Episode 23

9 0 0
                                        

Ruang kelas yang disulap menjadi ruang makan itu dipenuhi aroma lauk pauk dan suara obrolan ringan. Namun di sudut ruangan, di meja kehormatan yang ditata rapi, suasana terasa berbeda, lebih sunyi, lebih rapuh, lebih dalam.

Maulana duduk tenang, senyum lembut menggantung di wajahnya saat matanya menatap Fira yang sedang makan. Ada ketenangan di wajah istrinya, dan itu cukup baginya. Ia tak butuh kata cinta, tak butuh pelukan. Cukup melihat gadis itu makan dengan tenang, dan dunia seolah memberinya jeda dari rasa sakit yang tak pernah benar-benar pergi.

Namun ketenangan itu tak bertahan lama.

Fira mengangkat wajah, keningnya mengerut saat menyadari Maulana terus memperhatikannya. Tatapannya berubah tajam, sinis, seperti ingin menusuk balik perhatian yang seharusnya hangat.

"Kenapa lihat-lihat?!"

Maulana tersenyum miring. Baru tadi gadis itu memeluknya, menyatakan cinta, meminta maaf. Kini, sinis kembali menjadi bahasa utamanya. Tapi Maulana tak berkata apa-apa. Ia tak punya tenaga untuk bertengkar. Bahkan untuk menjawab pun, tubuhnya terasa berat.

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya menghampiri. Dosen Fakultas Kedokteran, duduk di sampingnya dengan sorot mata tajam yang penuh pengalaman.

"Tuan Muda Mizuruky, sepertinya Anda kurang sehat?"

Maulana menoleh, menyambut dengan sopan. "Alhamdulillah, saya sehat, Pak," jawabnya tenang, seperti biasa. Ia sudah terbiasa menyembunyikan badai di balik senyum.

Namun sebelum suasana bisa kembali netral, suara Fira menyambar dari samping.

"Pak Rangga tenang saja, Suami saya memang suka berpura-pura di depan orang."

Kalimat itu meluncur ringan, namun tajam. Seperti pisau kecil yang menusuk tanpa darah. Maulana hanya tersenyum kecil. Senyuman yang menyimpan luka yang tak bisa diungkapkan, hanya bisa ditelan bersama obat dan doa.

Rangga menoleh pada Fira. Matanya menilai, menimbang. Dalam hati, ia ingin menegur, namun status gadis itu sebagai istri dari Mizuruky Ivan membuatnya menahan diri. Kalau bukan karena itu, mungkin sudah sejak tadi ia bicara keras tentang sopan santun dan etika.

Di sisi lain, Rumina yang duduk tak jauh dari mereka, menatap Fira dengan rahang mengeras. Dalam hatinya, ia ingin sekali menyumpal mulut gadis itu dengan kotoran anjing, bukan karena benci, tapi karena tak tahan melihat seorang istri yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi luka yang terbuka.

Rangga kembali menoleh pada Maulana, mencoba mengalihkan suasana.

"Tuan Muda Mizuruky, mengenai perkembangan calon tenaga medis dari lulusan Universitas Dirgantara. Bagaimana menurut Anda?"

Maulana hendak menjawab. Bibirnya sudah terbuka, namun tiba-tiba...

Sesuatu mencengkeram dadanya.

"Saya..."

Kata itu menggantung di udara, tak sempat selesai. Dadanya terasa sesak, nyeri hebat menjalar dari jantungnya, seperti ada tangan tak kasat mata yang meremasnya dari dalam. Wajahnya berubah pucat seketika, keringat dingin mengalir dari pelipis, membasahi kerah kemejanya yang rapi.

Ia mengepalkan tangan di atas paha, mencoba menahan rasa yang datang tanpa permisi. Leokimia kembali menari, menggelar atraksi yang tak pernah diundang. Dunia di sekelilingnya mulai memudar, suara-suara menjadi gema jauh, dan napasnya mulai tercekat.

Namun ia tetap diam. Karena bagi Maulana, menahan sakit adalah bagian dari menjaga martabat. Dan di hadapan orang banyak, ia lebih memilih pingsan daripada terlihat lemah.

Rangga mengerutkan kening. Wajah Maulana yang semula tenang kini berubah pucat, seperti kertas yang kehilangan tinta. Ada sesuatu yang tak beres. Ia meraih tangan pria itu, jari-jarinya yang terlatih sebagai dokter langsung menekan nadi di pergelangan.

Terimakasih Imamku Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang