Part 53

366 13 0
                                        

Kiara masih berdiri di kamar mandi, testpack itu kini tergenggam di tangannya. Dua garis yang tadi membuatnya tersenyum kini justru menghadirkan perasaan lain—rasa takut yang perlahan menyusup di sela-sela kebahagiaan.

Senyumnya memudar. Ia menurunkan tangannya, menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Aku masih kuliah..." gumamnya pelan, nyaris berbisik. "Aku siap, nggak ya?"

Pikirannya berlari ke tugas-tugas yang menumpuk, jadwal kuliah, dan rencana-rencana yang belum sepenuhnya selesai. Lalu bayangan Nathan muncul—wajah suaminya, perhatian kecilnya, caranya selalu menenangkan. Dadanya kembali terasa sesak.

"Belum bilang ke Nathan..." ucapnya lirih, suaranya bergetar.

Ia takut—takut jika waktu ini terasa terlalu cepat, takut menjadi egois, takut mengecewakan. Tangannya kembali menyentuh perutnya, kali ini lebih ragu, lebih hati-hati.

"Tapi kamu sudah ada..." bisiknya, seolah berbicara pada dirinya sendiri dan kehidupan kecil yang kini bersamanya.

Kiara menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Di antara bahagia dan cemas, ia tahu satu hal pasti—ia tak ingin menghadapi semua ini sendirian. Namun untuk saat ini, ia memilih diam sejenak, menyimpan kabar itu di dalam hati, sambil mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya pada Nathan.

.

.

.

Pukul satu siang

Pintu rumah terbuka pelan. Nathan masuk sambil melepas jasnya, wajahnya terlihat lelah namun langsung berubah lembut saat melihat Kiara duduk di sofa.

"Aku pulang sayang," ucapnya sambil tersenyum.

Kiara menoleh. "Hm... iya," jawabnya pelan.

Nathan mendekat, lalu duduk di samping Kiara. Seperti biasa, ia meraih Kiara dan mengecup puncak kepalanya. Namun baru saja aroma tubuh Nathan—campuran parfum dan bau khas sehabis bekerja—tercium, Kiara spontan menegang.

Ia menutup mulutnya cepat. "Nathan... tunggu," katanya tergesa.

Nathan langsung menjauh sedikit. "Kenapa? Kamu kenapa?"

"Aku..." Kiara menelan ludah, wajahnya memucat. "Baunya... aku jadi mual."

Nathan terdiam sejenak, jelas kaget. "Hah? Baunya? Parfumku?"

Kiara mengangguk pelan, sambil menarik napas dalam-dalam. "Aku juga nggak ngerti. Tiba-tiba perutku nggak enak."

Nathan langsung berdiri. "Maaf, maaf. Aku langsung mandi ya." Nada suaranya penuh khawatir. "Kamu mau minum? Atau duduk yang nyaman?"

"Nggak apa-apa," jawab Kiara pelan. "Aku cuma... sensitif banget hari ini."

Nathan menatapnya lebih lama dari biasanya, ekspresinya serius namun lembut. "Kamu yakin cuma capek dan jet lag?"

Kiara mengalihkan pandangan, jantungnya berdetak lebih cepat. "Iya... mungkin."

Nathan mengangguk, meski jelas masih menyimpan rasa curiga. "Aku mandi dulu. Kalau mual lagi, panggil aku."

Kiara mengangguk pelan. Saat Nathan melangkah menjauh, ia menekan perutnya perlahan, rasa mual itu datang lagi bersama debaran di dadanya.

"Tenang..." gumamnya dalam hati.
Kabar itu masih ia simpan—untuk sekarang.

Beberapa menit kemudian

Nathan keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah, mengenakan kaus rumah. Pandangannya langsung tertuju pada Kiara yang bersandar di sofa, mata terpejam, tangan memeluk bantal kecil di perutnya.

NATHAN [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang