Part 56

466 9 1
                                        

Enam bulan kemudian

Enam bulan kemudian, waktu seolah melaju begitu cepat. Kehamilan Kiara kini telah membesar setiap langkahnya terasa hati-hati, namun matanya selalu berbinar ketika merasakan gerakan kecil di perutnya. Bulan depan, dokter memperkirakan ia akan melahirkan — kabar yang membuat Nathan semakin protektif dan penuh perhatian. Ia tak pernah melewatkan satu pun kontrol rutin, selalu menggenggam tangan Kiara seolah menegaskan bahwa mereka menjalani segalanya bersama.

Di tengah segala perubahan itu, satu bab lain dalam hidup Kiara dan Nathan juga resmi berakhir dengan manis. Tugas akhirnya selesai, sidang berjalan lancar, dan ia dinyatakan lulus kuliah. Rasa lega menyelimuti hatinya — seakan beban panjang yang selama ini ia pikul terangkat begitu saja.

Malam-malam mereka kini diisi percakapan hangat tentang nama bayi, warna kamar, dan masa depan yang perlahan terasa nyata. Nathan sering meletakkan telinganya di perut Kiara, tersenyum setiap kali mendengar detak kecil kehidupan yang mereka nantikan. Di antara rasa cemas dan bahagia, ada keyakinan yang sama-sama mereka jaga bahwa ketika bulan depan tiba, mereka siap menyambut dunia baru — sebagai keluarga.

Di sore yang hangat, angin menyelinap pelan lewat jendela ruang tamu. Kiara duduk bersandar di sofa sambil membelai perutnya, sementara Nathan duduk di sebelahnya dengan senyum yang tak pernah benar-benar hilang dari wajahnya.

"Kayaknya kita harus mulai serius mikirin nama, deh," ucap Kiara pelan, nada suaranya lembut namun penuh antusias.

Nathan terkekeh kecil. "Aku udah mikir dari kemarin-kemarin. Tapi kamu duluan — kamu pengen nama yang kayak apa?"

Kiara menatap langit-langit sebentar, berpikir. "Aku pengen nama yang punya arti baik. Yang kuat... tapi juga hangat."

Nathan mengangguk. "Cocok. Soalnya dia jagoan kecil kita."

Mereka terdiam beberapa detik, lalu Nathan membuka suara lagi.

"Gimana kalau... Arka?" tanyanya ragu. "Artinya cahaya. Biar dia jadi penerang hidup kita."

Kiara tersenyum tipis. "Arka... bagus, ya." Tangannya refleks menggenggam tangan Nathan. "Tapi aku juga suka nama... Aidan. Artinya kecil yang kuat."

Nathan tersenyum lebar. "Wah, Papanya jadi tambah semangat nih."

"Kamu kebanyakan semangat," goda Kiara sambil tertawa kecil.

Nathan mendekatkan wajahnya ke perut Kiara. "Nak, kamu pilih yang mana? Arka atau Aidan?" katanya pura-pura serius.

Perut Kiara tiba-tiba bergerak sedikit. Kiara terkejut, lalu tertawa.

"Tuh kan," kata Nathan, matanya berbinar. "Dia jawab!"

Kiara menggeleng sambil ikut tertawa. "Iya, tapi jawabnya yang mana?"

"Mungkin..." Nathan menatap Kiara lembut. "Dia cuma mau bilang, apa pun nama yang kita pilih... dia bahagia."

Kiara menunduk, mencium puncak kepala Nathan pelan.

"Yang penting," ucapnya lirih, "nama itu jadi doa untuknya."

Nathan mengangguk pelan.

"Doa dari kita — untuk jagoan kecil kita."

Kiara tertawa, tapi sorot bangganya tidak bisa disembunyikan. "Akhirnya kamu mutusin juga ya."

Nathan mengangguk, kali ini lebih serius. "Aku udah mikir lama. Aku pengen jaga apa yang Papa bangun. Bukan karena terpaksa, tapi karena aku siap." Ia berhenti sejenak, menatap Kiara lembut. "Dan aku pengen masa depan kamu dan anak kita aman."

Kiara menepuk pelan tangannya. "Aku percaya kamu bisa. Dari dulu."

Nathan tersenyum lega, seolah kata-kata Kiara adalah restu yang paling ia butuhkan. "Kita mulai banyak hal baru di kota ini ya. Kamu sebagai Mama muda, aku sebagai... bos baru." Ia mengedip usil.

NATHAN [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang