Part 51

725 13 2
                                        

Dirumah

Jam dinding di ruang tamu berdetak perlahan, setiap detiknya terasa seperti palu yang memukul. Pukul sepuluh malam. Seharusnya Nathan sudah kembali. Lampu teras sudah kunyalakan sejak dua jam yang lalu, menerangi jalan setapak yang kini terasa asing tanpa kehadirannya.

Aku, duduk di tepi sofa, memandang bingkai foto di meja—foto pernikahan kami, senyum kami merekah sempurna, tak menyadari betapa rapuhnya kebahagiaan itu

Semua berawal dari pertemuan bersama Brian sore tadi.

"sudah malam kenapa suamimu belum pulang ra?" tanya mama kiara sambil membawa buah dari kulkas.

"masih ada kerjaan katanya ma." jawab kiara pelan dengan menatap kearah layar ponselnya sedari tadi. Entah memang ada kerjaan atau karna masalah tadi, kiara masih bingung dan cemas.

"apa mama temani kamu sampai nathan pulang?"

"gausah ma.. mama bisa balik ke hotel kasihan papa nungguin."

.

.

.

Jam 23.00

Kiara tetap terjaga sambil melihat layar ponsel yang sedang menunggu telfon dari suaminya.

Kiara menyalahkan diri sendiri. Harusnya kiara bisa lebih peka. Harusnya kiara segera menarik diri dari sentuhan itu. Tetapi, haruskah cemburu sekecil ini membuat suaminya menghilang entah ke mana?

Kiara berjalan ke kamar, tempat tidur mereka terasa begitu dingin dan besar. Kiara tahu di mana pun ia berada, ia pasti sedang merasa dikhianati dan marah. Kecemburuan Nathan selalu menjadi titik sensitif dalam hubungan kami—api kecil yang mudah tersulut dan membakar semua kepercayaan.

Kiara kembali ke ruang tamu, mengambil ponsel, dan mengetik pesan "sayang, aku tidak ke mana-mana. Aku hanya di sini, menunggumu pulang. Semua yang kamu liat itu tidak berarti apa-apa. Kau salah paham. Aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Maafkan aku."

Kiara mengirimkannya, dan menatap pintu. kiara tidak tahu apakah suaminya sedang sibuk dengan pekerjaanya, duduk sendirian di taman, atau berada di kafe 24 jam. Yang aku tahu, suamiku sedang terluka karena sebuah sentuhan yang ia salah artikan.

Suara deru mesin mobil yang familiar itu akhirnya terdengar, diikuti oleh bunyi gerbang yang didorong. Jantungku, yang sejak sore berdenyut cepat karena cemas, kini terasa dingin dan kaku.

Pukul dua belas malam. Nathan baru pulang.

Pintu depan terbuka. Nathan masuk, membawa tas kerjanya dan aroma khas kantor—sedikit parfum, sedikit debu jalanan, sedikit bau alcohol menyeruak dalam penciuman kiara.

"Aku pulang," suaranya serak, nadanya datar, tanpa nada riang atau sapaan hangat yang biasa ia ucapkan.

"apa kamu habis minum alcohol?" tanya kiara mengkerutkan keningnya.

Tanpa ada jawaban. Nathan berjalan melewati kiara dan meletakkan tasnya di sofa.

kiara akhirnya berbalik. Nathan sedang melonggarkan dasinya, matanya menghindari tatapanku. Ia berjalan menuju kamar mandi, dan bahkan langkah kakinya terdengar lebih lambat dan hati-hati dari biasanya. Ia berjalan seolah takut menyentuh lantai, takut membuat suara, takut memulai percakapan.

Kiara tahu, nathan masih meluapkan kemarahannya dengan mendiaminya tanpa ada percakapan hangat seperti biasa.

Saat nathan keluar dari kamar mandi, sudah berganti pakaian santai, kiara sedang menyendokkan nasi ke piring.

"Mandi dulu, Nath," kataku, masih menghindari kontak mata.

"Aku sudah mandi," jawabnya, mengambil tempat duduk.

NATHAN [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang