Episode 14 - Debar yang Tak Terdefinisi
Pukul sepuluh pagi, sinar matahari menyelinap lembut melalui kaca rumah sakit Bingkara, menyentuh lantai marmer yang dingin dan bersih. Di ruang IGD yang sunyi, Fira terbaring di atas brankar, tubuhnya diam namun jiwanya bergemuruh. Wajahnya tertunduk, pipi memerah seperti kelopak mawar yang baru disentuh embun. Ia tak bicara, hanya membiarkan waktu berjalan di antara detak jantung yang tak biasa.
Dokter yang memeriksanya, Fransis Lonenlis, pria 30 tahun dengan senyum yang tenang mengangguk pelan setelah membaca hasil pemeriksaan. Tak ada gejala medis yang mengkhawatirkan. Namun ketika Fira, dengan suara nyaris berbisik, mengaku bahwa dadanya selalu berdebar saat berada dekat sang Suami, senyum dokter itu melebar, hangat dan penuh pengertian.
"Itu tanda cinta," katanya, seolah menyimpulkan seluruh ilmu kedokteran dalam satu kalimat sederhana.
Di sisi brankar, Maulana duduk tenang. Jas putihnya masih rapi, namun sorot matanya tak lagi dingin seperti pagi tadi. Ia menatap istrinya dengan senyum yang nyaris tak tertahan, menahan tawa yang ingin meledak melihat ekspresi malu sang gadis.
"Sayang, apakah kamu masih ingin dirawat di sini atau bagaimana?" tanyanya, dengan nada yang dibuat serius agar tak memancing kemarahan.
Fira tak menjawab. Ia hanya bangkit perlahan dari posisi berbaring, tubuhnya tegak namun hatinya masih bergetar. Tanpa sepatah kata, ia melangkah menjauh, meninggalkan Maulana yang masih duduk di sisi brankar.
Fransis, yang menyaksikan adegan itu dari sudut ruangan, tersenyum kecil. "Istrimu benar-benar lucu," katanya, nada suaranya ringan seperti angin sore.
Maulana menoleh, menanggapi dengan senyum yang tak kalah lembut. "Ya, seperti itulah istriku." Ia berdiri, menepuk pelan bahu sahabat lamanya itu. "Aku pergi dulu."
Langkah Maulana meninggalkan IGD terasa berat, bukan karena lelah, tapi karena ada sesuatu yang tak bisa ia kendalikan: sikap Fira yang tak terduga.
Di luar rumah sakit, di tepi jalan raya yang mulai ramai, Fira berdiri sendiri. Angin pagi mengibarkan ujung kerudungnya, dan matanya menatap lurus ke arah jalan, menunggu taksi yang lewat. Padahal ia datang dengan mobil pribadi, bersama Maulana.
Maulana sempat ingin memanggil, menegur, atau sekadar menahan langkah sang Istri. Namun sebelum ia sempat bicara, Fira sudah melangkah cepat, membuka pintu taksi yang berhenti, dan masuk tanpa menoleh.
Pintu taksi tertutup. Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan Maulana yang hanya bisa menghela napas panjang, berdiri di bawah langit yang mulai memutih.
Ia menatap jalan yang kini kosong, lalu menunduk sejenak. Dalam diam, ia tahu, cinta bukan hanya tentang debaran, tapi juga tentang memahami diam yang tak bisa dijelaskan.
Langkah Maulana terasa berat saat ia memutar tubuh, dan untuk sesaat dunia di sekelilingnya seolah bergoyang. Denyut tajam menghantam pelipisnya, membuat pandangan mata kabur seperti kaca berembun. Ia berhenti sejenak, menahan tubuh agar tak tersungkur. Beberapa menit berlalu, dan penglihatannya kembali terang, namun rasa nyeri itu menyisakan tanda tanya yang tak ia punya waktu untuk jawab.
Ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuhnya, ia tahu itu. Tapi kesibukan telah menjadi tameng, menunda segala bentuk perhatian terhadap diri sendiri.
Tanpa banyak bicara, Maulana melangkah menuju mobil hitam yang telah disiapkan. Ia masuk, menyandarkan tubuh sejenak, lalu memberi perintah dengan suara datar namun tegas.
"Kembali ke kantor."
Sang supir mengangguk, dan mobil pun melaju, meninggalkan rumah sakit dan segala pertanyaan yang belum sempat dijawab.
Di sudut lain kota, Universitas Bingkara berdiri tenang di bawah langit yang mulai menghangat. Fira turun dari taksi dengan langkah mantap, namun wajahnya menyimpan dingin yang tak biasa. Ia menolak untuk menerima bahwa dirinya jatuh cinta pada Maulana. Ia menolak keras, seolah cinta itu adalah kelemahan yang harus disangkal.
Ia berjalan menuju ruang kelasnya. Hari ini ada kelas kesenian, ruang yang biasanya penuh warna dan tawa, namun baginya kini hanya tempat pelarian dari perasaan yang tak ingin diakui.
Di dalam kelas, suasana sudah hidup. Beberapa mahasiswa sibuk bercakap, beberapa tenggelam dalam layar laptop, dan sisanya larut dalam dunia masing-masing. Fira memilih duduk di kursi tengah, tempat yang cukup strategis untuk tidak terlalu terlihat namun tetap bisa mengamati.
Di sampingnya, Antonio Hernandez sudah duduk. Pria itu selalu mengejar cintanya, dengan cara yang kadang terlalu terang, kadang terlalu lembut.
Antonio memutar tubuh, menatap Fira dengan sorot mata penasaran. "Kenapa kamu?"
Fira menggeleng pelan, suaranya datar namun mengandung ledakan yang tersembunyi. "Aku butuh pacar baru."
Sebenarnya, ia tidak butuh pacar. Ia hanya ingin membuktikan bahwa dirinya tidak menyukai Maulana, bahwa diagnosis dokter hanyalah kesimpulan sembrono. Ia ingin membalikkan narasi, menulis ulang kisahnya sendiri.
Antonio terkejut. Matanya membesar, seolah kesempatan yang selama ini ia tunggu akhirnya datang. "Aku bersedia jadi pacarmu."
Fira tersenyum ragu. Kata-kata itu sudah terlanjur keluar, dan ia tahu bahwa tak ada jalan mundur. Ia hanya bisa mengangguk, meski hatinya belum sepenuhnya ikut serta.
Dalam diam, pikirannya bergolak.
"Apa Mas Ivan akan marah atau dia akan langsung menceraikan ku? Tapi bagaimana kalau seperti dalam drama? Dia akan semakin mengejar ku."
Ia bicara dalam hati, membayangkan skenario yang tak pasti. Antara dendam kecil dan harapan samar, Fira berdiri di persimpangan antara logika dan rasa yang tak bisa ia kendalikan.
Gedung Mizuruky Corp menjulang megah di tengah kota, fasadnya berkilau seperti berlian yang menjadi jantung bisnisnya. Di depan pintu masuk utama, sebuah mobil hitam berhenti perlahan. Dari dalamnya, Maulana turun dengan gerakan tenang. Wajah tampannya terlihat sedikit pucat, namun langkahnya tetap tegas, seperti seorang raja yang tak pernah menunjukkan kelemahan di hadapan istana.
Rumina, asisten sekaligus sahabat yang telah lama mendampingi Maulana dalam suka dan strategi, menyambutnya dengan tatapan khawatir. "Hari ini kamu ada meeting, tapi ..." ucapnya, nada suaranya menggantung di udara.
Mereka berjalan berdampingan menuju lift, dan Rumina tak bisa menahan diri untuk mengungkapkan apa yang ia lihat. "Kamu pucat."
Maulana tidak merespon. Bukan karena marah, tapi karena lelah. Ia terlalu malas untuk menanggapi ucapan Rumina, meski tahu tak ada yang salah dalam pengamatan pria itu. Diamnya bukan penolakan, melainkan bentuk dari keheningan yang menyimpan banyak hal.
Lift terbuka di lantai 25, dan keduanya melangkah keluar. Koridor menuju ruang meeting dipenuhi cahaya alami yang menyelinap dari jendela kaca besar, memantulkan kilau lantai marmer dan aroma strategi yang menggantung di udara.
Di dalam ruangan, para eksekutif telah hadir. Mereka duduk rapi, menunggu satu sosok yang menjadi poros dari seluruh keputusan: Maulana.
Ia melangkah masuk, jas putihnya memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang menggantung di atas meja oval berlapis kaca. Tanpa banyak basa-basi, ia duduk di ujung meja, tempat yang memang disiapkan untuk pemimpin yang tak hanya memerintah, tapi juga mengarahkan arah dunia.
Di hadapannya, layar besar menampilkan grafik penjualan berlian dari cabang Tokyo dan Dubai. Angka-angka itu bergerak, naik turun, seperti denyut nadi pasar yang tak pernah tidur.
Maulana mengangguk pelan, lalu membuka map biru yang tadi ia bawa dari rumah sakit. Di dalamnya, bukan hanya laporan, tapi juga rencana yang telah ia susun dalam diam.
"Kita akan luncurkan koleksi Eternal Light bulan depan. Saya ingin kampanye ini menyentuh bukan hanya pasar, tapi hati."
Suara Maulana tenang, namun mengandung kekuatan yang tak bisa dibantah. Ia tidak hanya bicara tentang berlian, tapi tentang cahaya yang mampu menyentuh sisi terdalam manusia, tentang keindahan yang bukan sekadar kilau, tapi makna.
Ruangan itu hening sejenak, lalu mulai bergerak. Para eksekutif mencatat, berdiskusi, dan menyusun strategi. Tapi satu hal yang tak bisa mereka tiru dari Maulana adalah caranya memimpin, dengan ketenangan yang menyimpan badai, dan visi yang melampaui angka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terimakasih Imamku
RomanceFiranda Firdaus dipaksa menikah dengan Ivan Maulana Rizky untuk menutupi aib keluarga, gadis 18 tahun kehilangan mahkota setelah dua malam tidak pulang bersama pacarnya
