Episode 25

27 1 0
                                        

Terimakasih Imam Ku

Episode 25: Bayang-bayang di Mizuruky Corp.

Gedung Mizuruky Corporation berdiri dengan angkuh di pusat Bingkara, puncaknya seolah menembus awan, mencerminkan kekuasaan dan kemewahan yang tak tersentuh. Namun bagi Fira, gedung itu hanyalah pengingat akan nasibnya yang kini berubah drastis.

Di depan lobi yang megah, Fira berdiri mematung. Napasnya tersengal. Ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai Office Girl (OB), sebuah profesi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, kesialan seolah enggan menjauh,  hari pertama, dan ia sudah terlambat.
Dengan terburu-buru, Fira melangkah masuk. Kepalanya tertunduk dalam, menyembunyikan wajahnya dari tatapan dingin lantai marmer yang mengilap. Ia terus melangkah cepat, mengabaikan sekitar demi mengejar waktu yang kian mencekik.

Bruk!

Tubuh mungil Fira terbentur keras pada sesuatu yang kokoh—sebuah dinding manusia yang tak bergeming sedikit pun.

"Aduh," rintihnya spontan. Jemari mungilnya refleks mengusap dahi yang berdenyut nyeri. Rasa kesal yang menumpuk karena keterlambatan kini meledak menjadi kejengkelan yang tak terbendung. Tanpa melihat siapa yang ia tabrak, Fira berseru ketus,
"Pak, bisa tidak, jangan halangi jalan?!"

Pria itu terdiam. Ia perlahan memutar tubuhnya, menghadap sumber suara yang begitu familiar di telinganya. Itu adalah Maulana. Dunia seolah berhenti berputar saat netranya menangkap sosok gadis di depannya. Gadis yang selama ini menghuni setiap sudut mimpinya, istrinya sendiri—wanita yang sejak awal tak pernah menginginkan kehadirannya.

Maulana mematung, tatapannya menyisir dari ujung kaki hingga ujung kepala Fira. Dadanya sesak melihat pemandangan di depannya. Penampilan Fira telah berubah total. Tak ada lagi gaun merah mewah yang membalut tubuh rampingnya, tak ada lagi kilau perhiasan yang menghiasi lehernya. Kini, ia tampak seperti seseorang yang tengah dihimpit kerasnya kehidupan.

Merasa tak kunjung mendapat jawaban, Fira akhirnya mendongakkan kepala. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Napasnya tertahan di tenggorokan saat melihat rahang tegas dan tatapan mata yang sangat ia kenal. Sosok di depannya adalah pria yang selama ini ia anggap telah tiada, pria yang diam-diam selalu ia rindu dalam setiap sujud dan tangisnya.

Bibir Fira bergetar, ia ingin bersuara, ingin memanggil nama itu, ingin menumpahkan segala sesal yang menyumbat dadanya. Namun, sebelum satu kata pun terucap, Maulana telah lebih dulu memalingkan wajah.

Tanpa sepatah kata, Maulana memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Fira yang terpaku. Ia tak ingin lagi mendengar makian, tak sanggup lagi menerima umpatan yang biasanya keluar dari bibir gadis itu. Baginya, keheningan ini lebih baik daripada harus terluka oleh kata-kata yang sama untuk kesekian kalinya.

Fira hanya bisa menatap punggung tegap yang kian menjauh itu, tertutup oleh bayang-bayang kemegahan Mizuruky Corporation yang kini terasa begitu dingin.

Mas Ivan, apakah Mas Ivan masih hidup? Lalu ... Apakah Mas Ivan sudah benar-benar membenciku?"

Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh tanpa permisi, membasahi pipinya yang kian tirus. Di tengah kebingungan dan rasa syukur yang beradu dengan luka, ia hanya bisa menatap bayangan suaminya yang menghilang di balik pintu lift. Namun, duka itu tak dibiarkan menetap lama. Sebuah suara tajam memecah keheningan hatinya seperti belati.

"Ngapain bengong?! Pegawai baru, hari pertama sudah terlambat."
Itu adalah Nindi, sang HRD Mizuruky yang dikenal dingin. Fira tersentak, ia segera menghapus air matanya dengan kasar dan mengangguk patuh. Dengan langkah gontai namun terburu-buru, ia berlari menuju divisi kebersihan, mengganti identitasnya dengan seragam OG yang kini menjadi satu-satunya pelindung harga dirinya.

"Kamu menyesal?"
Suara itu muncul dari sudut ruangan yang remang. Fira tersentak hebat, ia menoleh dan mendapati seorang pria dengan rambut blonde panjang yang terjatuh di bahu, menatapnya dengan senyum yang menyiratkan kebencian.
"Dokter Fransis," ucap Fira pelan, nyaris tak percaya.

Fransis mengangguk pelan, langkahnya mendekat dengan aura yang menekan. "Aku peringatkan padamu, kerja yang benar. Jangan dekati Ivan lagi." Ia tersenyum sinis, sebuah senyum yang meremehkan keberadaan Fira di gedung itu.

Fira hanya bisa menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Rasanya, oksigen di ruangan itu mendadak menipis. Ia merasa seluruh dunia kini berbalik memunggunginya. Bayang-bayang masa lalu berputar di benaknya seperti kaset rusak, betapa angkuhnya ia dahulu, betapa seringnya ia mengutuk dan menghina Maulana, sosok yang bahkan tak pernah ia anggap sebagai suami. Kini, kenyataan memukulnya telak: pria yang dulu ia perlakukan bak sampah adalah satu-satunya perisai yang selalu melindunginya dari kerasnya dunia.

Fransis memutar tubuh, bersiap meninggalkan ruangan pengap itu. Namun, tepat di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh, ia melontarkan kalimat yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan jiwa Fira.

"Ivan tidak pernah tanda tangan surat cerai itu, itu tanda tanganku."
Setelah kalimat itu terucap, pria berambut blonde itu melangkah pergi, meninggalkan keheningan yang memekakkan telinga.

Fira terpaku, tubuhnya lemas seketika. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Fakta itu menghantamnya lebih keras dari apa pun: Maulana tidak pernah menceraikannya. Pria itu masih memegang janji sucinya meski Fira telah berkali-kali meludahi harga dirinya. Penyesalan itu kini datang bak ombak besar, menenggelamkan Fira dalam rasa bersalah yang tak bertepi karena telah menyia-nyiakan ketulusan seorang imam sebaik Maulana.

Di lantai tertinggi gedung Mizuruky, keheningan menyelimuti kantor CEO yang megah. Maulana duduk terkurung dalam kemewahan yang terasa hampa. Pikirannya melayang jauh, terjebak dalam labirin rindu yang menyakitkan. Di balik wajahnya yang tenang, hatinya menjerit ingin merengkuh sosok Fira, ingin sekadar menyapa atau merasakan kehangatan pelukannya.

​Namun, bayang-bayang masa lalu kembali menghantuinya seperti mimpi buruk. Ia teringat jelas detik-detik sebelum dirinya jatuh pingsan tahun lalu, sebelum serangkaian operasi besar di luar negeri merenggut waktunya. Kalimat menyakitkan dari bibir Fira—bahwa gadis itu tak ingin lagi bertemu dengannya—terpatri permanen di ingatannya.

​Maulana menghela napas berat berkali-kali. Dadanya sesak oleh beban kenyataan. Ia mencoba membujuk hatinya sendiri untuk menyerah, mencoba mengikhlaskan jika pernikahan mereka memang harus berakhir di sini, dan membiarkan istrinya pergi menuju kebebasan yang selama ini gadis itu dambakan.

​Sementara itu, di lantai bawah, api baru saja tersulut di jiwa Fira. Kebenaran bahwa Maulana tak pernah menandatangani surat cerai itu menjadi bahan bakar yang mendorong kakinya berlari kencang. Ia menerobos lobi, memacu langkah menuju lift, dan menekan tombol lantai 27 dengan jemari gemetar.
​Ia tidak lagi peduli pada tatapan sinis para staf yang melihatnya dengan seragam OG. Ia tidak takut jika Nindi akan melemparkan surat pemecatan padanya detik ini juga. Hanya ada satu misi di kepalanya: mengejar kembali cinta yang sempat tertunda dan menebus segala dosa masa lalu.
​Begitu pintu lift terbuka di lantai 27, Fira segera menghambur keluar. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya. Tanpa basa-basi, tanpa mengetuk pintu, ia mendorong pintu jati besar ruang CEO itu hingga terbuka lebar.

​Langkah Fira terhenti sejenak. Di sana, di balik meja kerja yang luas, ia melihat Maulana tengah bergulat dengan tumpukan berkas. Sebuah senyum tipis terukir di bibir Fira; tidak ada yang berubah dari pria itu. Sosoknya masih segagah dulu, hanya saja kini sepasang matanya memancarkan kedinginan yang menusuk, seolah-olah hatinya telah membeku oleh waktu.

​Dengan keberanian yang tersisa, Fira melangkah maju. Ia berdiri di depan meja itu, bukan dengan pundak yang merosot sebagai bawahan, melainkan dengan dagu tegak sebagai seorang istri yang menuntut tempatnya kembali.

​"Mas Ivan."

​Suara lembut itu memecah keheningan ruangan. Maulana perlahan menaikkan kelopak matanya. Dunianya seakan berguncang hebat. Di dalam sana, nuraninya memberontak, ingin sekali ia melompat dari kursinya dan mendekap tubuh mungil itu erat-erat. Selama masa koma dan pengobatan panjang yang menyiksa, hanya bayangan wajah Fira yang menjadi jangkar baginya untuk tetap bertahan hidup.

​Namun, Maulana memaksa otot-otot tubuhnya untuk tetap diam. Ia mengeraskan hatinya, menahan gelombang kerinduan yang nyaris pecah, agar dirinya tidak lagi terjatuh ke dalam lubang luka yang sama seperti tahun lalu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 18 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Terimakasih Imamku Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang