Episode 17

12 1 0
                                        

Sekitar pukul 19:00, Fira melangkah keluar dari kamarnya. Langkahnya ringan, namun hatinya penuh waspada. Di ujung lorong, meja makan telah tertata rapi, namun suasananya jauh dari hangat. Di sana duduk Maulana bersama Victoria dan Steven, dua sosok yang secara hukum adalah orang tua, namun secara batin tak pernah benar-benar menjadi pelindung bagi putra sulung mereka.

Fira menarik napas, lalu menyunggingkan senyum yang telah ia latih bertahun-tahun untuk menghadapi dunia yang tak ramah.

“Assalamualaikum, Ayah, Ibu,” sapanya lembut.

Victoria dan Steven hanya mengangguk, tanpa kata, tanpa kehangatan. Fira duduk di sisi Maulana, menahan rasa tak suka yang mengendap terhadap mertuanya. Ia tahu, satu gerakan salah bisa membuatnya diusir dari rumah megah ini.

Steven membuka suara, nadanya seperti palu yang memukul meja sidang.

“Van, Ayah minta sekarang kamu tanda tangan berkas itu. Biar Adikmu bisa segera ke kantor.”

Maulana tak langsung menjawab. Ia meraih sepotong roti, mengolesinya dengan selai, lalu meletakkannya di piring sang istri. Gerakannya tenang, penuh perhatian yang tak pernah dipamerkan.

“Farhan masih belum memenuhi syarat, Ayah,” ucapnya pelan.

Ia menoleh pada Fira, senyumnya lembut, seolah ingin melindungi gadis itu dari badai yang sebentar lagi akan datang.

“Makanlah.”

Fira mengangguk, lalu mulai menggigit roti itu. Ia tak ingin ikut campur dalam urusan keluarga besar suaminya. Ia tahu, meja makan ini bukan tempat untuk logika atau cinta, tapi arena pertarungan ego dan warisan.

Steven mengangkat alis, lalu mengungkit masa lalu yang telah lama dibayar lunas.

“Kenapa kamu perhitungan sekali pada Adikmu?! Bagaimanapun juga, harta yang kamu miliki itu awalnya dari Ayah.”

Maulana tetap tenang, suaranya tak meninggi, hanya menegaskan kebenaran yang tak bisa dibantah.

“Mungkin Ayah lupa, aku sudah mengembalikan semua pinjaman dana yang ku terima dari Ayah.”

Brak!

Suara meja digebrak memecah keheningan. Steven bangkit, matanya menyala tajam, seperti bara yang tak pernah padam.

“Dasar anak durhaka! Kamu sombong sekali, Ayah minta bantuan saja tidak kamu beri. Ayah menyesal membesarkanmu!”

Tanpa menunggu jawaban, Steven membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan meja makan. Langkahnya berat, namun penuh kemarahan yang tak pernah selesai.

Maulana tetap diam. Ia sudah terbiasa dianggap durhaka. Dalam hidupnya, apapun yang ia lakukan selalu salah. Bahkan pernah, Steven menghitung semua biaya membesarkannya dan meminta ganti rugi, seolah cinta orang tua bisa ditakar dengan angka.

Fira menoleh, menatap wajah suaminya. Ekspresi Maulana datar, namun Fira tahu, di balik ketenangan itu ada luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Victoria memandang putranya dengan mata yang menyimpan iba. Ia tahu, jika saja Maulana tahu bahwa Steven bukan ayah kandungnya, mungkin pria itu tak akan terlalu tunduk pada perintah yang tak pernah membawa cinta.

Namun rahasia itu tetap tersimpan. Seperti meja makan yang tak pernah menyambut, hanya menyajikan tuntutan dan penghakiman.

“Van, apa kamu sungguh tidak bisa membiarkan adikmu di perusahaan?” suara Victoria terdengar lebih lembut dari biasanya, seperti embun yang ragu menyentuh tanah.

Maulana menatapnya. Pandangannya tidak tajam, tapi dalam. Ia menatap wanita yang telah melahirkannya, namun tak pernah benar-benar memeluknya.

“Farhan belum memenuhi syarat, Ibu. Aku tidak bisa main-main dengan perusahaan. Bukankah aku sudah pernah memberi Farhan kesempatan di perusahaan cabang? Faktanya, dia membuat perusahaan itu nyaris bangkrut.”

Terimakasih Imamku Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang