Episode 19

11 1 0
                                        

Fira masih duduk di atas tempat tidur, wajahnya kesal namun tak lagi tegang. Ia baru saja menyadari bahwa mimisan bukan selalu pertanda penyakit berbahaya dan itu membuatnya malu, bukan karena salah paham medis, tapi karena penyebabnya begitu absurd dan jujur.

Matanya melirik ke arah Maulana yang kini duduk tenang di sofa mewah, tubuhnya bersandar santai, wajahnya teduh seperti malam yang baru saja turun. Di sudut ruangan, Fransis masih sibuk membereskan peralatan medisnya, gerakannya cepat namun tetap elegan, seperti seorang aktor yang tahu bahwa panggungnya akan segera berganti.

Fira menunduk, lalu mengangkat wajahnya perlahan. Ia menggeleng pelan, mencoba mengusir bayangan tubuh Maulana yang entah kenapa terus muncul di benaknya. Ia merasa malu pada pikirannya sendiri, bagaimana bisa otaknya memikirkan tubuh seorang pria, apalagi suaminya sendiri, dengan cara seperti itu?

Fransis menoleh, senyumnya mengembang penuh geli. “Anak kecil, jangan banyak berhayal. Ivan masih di situ, tinggal kamu ajak main saja.” Suaranya ringan, namun mengandung ejekan yang hangat. Ia tertawa kecil, lalu meraih tas medisnya dan berjalan mendekati Maulana.

“Aku tunggu di ruang kerja mu,” katanya sambil melangkah keluar, meninggalkan kamar dengan pintu yang tertutup pelan, seolah memberi ruang bagi keheningan yang lebih intim.

“Hn.” Maulana menjawab singkat, suaranya datar namun tidak dingin. Ia bangkit dari sofa, langkahnya pelan namun pasti, lalu mendekati tempat tidur tempat Fira masih duduk.

“Sayang, kamu istirahatlah. Mas kerja dulu.” Ia mengulurkan tangan, menyentuh kepala gadis itu dengan gerakan yang lembut dan penuh kasih. Kali ini, Fira tidak menepis. Sentuhan itu terasa seperti selimut malam yang menenangkan.

Fira mengangkat wajahnya, menatap sang suami dengan mata yang jernih namun penuh keraguan. “Tunggu,” katanya pelan.

Maulana berhenti, keningnya mengerut sedikit, namun ia tidak bertanya. Ia hanya diam, menunggu dengan kesabaran yang tak dibuat-buat.

“Mas berbaringlah di sampingku.” Fira menepuk pelan sisi tempat tidur yang kosong, nadanya datar namun mengandung harap.

Maulana mengangguk, lalu berjalan memutar, gerakannya tenang seperti seseorang yang tahu bahwa malam ini bukan tentang pekerjaan, tapi tentang kehadiran. Ia membaringkan tubuhnya di samping Fira, matanya menatap langit-langit sejenak sebelum beralih pada istrinya.

Fira menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia ikut membaringkan tubuh, posisi miring menghadap Maulana. Tangannya bergerak ragu, namun akhirnya memeluk pinggang sang suami dengan pelukan yang tidak erat, tapi cukup untuk menyampaikan rasa.

Ada kehangatan yang menyusup ke dalam tubuhnya, rasa nyaman yang tak pernah ia rasakan saat bersama Andrian dulu. Pelukan itu bukan sekadar fisik, tapi semacam pengakuan diam-diam bahwa tubuh dan hati bisa saling menyembuhkan, tanpa perlu kata-kata.

Di luar jendela, angin malam masih menyentuh tirai beludru dengan lembut. Lampu gantung bergaya klasik memancarkan cahaya hangat yang membingkai tubuh dua manusia yang kini berbaring dalam diam, namun tidak dalam kesepian.

“Anu…” Suara Fira nyaris tenggelam dalam keheningan kamar. Ia bingung harus berkata apa. Sejak siang, kemesraannya pada sang suami hanyalah sandiwara yang ia mainkan dengan lihai tanpa rasa canggung, tanpa getar yang tulus. Tapi kali ini, tidak ada pura-pura. Yang tersisa hanyalah keraguan dan kejujuran yang belum sempat ia kenali.

Maulana tetap berbaring tenang, matanya menatap langit-langit kamar yang diterangi cahaya hangat dari lampu gantung klasik. Suaranya lembut, seperti embun yang menyentuh dedaunan dini hari.

“Jika ada yang ingin kamu katakan pada Mas, katakan saja.”

Fira menoleh perlahan, lalu mengangkat kepalanya dan meletakkannya di dada pria itu. Ia mendengar detak jantung Maulana, ritme yang stabil, tenang, dan entah kenapa membuat kantuk datang seperti pelukan kabut malam. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Maulana tersenyum kecil. Ia tahu, kali ini Fira tidak sedang bermain peran. Gadis itu terlihat manja, tapi bukan manja yang dibuat-buat. Ada keraguan, ya, tapi juga kejujuran yang mulai tumbuh pelan-pelan.

Ia menggerakkan tangan, memeluk tubuh mungil itu dengan lembut, lalu memutar posisi tubuhnya menjadi miring, menghadap sang istri. “Tidurlah, jangan khawatirkan apapun.”

Fira mengangguk pelan, suaranya nyaris seperti gumaman yang hanya bisa didengar oleh malam. “Ternyata tidur dalam pelukan seorang pria senyaman ini, apa mungkin dalam pelukan Kak Andrian juga nyaman?”

Maulana tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah istrinya yang masih bersandar di dadanya, lalu mengeratkan pelukannya, seolah ingin menegaskan bahwa tubuh ini bukan sekadar tempat beristirahat, tapi juga tempat berlindung.

“Jika nanti kamu tidur dengan Andrian, kamu langsung kasih tahu Mas. Mas tidak akan tahan kamu.”

Fira hanya mengangguk, polos. Ia tidak benar-benar mengerti maksud dari “tidak akan tahan”baginya, malam ini bukan tentang logika atau ancaman, tapi tentang kenyamanan yang baru ia temukan. Ia hanya ingin menikmati pelukan itu, detak jantung itu, dan keheningan yang terasa seperti doa.

Di luar jendela, angin malam masih menyentuh tirai beludru dengan lembut. Cahaya lampu bergoyang pelan, memantulkan bayangan dua tubuh yang kini saling menyatu dalam diam. Tidak ada kata cinta yang diucapkan, tapi setiap gerakan, setiap napas, adalah bentuk cinta yang tak perlu dijelaskan.

Fira telah tertidur lelap, napasnya teratur, wajahnya tenang seperti langit malam yang baru saja reda dari hujan ringan. Di sisinya, Maulana masih berbaring, matanya menatap langit-langit kamar yang kini redup dalam cahaya lampu gantung. Ia mengamati wajah istrinya sejenak, lalu perlahan bangkit dari posisi tidurnya.

Dengan gerakan penuh kehati-hatian, ia meraih selimut dan menyelimuti tubuh mungil Fira, memastikan setiap lipatan kain menutupi bahu dan kaki gadis itu dengan hangat. Lalu, ia menunduk, mengecup lembut kening sang istri, sebuah gestur yang tak hanya menyampaikan kasih, tapi juga janji yang tak bersuara.

“Istriku, aku akan selalu mencintaimu,” bisiknya pelan, nyaris seperti doa yang hanya ingin didengar oleh malam.

Ia berdiri, melangkah turun dari tempat tidur dengan langkah ringan agar tidak mengganggu tidur Fira. Suasana kamar begitu hening, hanya suara angin malam yang menyentuh tirai beludru merah marun, bergoyang pelan seperti ikut menjaga mimpi sang gadis.

Maulana berjalan menuju pintu kamar, tangannya menyentuh gagang dengan pelan. Ia membuka pintu sedikit, lalu menutupnya kembali dengan gerakan yang nyaris tak bersuara, seolah ia tahu bahwa keheningan adalah bentuk cinta yang paling tulus malam itu.

Di lorong Menara IMR, cahaya lampu dinding memantulkan bayangan tubuhnya yang tegap namun tenang. Ia melangkah menuju ruang kerja, tempat Fransis sudah menunggunya. Entah untuk memeriksa kondisinya, atau sekadar berbagi kekhawatiran yang belum sempat diucapkan. Maulana sendiri tidak tahu pasti.

Yang ia tahu, malam ini belum selesai. Tapi cinta telah menemukan tempatnya, di pelukan, di kecupan, dan di langkah yang tak ingin membangunkan mimpi siapa pun.

Terimakasih Imamku Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang