"ngapain lo masih disini?! Gak ada kelas ?!"
Suara pintu kamar terbuka diikuti ucapan sinis dari istrinya, pandangan nathan mengedar yang ingin meletakkan nampan berisi sarapan istrinya.
"sarapannya dimakan dulu." ucap nathan sambil memberika semangkok bubur kepada kiara.
Kiara buru-buru memberi tatapan peringantan kepada nathan, yang hendak membantunya untuk duduk. "gue bisa sendiri!"
"selesai sarapan kita ngomong bentar ya, aku tinggal bentar."
Kiara tersenyum hambar, menyembunyikan dadanya yang sesak. Itu bukan pertama kalinya ia melihat nathan dengan floryn, tapi efeknya masih sama membuatnya sakit hati.
"kenapa hal ini terjadi lagi"
"Andai saja pernikahan ini tidak terjadi"
Untuk beberapa saat, kiara tidak ingin mengingatnya kembali. Kalaupun suaminya menjelaskan yang sebenarnya, ia hanya perlu menerimanya dan mempercayainya kembali.
Sebuah panggilan masuk menampilkan nama Brian di layar ponselnya. Lagi lagi ia dibuat pusing dengan brian yang selalu mengusiknya. "hallo?"
Beberapa saat kemudian..
Sesaat, Nathan menghampiri kiara yang telah menyelesaikan panggilannya dengan seseorang yang Nathan tidak tau.
"apa bisa ngejelasin ke kamu sekarang ra?"
"silahkan."
"aku gak ada apa-apa sama floryn, dia hanya pura-pura jatoh agar kamu salah paham ra, aku sama sekali gak cium dia." ucap nathan menjelaskan kepada kiara.
"dan untuk di perpustakaan dia yang tiba-tiba pegang tangan aku, tapi langsung aku tepis mungkin kamu gak melihatnya karan buru-buru pergi. sumpah babe!" timpa nathan.
Dengan helaan nafas berat. "iya aku percaya. Tapi inget ya nath, kita ini bukan lagi pacaran sebulan dua bulan bisa putus, kita suami-istri jadi kalau kamu gak bisa bersikap yang tegas ya terpaksa aku nyerah terserah kamu mau gimana aku udah gak peduli!"
"trust me! Cuma kamu ra, satu-satunya yang membuat aku secinta ini sama kamu." jelas nathan sambil memegang tangan kiara dengan tatapan sedih.
Selama beberapa detik mereka hanya berpandangan. Kiara yang enggan untuk bersuara hanya menatap sendu kearah suaminya yang kini menampilkan tatapan kesedihan.
Sementara nathan yang masih menatap kiara kini mulai menenggelamkan wajahnya kearah leher istrinya setelah mencium singkat bibir kiara, dan membuat kiara sedikit kaget dengan sikap nathan.
*****
Kiara menatap cermin dengan malas, kini ia sudah memasuki semester 4 dalam perkuliannya dan sebentar lagi keduanya akan mendekati kelulusan karna hanya 6 semester yang mereka ambil dalam program fast-track perkulihan. Selama ini hubungannya dengan nathan berjalan dengan baik tanpa ada gangguan dari floryn dan brian, entah kenapa mereka sudah tidak mengusiknya kembali. Tapi bagi kiara ia harus tetap berhati-hati karna floryn juga bisa berbuat diluar nalar dan bisa membahayakan dirinya dengan nathan.
"nath.. setelah lulus kita menetap disini atau bakal balik ke indonesia?" tanya kiara sambil menonton netflix dengan nathan.
"kamu maunya gimana, hm?" tanya nathan.
"kalau aku mau pulang aja gimana dengan pekerjaan kamu disini?"
"iya gapapa aku resign ra, kan di indo aku disuruh meneruskan perusahaan papa."
"yakin gapapa?" tanya kiara
"yakin sayang."
Kiara menghela nafas memikirkan sikapnya ini egois atau tidak, karna di lain sisi ia kangen dengan keluarga di indonesia akan tetapi dia juga bersikap egois kepada suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
NATHAN [SELESAI]
Teen Fiction"Ngapain harus pindah sekolah sih mah..pah?!" Ucap kiara sambil memohon agar tetap tinggal dirumah lamanya. "Karna papa dipindah tugaskan di jakarta ara sayang" jawab papa kiara sambil kasih pengertian. "Udh beres semua kan? Ayo kita berangkat ke b...
![NATHAN [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/284374249-64-k272530.jpg)