Perlahan Maulana meletakkan tubuh mungil sang Istri ke atas tempat tidur dengan hati -hati."Apakah tadi kamu menunggu Mas?"
Fira mengangguk, ia merubah posisi tidurnya menjadi duduk, pandangannya menatap sang Suami penuh tanda tanya.
Maulana ikut duduk di tepi ranjang, ia menghela nafas, mengingat kembali apa yang disampaikan oleh dokter tentang kondisi kesehatannya namun ia ragu untuk mengatakan pada sang Istri.
Maulana yakin Istrinya tidak akan sedih atau merasa kehilangan bila dirinya pergi, namun ia tetap khawatir bagaimana kehidupan gadis itu tanpa dirinya.
Fira terbiasa hidup serba kecukupan saat bersama orang tuanya dan selalu mengeluh saat tinggal bersama dengannya di rumah kontrakan sederhana.
Rencananya hari ini akan membawa sang Istri Mension Mizuruky namun ternyata dirinya harus dilarikan ke rumah sakit, meski dokter tidak mengizinkan dirinya pulang namun ia tetap memaksa kembali karena khawatir pada Istrinya.
Fira mengernyit melihat Maulana diam tidak mengatakan apapun dengan wajah tanpa ekspresi, tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan selalu menggodanya.
"Tadi Mas kemana? Apakah bertemu dengan selingkuhan Mas?"
Maulana sedikit terkejut, ia menoleh pada sang Istri dengan tatapan heran."Apakah tidak ada pertanyaan lain, Istriku?"
Fira mendengus kesal kemudian kembali merebahkan diri di atas tempat tidur dengan posisi miring memunggungi Maulana.
Maulana menggelengkan kepala melihat sikap Fira, ia ikut merebahkan diri di samping sang Istri, menghadapkan tubuh pada Istrinya.
Maulana mengangkat tangan meraih pinggang sang Istri dan menariknya dengan lembut mendekat padanya."Apakah kamu masih mencintai Andrian?"
"Ya, sampai sekarang aku masih mencintai Kak Andrian." Fira menjawab dengan tegas tanpa ada sedikitpun keraguan.
Maulana menghela nafas, padahal sudah tahu akan mendapat jawaban seperti ini namun masih tetap sakit ketika mendengar secara langsung dari sang Istri.
"Lalu kenapa tadi di kantor menolak?"
"Aku memang masih mencintai Kak Andrian, aku tidak bisa menghapusnya secara langsung. Tapi aku juga tidak bodoh dan bukan wanita pengkhianat, meski aku belum bisa mencintai Mas, aku juga tidak akan berkhianat pada Mas." Fira menjelaskan dengan kesal.
Maulana mengeratkan pelukannya pada Sang Istri."Baiklah, Mas akan selalu sabar menunggu. Tidurlah..."
Fira merasa ada yang tidak beres pada sang Suami, namun juga tidak tahu kenapa, ia pun mulai memejamkan matanya dengan perasaan tenang dan lega.
***
Andrian baru kembali, ia mengulurkan tangan membuka kenop pintu rumah."Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Suara seorang gadis cantik berusia 16 tahun menjawab salam darinya.
Andrian masuk ke dalam rumah, di ruang tamu terlihat Ayah, Ibu serta Adiknya duduk santai.
Andrian menoleh sejenak pada keluarganya, ada perasaan jengkel melihat Adik perempuannya, dulu hubungannya kandas dengan Fira karena dirinya dijebak oleh sang Adik dan Fira melihat Andrian bersama wanita lain di dalam kamar berduaan, Fira mengira dirinya selingkuh dan gadis itu minta putus dengan air mata mengalir.
Gadis cantik itu menoleh pada Andrian, menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Rian, kamu sudah makan?" Ulfi nama Ibunya Andrian bertanya dengan penuh perhatian.
Andrian menggelengkan kepalanya."Rian tidak lapar, Ma. Rian ke kamar dulu."
Ulfi mengangguk, ia merasa aneh dengan sikap anaknya hari ini, pagi saat berangkat kerja untuk hari pertama terlihat ceria namun kembali dengan muram.
Ulfi menoleh pada Zaida, anak bungsunya."Ada apa dengan Kakakmu?"
Zaida mengangkat kedua bahu."Mana aku tahu, Ma."
Ulfi menghela nafas panjang, ia hanya bisa berharap Andrian baik-baik saja.
***
Pagi hari dimulai dengan sinar matahari yang perlahan-lahan menyusup melalui jendela kecil, memberikan cahaya lembut pada ruangan. Udara pagi masih sejuk dan tenang, membawa aroma kopi atau teh yang baru diseduh. Suara burung-burung di luar jendela menambah kesan alami dan damai.
Di dalam rumah, penghuni mulai bangun dari tidurnya, meregangkan badan dan menguap sambil membuka mata. Mereka kemudian menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana, seperti nasi goreng atau roti panggang, sambil mendengarkan suara-suara pagi yang menenangkan.
Suasana pagi di rumah kontrakan sederhana ini bisa menjadi momen yang tenang dan damai, sebelum penghuni memulai aktivitas sehari-hari. Kehangatan dan kesederhanaan rumah kontrakan ini memberikan rasa nyaman dan damai bagi penghuninya.
Seperti biasa Maulana menyiapkan makan pagi untuk makan bersama sang Istri, saat ia mencuci kembang kol tiba-tiba kepalanya kembali nyeri.
Maulana memegangi kepalanya, tak lama kemudian Fira datang dengan kemeja putih dan rok hitam selutut, ia tak memakai kerudung karena ingin melamar kerja di perusahaan Mizuruky.
Fira memperhatikan sang Suami dari belakang, ia pun berjalan perlahan mendekati Suaminya lalu menyentuh punggung pria itu pelan.
"Mas."
Maulana terkejut kemudian menurunkan tangannya dan memutar tubuh menghadap sang Istri, ia tersenyum lembut menatap sang Istri.
Maulana memperhatikan Fira dari ujung kaki hingga ujung kepala."Sayang, kenapa kamu memakai pakaian tidak sopan seperti ini?"
Fira terkejut Maulana mengatakan pakaiannya tidak sopan, ia mendengus sebal."Mas! Apanya yang tidak sopan?! Aku lihat pegawai di kantor Mas banyak yang memakai baju seperti ini, itu kemarin wanita itu pakaiannya lebih tidak sopan lagi. Mas tidak mengatakan apapun, kenapa sekarang Mas bilang aku tidak sopan?!"
Maulana tersenyum kecil, ia menggerakkan tangan menyentuh pipi putih gadis itu, membelai dengan lembut.
"Sayang, kamu adalah Istri Mas. Mas tidak ingin kamu mengumbar aurat, itu tidak boleh sebagai seorang Muslimah."
Fira menepis tangan Maulana dengan kasar, ia bersedekap dada dan membuang muka.
Maulana mengernyit menahan nyeri di kepala, ia pun berjalan melewati Fira tanpa mengatakan apapun.
Fira terdiam heran melihat Maulana tidak bicara lagi, biasanya pria itu akan terus bicara bahkan menyuruhnya ganti pakaian, namun sekarang pergi begitu saja melewatinya.
Di dalam kamar Maulana membuka laci lalu mengambil beberapa botol obat, ia mulai mengeluarkan beberapa butir dan memasukkan ke dalam mulut.
Maulana kembali memasukkan botol obat ke dalam laci, ia memutar tubuh menyandarkan tubuh pada laci tersebut.
"Aku harus segera mencari donor sum sum tulang belakang, aku tidak ingin meninggalkan Istri ku sendiri. Dia masih butuh bimbingan."
Setelah rasa nyeri reda, Maulana berjalan ke arah lemari pakaian, ia mengulurkan tangan membuka pintu lemari dan mengambil kemeja biru gelap dan jas hitam.
Di dapur Fira kembali memutar tubuh berjalan ke arah kamar, ia mengintip sang Suami dari cela pintu yang sedikit terbuka.
Maulana melirik sang Istri, ia tersenyum kecil melihat tingkah gadis itu.
"Masuklah, Sayang. Tidak ada larangan bagi seorang Istri melihat tubuh Suaminya meski itu tanpa sehelai benang pun."
Fira terkejut karena ternyata Maulana mengetahui dirinya sedang mengintip, ia pun menegakkan tubuhnya kembali dan menggerakkan tangan membuka kenop pintu.
Fira berdiri di ambang pintu melihat Maulana mengancingkan satu persatu kancing kemejanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terimakasih Imamku
RomanceFiranda Firdaus dipaksa menikah dengan Ivan Maulana Rizky untuk menutupi aib keluarga, gadis 18 tahun kehilangan mahkota setelah dua malam tidak pulang bersama pacarnya
