Episode 15

10 0 0
                                        

Ruang kelas PGMI Sementara 1 telah ditinggalkan oleh riuhnya. Pukul dua siang, cahaya matahari menyelinap masuk lewat jendela tinggi, memantul di lantai yang kini hanya menyimpan jejak langkah mahasiswa. Keheningan menggantung, seperti sisa napas dari diskusi yang telah usai.

Fira masih duduk di kursi tengah, tempat yang biasanya ia pilih untuk mengamati tanpa terlihat. Antonio telah pamit pulang, namun ia bahkan tak menoleh. Ironi menggantung di udara, dirinya yang sempat ingin mencari pacar, kini justru terjebak dalam bayang-bayang Maulana. Cinta yang ingin ia sangkal, malah menyusup di sela-sela pikirannya.

Ponsel di genggamnya menjadi pusat perhatian. Ia menatap layar yang tak kunjung menyala, berharap ada panggilan dari sang Suami. Jari-jarinya sempat ingin menekan tombol panggil, namun gengsi dan malu menahan langkahnya.

"Kenapa Mas Ivan tidak chat atau telpon?"

Suara itu keluar pelan, nyaris seperti gumaman kepada layar yang tak menjawab. Ia sangat ingin dihubungi, namun ponselnya tetap sunyi, seperti langit yang menolak hujan.

Rasa kesal mulai merayap, seperti kabut yang menyelimuti hati. Fira bangkit dari tempat duduknya, melangkah keluar dari kelas dengan langkah yang tak lagi ringan. Setiap hentakan kakinya seperti gema dari hatinya yang sedang berontak.

Saat tiba di depan gerbang kampus, matanya menangkap sesuatu, mobil hitam yang familiar, terparkir tenang di bawah pohon flamboyan. Seketika, perasaan kesal berubah menjadi bahagia. Senyum kecil muncul di wajahnya, dan ia berlari kecil menuju mobil itu, seolah dunia kembali berpihak padanya.

Namun saat pintu mobil dibuka, senyum itu luntur. Kursi belakang kosong. Hanya supir dan pengawal pribadi duduk di depan, wajah mereka tenang tanpa ekspresi.

Fira masuk ke dalam mobil, duduk dengan ekspresi cemberut yang tak bisa disembunyikan.

"Mas Ivan dimana?"

Suara itu keluar dengan nada kecewa, seperti anak kecil yang tak dijemput di hari hujan.

"Tuan masih meeting dengan para dewan direksi," jawab sang supir singkat, tanpa menoleh.

Fira mendengus, kesal. Matanya menatap lurus ke depan, namun hatinya berputar di dalam.

"Katanya sayang padaku, tapi tidak mau menjemputku sendiri."

Kalimat itu menggantung di udara, seperti awan yang menolak bubar. Mobil pun melaju perlahan, membawa Fira pulang bukan hanya secara fisik, tapi juga ke dalam ruang batin yang penuh pertanyaan.

Ia tidak tahu apakah Maulana benar-benar sibuk, atau sedang menghindar. Tapi satu hal yang ia tahu,  cinta yang tak dijemput, kadang lebih menyakitkan daripada cinta yang ditolak.

Gedung Mizuruky Corp berdiri megah di tengah kota Bingkara, fasadnya memantulkan cahaya sore yang mulai merunduk. Di lantai tertinggi, ruang meeting baru saja selesai. Para eksekutif telah keluar satu per satu, membawa map dan ambisi masing-masing. Namun satu sosok tertinggal, Maulana.

Ia melangkah keluar dari ruang rapat dengan gerakan yang tak lagi gagah. Kepalanya terasa berat, seperti dihantam batu besar yang tak terlihat. Wajahnya pucat, tubuhnya lemas, dan langkahnya bergantung pada dinding marmer yang dingin.

Di sampingnya, Rumina berjalan cepat, matanya menyapu wajah sahabatnya dengan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

"Van, kamu pucat sekali."

Maulana tak langsung menjawab. Ia terus berjalan pelan, seperti sedang menahan badai dalam tubuhnya sendiri.

"Entahlah, rasanya kepalaku seperti ada batu besar yang menghantam."

Langkahnya terhenti. Di lantai koridor, ia melihat sesuatu yang tak biasa, noda merah yang kontras dengan kilau marmer putih.

"Kenapa ada darah di sini?" Maulana mengerutkan keningnya.

Rumina ikut menatap lantai, bingung. Tapi saat ia mengalihkan pandangan ke arah Maulana, matanya membulat. Darah mengalir pelan dari hidung mancung sahabatnya itu, membentuk garis tipis yang mengkhianati ketenangan wajahnya.

"Van..." Rumina menunjuk Maulana dengan telapak tangan yang gemetar. Namun sebelum kata berikutnya keluar, pandangannya memburam. Kepalanya berputar, dan tubuhnya tak lagi mampu berdiri.

"Kamu mimisan." 
Seketika Rumina pingsan.

Maulana terkejut. Ia yang seharusnya dirawat, justru kini harus menangkap tubuh sahabatnya yang tumbang. Ia menghela napas panjang, rasa syok bercampur lelah, lalu meraih sapu tangan dari saku jasnya. Dengan gerakan tenang, ia menutup hidungnya sendiri, menahan aliran darah yang tak diundang.

"Kamu ini merepotkan sekali, Rumina."

Suara itu keluar pelan, bukan sebagai keluhan, tapi sebagai bentuk kasih yang tak pernah diumbar. Perlahan, Maulana merendahkan tubuhnya, menopang Rumina dengan hati-hati, seolah dunia tak boleh tahu bahwa dua pemimpin Mizuruky Corp sedang kalah oleh tubuh mereka sendiri.

Di koridor yang biasanya dipenuhi strategi dan ambisi, kini hanya tersisa dua tubuh yang bicara lewat diam dan darah. Tubuh yang menolak peran, tubuh yang meminta jeda.

Dan Maulana tahu, ini bukan sekadar mimisan. Ini adalah alarm dari dalam, bahwa cinta, kerja, dan kepemimpinan tak bisa terus berjalan tanpa mendengar suara tubuh yang lelah.

Ruang CEO Mizuruky Corp di lantai 27 bukan sekadar tempat kerja. Di dalamnya, waktu sering berhenti, menyimpan strategi, kelelahan, dan rahasia yang tak pernah diumbar. Di sudut ruangan, sebuah ranjang berukuran besar berdiri tenang, biasanya menjadi tempat Maulana bersandar saat tubuhnya tak lagi mampu menahan beban dunia.

Hari ini, ranjang itu bukan milik Maulana.

Dengan gerakan pelan namun tegas, Maulana membawa tubuh Rumina yang tak sadarkan diri ke atas ranjang itu. Nafasnya masih teratur, tapi wajahnya pucat, dan tubuhnya terasa berat di pelukan sahabatnya. Maulana menatapnya sejenak, lalu meraih ponsel dari saku jasnya.

Tanpa banyak kata, ia menghubungi Fransis.

“Datanglah ke kantor. Sekarang.”

Suara Maulana datar, namun mengandung urgensi yang tak bisa dibantah. Fransis, yang sudah terbiasa membaca nada itu, tak bertanya. Ia hanya menjawab singkat, lalu bersiap.

Sementara itu, di jalanan Bingkara yang mulai dipenuhi cahaya sore, Fira duduk di kursi belakang mobil hitam yang melaju menuju Mizuruky Corp. Padahal pagi tadi ia sudah berada di sana, tapi entah kenapa, tubuhnya ingin kembali. Ada sesuatu yang belum selesai. Mungkin rindu, mungkin marah, atau mungkin keduanya.

Ia menatap keluar jendela, wajahnya menyimpan ekspresi yang tak bisa ditebak. Di dalam hatinya, ada gelombang kecil yang ingin meledak.

“Sekalian marah-marah,” gumamnya pelan, seolah memberi izin pada dirinya sendiri untuk tidak menahan rasa.

Begitu mobil berhenti di depan lobi utama, Fira segera turun. Langkahnya panjang, cepat, dan penuh tekad. Ia tidak menunggu dipersilakan. Ia tahu ke mana harus pergi.

Lift membawanya naik, lantai demi lantai, hingga angka 27 menyala. Pintu terbuka, dan Fira melangkah keluar tanpa ragu. Koridor menuju ruang CEO terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah tahu bahwa hari ini bukan tentang bisnis, tapi tentang tubuh dan amarah yang tak bisa ditunda.

Ia berdiri di depan pintu ruang CEO, tangan kanannya terangkat, siap mengetuk atau langsung membuka. Di balik pintu itu, ada Maulana yang sedang menjaga sahabatnya, dan ada ranjang yang menyimpan tubuh yang bukan miliknya.

Fira tidak tahu apa yang akan ia temukan. Tapi satu hal yang pasti: ia datang bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai perempuan yang tahu bahwa cinta kadang harus marah dulu sebelum bisa memeluk.

Terimakasih Imamku Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang