Episode 24

13 1 0
                                        

Suara mesin monitor berdetak pelan, seperti jam pasir yang meneteskan waktu dengan enggan. Di tengah ruangan yang dingin dan penuh aroma antiseptik, tubuh Maulana terbaring lemah, nyaris tak bergerak. Wajahnya pucat, napasnya ditopang selang, dan denyut nadinya seperti bisikan yang nyaris tak terdengar.

Fransis berdiri di sisi ranjang, matanya tak lepas dari wajah sahabatnya. Ada luka yang tak bisa ia sembuhkan, dan itu membuatnya merasa tak berguna. Ia menoleh pada Rumina, suaranya pelan namun tegas.

"Aku akan membawanya ke luar negeri."

Rumina terkejut, tubuhnya menegang. "Tapi bagaimana dengan Nyonya Muda? Bagaimana dengan perusahaan Mizuruky? Tanpa Pak Ivan, semua tidak akan bisa."

Fransis kembali menatap Maulana, matanya menyimpan keputusan yang tak bisa ditawar. "Sui akan mengurus perusahaan Mizuruky. Aku sudah dengar apa yang dilakukan Fira pada Ivan. Aku tahu anak itu sebenarnya memiliki rasa, hanya belum sadar. Aku juga tahu anak itu diam-diam menyiapkan surat cerai, hanya menunggu usia pernikahan sampai sebulan saja."

Kata-kata itu menghantam Rumina seperti badai. Ia terdiam, syok. Belum sebulan menikah dan Fira sudah menyiapkan jalan keluar?

Tak lama kemudian, pintu IGD terbuka. Sui datang bersama beberapa orang, langkahnya cepat dan pasti. Di tangannya, selembar kertas putih dengan tinta hitam yang sudah mengering.

Surat cerai.

Ia menyodorkannya pada Fransis. Tanpa ragu, Fransis mengambilnya, lalu menandatangani bagian Maulana dengan gerakan yang tenang namun getir. Tanda tangan itu bukan sekadar goresan pena, itu adalah keputusan. Sebuah garis yang memisahkan dua dunia.

"Katakan dia dan Ivan sudah bercerai."

Sui mengangguk, lalu pergi membawa surat itu, meninggalkan IGD dengan langkah yang tak bisa ditarik kembali.

Rumina masih berdiri di tempatnya, matanya tak lepas dari Fransis. Dalam hatinya, ia bertanya: kenapa dua sahabat Maulana bisa mengambil keputusan sebesar itu tanpa bertanya? Tapi ia tahu jawabannya. Karena mereka mengenal luka Maulana lebih dari siapa pun. Karena mereka tahu, waktu tak akan menunggu.

Mansion Mizuruky

Sementara itu, di kamar yang luas dan sunyi, Fira duduk di atas ranjang. Di tangannya, selembar kertas yang kini terasa lebih berat dari apa pun di dunia ini.

Surat cerai.

Tangannya gemetar saat membaca ulang nama yang tertera di bawah tanda tangan. Ivan Maulana Rizky. Tinta itu nyata. Garis itu tegas. Dan kini, semuanya telah selesai.

"Apa Mas Ivan sengaja tanda tangan karena aku selalu dingin padanya? Kenapa surat cerai ini masih ada? Kenapa sekarang setelah cerai, hatiku terasa tidak nyaman?"

Pertanyaan itu meluncur dari bibirnya seperti bisikan yang tak berharap jawaban. Tapi hatinya tahu. Ia tahu bahwa cinta itu ada. Ia tahu bahwa pelukan di kampus itu bukan sandiwara. Ia tahu bahwa Maulana adalah rumah yang tak pernah ia hargai.

Tanpa terasa, air mata menetes. Ia menaruh surat cerai itu di sampingnya, lalu menekuk kedua lutut, memeluk dirinya sendiri, dan menangis. Bukan karena kehilangan status. Tapi karena kehilangan kesempatan. Karena cinta yang baru terasa saat semuanya sudah terlambat.

Satu Tahun Kemudian

Rabu, 1 Januari 2025

Tahun baru datang tanpa kembang api. Tanpa pesta. Tanpa pelukan hangat. Hanya dingin yang merayap dari celah-celah dinding gubuk tua, menyusup ke tulang, dan menetap di dada.

Fira terdiam di atas ranjang usang, matanya menatap langit-langit yang retak. Jika setahun lalu ia masih berbaring di atas ranjang empuk berukuran king size, berselimut linen mahal dan cahaya lampu kristal yang berkilau, kini ia hanya ditemani bau lembap kayu lapuk dan suara tikus yang berlarian di atap.

Terimakasih Imamku Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang