Episode 16

12 0 0
                                        

Suara ketukan itu seharusnya membangunkan Maulana. Tapi tubuhnya sudah terlalu letih, telinganya berdenging, dan pandangannya kabur. Ia terjatuh pelan di samping tubuh Rumina, terbaring di ranjang besar yang biasanya menjadi tempatnya bersandar dari dunia yang tak pernah berhenti menuntut.

Di luar pintu, Fira berdiri dengan kesal. Ia sudah mengetuk beberapa kali, namun tak ada jawaban. Dengan gerakan cepat, ia mendorong pintu ruang CEO yang berat itu. Ruangan tampak sunyi, sepi seperti kantor yang telah ditinggalkan ambisi. Langkah Fira pelan, matanya menyisir setiap sudut, hingga pandangannya menangkap tirai yang bergoyang pelan, seolah menyimpan rahasia.

Ia mendekat, ragu, namun tangannya tetap menyibak tirai itu.

Matanya membulat. Di balik kain itu, Maulana tertidur sambil memeluk tubuh Rumina. Nafas Fira tercekat. Ia tidak melihat kelelahan, ia melihat pengkhianatan. Ia tidak melihat darah, ia melihat dugaan.

“Mas Ivan!” teriaknya, suara itu pecah di udara.

Namun bukan Maulana yang bangun. Rumina terlonjak, matanya langsung menatap sahabatnya yang masih terbaring. Wajah Maulana pucat, sisa darah masih membekas di hidungnya yang mancung.

“Van, hei Van bangun,” bisik Rumina, panik. Ia menepuk pipi sahabatnya pelan, namun tak ada respon. Ia menoleh ke Fira, matanya memohon.

“Kenapa masih berdiri?! Panggil ambulance!”

Fira memalingkan muka. Ia tidak mengerti, dan ia memilih untuk tidak ingin mengerti.

“Panggil saja sendiri,” jawabnya dingin.

Tanpa perasaan, Fira memutar tubuh dan meninggalkan ruangan itu. Di belakangnya, Maulana masih pingsan, dan Rumina masih berjuang.

Waktu bergulir. Pukul 19:00, Fira tiduran malas di kamarnya, menonton dracin tanpa ekspresi. Ia tidak memikirkan Maulana. Ia tidak bertanya apakah pria itu baik-baik saja. Ia memilih diam, memilih tidak peduli.

Namun pintu kamar terbuka. Maulana masuk, tubuhnya masih lemah, namun langkahnya mantap. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Fira dengan mata yang menyimpan banyak hal yang tak terucap.

“Sayang,” ucapnya pelan.

Ia tidak mengatakan apa pun tentang hasil pemeriksaan medis. Baginya, itu tidak penting. Yang penting adalah membuat gadis itu jatuh cinta padanya, lagi dan lagi.

Fira bangkit, duduk menghadap sang suami. Matanya tajam, namun suaranya tenang.

“Mas tidak ingin membawa ku ke rumah Mas yang asli?”

Maulana tersenyum tipis, senyum yang menyimpan luka dan harapan.

“Baiklah, ayo kita ke Menara IMR sekarang.”

Fira tersenyum bahagia, senyum yang tak menyimpan beban, hanya keinginan untuk berpindah ke kenyamanan berikutnya. Ia bangkit dari ranjang, melangkah ringan menuju lemari kecil di kamar sederhana itu. Tangannya cekatan membuka koper, memasukkan baju-baju dengan gerakan yang nyaris seperti tarian. Tak ada keraguan, tak ada jeda. Hanya keputusan untuk pergi.

Setelah koper tertutup, ia memutar tubuh dan berjalan menghampiri Maulana. 
“Ayo,” ucapnya singkat.

Maulana mengangguk pelan. Tubuhnya masih menyimpan sisa lelah, namun ia tetap bangkit, meraih koper milik sang istri, menyeretnya menuju pintu keluar. Di luar, malam telah turun dengan tenang, dan di bawah cahaya lampu jalan, mobil sedan hitam mewah terparkir seperti janji yang tak pernah gagal ditepati.

Fira tersenyum melihatnya, senyum yang lebih ditujukan pada kemewahan daripada pada Maulana. Seorang supir segera menyambut koper dari tangan Maulana, memasukkannya ke dalam bagasi dengan gerakan profesional.

Fira masuk ke dalam mobil, duduk dengan anggun, lalu bersandar pada sang suami. Dari luar, mereka tampak seperti pasangan romantis yang baru saja memulai babak baru. Tapi di dalam, hanya Maulana yang tahu,  saat tubuhnya pingsan dan membutuhkan pertolongan, gadis itu justru pergi tanpa peduli.

“Jalan,” ucap Maulana kepada supir, suaranya datar namun tetap berwibawa.

Mobil melaju pelan, meninggalkan rumah kontrakan yang selama ini menjadi tempat singgah, tempat Maulana menyimpan diamnya. Di tengah sunyi malam, hembusan angin menyapu udara, roda mobil menggelinding membelah jalanan Bingkara yang mulai sepi.

Maulana menoleh perlahan, menatap wajah Fira yang bersandar di bahunya. 
“Apa kamu mencintai Mas?” tanyanya lembut, penuh harap yang nyaris tak terdengar.

Fira menjawab tanpa jeda, tanpa beban. 
“Jangan harap! Aku bersama Mas karena Mas kaya. Nanti jika Kak Andrian sudah kaya seperti Mas, aku akan bersamanya.”

Jawaban itu meluncur ringan, seperti angin yang tak peduli siapa yang diterpa. Tapi Maulana hanya tersenyum kecil. 
“Itu mungkin lebih baik,” ucapnya, menoleh ke arah jalan raya yang terbentang panjang di depan mereka.

Ia tahu tubuhnya sedang berperang diam-diam. Ia tahu bahwa tanpa donor sumsum tulang belakang, kanker dalam tubuhnya akan terus tumbuh, berubah menjadi stadium akhir yang tak bisa lagi diobati. Tapi ia tidak bicara soal itu. Ia hanya menatap malam, seolah mencari jawaban di antara lampu jalan yang berkelip.

Fira mengernyit, dahi berkerut mendengar jawaban Maulana. Ia mengangkat kepala, menatap wajah tampan sang suami dari bawah. 
“Kenapa? Apa Mas sangat berharap?!”

Maulana mengangguk tanpa sadar. Bukan karena ia tak tahu bahwa cinta Fira rapuh, tapi karena ia khawatir, jika waktu tidak cukup, maka gadis itu akan sendirian. Dan meski ia tahu Fira tidak mencintainya, ia tetap ingin menjadi pelindung terakhir sebelum dunia berubah terlalu cepat.

Menara IMR berdiri megah di tengah kota Bingkara, fasadnya memantulkan cahaya senja yang mulai merunduk. Di halaman depan, mobil sedan hitam berhenti dengan tenang, seperti tahu bahwa hari ini bukan tentang bisnis, tapi tentang peran yang akan dimainkan tanpa cinta.

Supir keluar dari mobil, membukakan pintu dengan gerakan yang sudah terlatih. Maulana melangkah keluar, tubuhnya tegak namun menyimpan lelah yang tak terlihat. Di belakangnya, Fira menyusul, langkahnya ringan, senyumnya terlatih.

Ia segera menghampiri Maulana, memeluk lengan pria itu dengan gaya yang manis namun tidak dalam. 
“Mas, aku akan menjadi istri yang baik di depan Ayah dan Ibu mertua.”

Maulana menoleh, suaranya tetap tenang, tidak terguncang oleh harapan yang tidak ia miliki. 
“Kita akan tinggal berdua di sini, hanya ada para pelayan. Tidak ada mertua.”

“Oh.” 
Fira langsung melepaskan pelukannya, seolah cinta itu hanya berlaku jika ada penonton.

“Baguslah, kalau begitu nanti aku mau tidur di kamar sendiri.” 
Ia berjalan masuk, tidak menoleh, tidak menunggu, tidak memperdulikan Maulana yang tetap berdiri di belakangnya.

Maulana mengikuti, langkahnya pelan namun pasti. Ia tahu,  jika Fira ingin tidur sendiri, maka ia tidak akan memaksa. Karena di balik keinginan itu, ada ruang yang bisa ia jaga, ruang di mana sakitnya tidak perlu diketahui, di mana tubuhnya bisa lemah tanpa menjadi tontonan.

“Ini kamarmu,” ucap Maulana, suaranya tetap tenang, seperti penjaga hotel yang tidak berharap tamu akan tinggal lama.

Fira mengangguk. Ia menoleh, lalu mencium pipi sang suami dengan gerakan yang manis namun tidak menyentuh hati. 
“Baiklah, aku mau tidur.”

Gadis itu menutup pintu dari dalam. Tidak ada salam, tidak ada pelukan, hanya bunyi pintu yang menjadi batas antara status dan rasa.

Maulana tersenyum miring. 
Seandainya perlakuan istrinya itu lahir dari cinta, mungkin rasanya akan lebih menyenangkan. Tapi ia tahu, pelukan itu bukan pelukan, ciuman itu bukan ciuman. Itu hanya ritual status, keinginan menjadi nyonya besar, bukan keinginan menjadi pendamping tubuh yang sedang berperang diam-diam.

Dan malam pun turun di Menara IMR, membawa keheningan yang tidak perlu dijelaskan.

Terimakasih Imamku Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang