karena melihat luka kecil. Apalagi ini, darah yang keluar tanpa luka, darah yang datang sebagai pertanda bahwa waktu tak lagi bersahabat.
Rumina terkejut, tubuhnya nyaris kehilangan keseimbangan saat ditarik tiba-tiba. "Eh, ada apa?" tanyanya, namun Maulana hanya menggeleng pelan, masih menekan sapu tangan ke wajahnya, matanya menatap lantai yang kini ternoda merah.
Ia menunduk, bukan karena malu, tapi karena sedang menyembunyikan kenyataan.
Dan di lorong kantor yang dingin dan mewah itu, waktu seolah berhenti sejenak. Hanya ada napas yang tertahan, darah yang jatuh diam-diam, dan seorang pria yang terus berjalan meski tubuhnya perlahan mengkhianati dirinya sendiri.
Lorong lantai eksekutif terasa lebih sunyi dari biasanya. Dinding kaca memantulkan bayangan dua pria yang berjalan berdampingan, Maulana dengan langkah berat yang nyaris tak terdengar, dan Rumina yang menyamainya dengan gerak cepat, penuh tanya.
Maulana baru saja keluar dari ruang rapat. Wajahnya tetap tenang, namun tubuhnya tak bisa lagi menyembunyikan kelelahan yang merayap dari tulang belakang hingga ke pelipis. Setiap langkah seperti menanggung beban yang tak terlihat, dan setiap napas seperti sedang bernegosiasi dengan waktu.
"Rumina, kamu punya gelar MBA, bagaimana kalau kamu menjadi wakil CEO?" ucap Maulana, suaranya tenang, nyaris seperti angin yang menyapa daun.
Rumina menoleh cepat, alisnya terangkat. Ia semakin tidak mengerti. Mereka terus berjalan, namun kini langkahnya terasa seperti sedang menyusuri teka-teki.
"Kamu ini kenapa?! Bukankah biasanya kamu selalu selesaikan sendiri?!"
Maulana tersenyum dalam diam. Senyum yang tidak menjawab, hanya menyembunyikan. Ia tahu, jika ia bicara jujur, maka dunia akan mulai berubah. Maka ia memilih dusta yang lembut, seperti selimut tipis di pagi yang dingin.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin jika nanti aku liburan, kamu menggantikanku memimpin perusahaan ini."
Liburan. Kata itu meluncur ringan, namun di baliknya ada kekhawatiran yang tak bisa ia bagi. Ia bukan hendak berbulan madu. Ia hanya takut, bahwa waktu tak akan cukup. Bahwa tubuhnya akan menyerah sebelum ia sempat menyerahkan tongkat estafet dengan utuh.
Rumina menyeringai tipis. Ia tidak tahu kebenaran di balik kata "liburan" itu. Tapi ia percaya pada Maulana, seperti seorang prajurit percaya pada komandan yang tak pernah gagal.
"Ada-ada saja, kamu tenang saja. Bulan madu saja yang tenang, aku akan menjaga perusahaan ini untukmu."
Ia bicara dengan penuh keyakinan, seolah janji itu adalah kontrak yang ditulis di udara. Dan Maulana mengangguk pelan, menyimpan kata "terima kasih" di dalam dada yang mulai sesak.sd garuda menyerang.
Di lorong itu, dua sahabat berjalan menuju pintu kaca yang mengarah ke dunia luar. Satu membawa rahasia yang belum sempat dibuka, satu membawa janji yang belum tahu akan diuji seberapa jauh.
Dan waktu terus berjalan, seperti detik yang tak pernah menunggu siapa pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terimakasih Imamku
RomanceFiranda Firdaus dipaksa menikah dengan Ivan Maulana Rizky untuk menutupi aib keluarga, gadis 18 tahun kehilangan mahkota setelah dua malam tidak pulang bersama pacarnya
