Part 54

224 8 0
                                        


Pagi itu, Kiara berjalan berdampingan dengan Nathan memasuki klinik dokter kandungan. Tangannya digenggam erat oleh Nathan, seolah ia ingin memastikan Kiara merasa aman di setiap langkahnya. Ruang tunggu dipenuhi aroma antiseptik yang lembut, dengan beberapa pasangan lain yang duduk menanti giliran.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Nathan pelan sambil menoleh.

Kiara mengangguk, meski terlihat sedikit gugup. "Deg-degan... tapi juga senang."

Nathan tersenyum, ibu jarinya mengusap punggung tangan Kiara dengan lembut. "Aku di sini."

Tak lama kemudian, nama Kiara dipanggil. Mereka masuk ke ruang periksa, disambut dokter dengan senyum ramah. Kiara duduk di ranjang pemeriksaan, sementara Nathan berdiri di sisinya, tak melepaskan perhatian.

Setelah beberapa pertanyaan ringan dan pemeriksaan awal, dokter mulai menjelaskan kondisi Kiara dengan tenang.
"Kehamilannya masih sangat awal sudah berjalan 4 minggu," ujar dokter. "Tapi sejauh ini terlihat baik, saya akan memeberikan resep vitamin penguat janin."

"terima kasih dokter." ucap nathan.

Nathan menahan napas, lalu menghembuskannya pelan. Ia menatap Kiara dengan mata berbinar. "Dengar itu?"

Kiara tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. "Iya..."

Saat layar kecil menampilkan hasil pemeriksaan, Kiara menggenggam tangan Nathan lebih erat. Perasaan takut yang sempat ada perlahan tergantikan oleh rasa hangat dan tenang. Ini nyata—bukan lagi sekadar dua garis di testpack.

Usai pemeriksaan, dokter memberikan beberapa saran dan jadwal kontrol berikutnya. Nathan mencatat dengan serius, sementara Kiara mendengarkan dengan seksama.

Keluar dari klinik, Nathan langsung memeluk Kiara singkat. "Langkah pertama sudah kita lewati."

Kiara mengangguk, tersenyum lembut. "Aku nggak nyangka bisa setenang ini."

"Karena kita jalaninnya bareng," jawab Nathan.

Di bawah langit pagi yang cerah, kunjungan itu bukan hanya tentang pemeriksaan medis—melainkan awal dari perjalanan baru yang kini mereka hadapi bersama, dengan cinta, harapan, dan keyakinan yang perlahan menguat.

Nathan berjalan di samping Kiara saat mereka keluar dari klinik. Langkah Kiara terlihat pelan, seperti masih mencerna semua yang baru saja mereka dengar. Nathan meliriknya sekilas, lalu bertanya dengan nada lembut.

"Setelah ini kamu mau ke mana?" tanyanya sambil merapikan jaket Kiara.

Kiara berhenti sejenak, menatap jalan di depan mereka. "Aku pengin jalan sebentar," jawabnya pelan. "Kayaknya kepalaku masih penuh."

Nathan tersenyum kecil, mengangguk mengerti. "Mau ke taman dekat sini? Atau cari tempat duduk yang tenang?"

Kiara menoleh, matanya lembut. "Kafe kecil juga boleh. Aku pengin duduk, minum yang hangat."

"Oke," kata Nathan tanpa ragu. "Kita pelan-pelan saja."

Ia meraih tangan Kiara, menggenggamnya hangat. "Hari ini kamu luar biasa."

Kiara tersenyum tipis. Di antara langkah-langkah kecil itu, pertanyaan sederhana Nathan terasa seperti perhatian yang utuh—bukan sekadar menanyakan tujuan, tetapi memastikan Kiara selalu punya ruang untuk memilih dan bernapas di hari yang begitu berarti.

Kiara menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Nathan. Tangannya masih berada dalam genggaman Nathan, terasa hangat dan menenangkan. Ia menarik napas pelan, seolah ingin memastikan kata-katanya keluar dengan jujur.

"Nathan..." panggilnya lembut.

Nathan menoleh. "Hm?"

Kiara tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca. "Aku cuma mau bilang makasih."

NATHAN [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang