Part 55

193 6 0
                                        

Satu minggu kemudian

Bunda Nathan duduk di samping Kiara di ruang tengah. Suasana rumah tenang, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan. Kiara sedikit menyandarkan punggungnya, tangannya bertumpu di perut yang kini menjadi pusat perhatian.

"Boleh Bunda pegang?" tanya Bunda Nathan lembut.

Kiara mengangguk. "Boleh, Bun."

Telapak tangan itu menempel perlahan di perut Kiara, hangat dan penuh kehati-hatian. Bunda Nathan tersenyum, matanya berkaca-kaca.

"Halo, cucuku..." ucapnya pelan, seolah takut mengganggu. "Ini nenek."

Kiara menahan senyum haru, napasnya terasa lebih pelan.

"Kamu di dalam sana baik-baik ya," lanjut Bunda Nathan. "Jangan nakal sama Mamanya. Mamanya sudah hebat mengandung kamu."

Bunda Nathan terdiam sejenak, mengusap perut itu perlahan. "Dulu, Papamu juga pernah sekecil ini di perut Bunda. Sekarang dia sudah jadi laki-laki yang bertanggung jawab." Nada suaranya penuh bangga.

Kiara menunduk. "Terima kasih, Bun."

Bunda Nathan menoleh, menggenggam tangan Kiara. "Justru Bunda yang berterima kasih. Kamu sudah memberi Bunda calon cucu." Ia tersenyum lembut. "Mulai sekarang, kamu tidak sendirian."

Di sudut ruangan, Nathan berdiri memperhatikan mereka. Dadanya terasa hangat melihat ibunya berbicara penuh kasih pada kehidupan kecil yang belum lahir, seolah janji tanpa kata bahwa anak itu akan tumbuh dalam cinta yang utuh.

.

.

.

Nathan dan Papanya duduk berhadapan di teras belakang. Senja turun perlahan, menyisakan cahaya jingga yang tenang. Cangkir teh di atas meja sudah hampir dingin, namun percakapan di antara mereka terasa hangat dan serius.

"Nathan," suara Papanya terdengar tenang namun tegas, "perusahaan itu tidak akan bisa Papa pegang selamanya."

Nathan terdiam. Pandangannya jatuh pada lantai kayu. "Aku tahu, Pa."

"Papa ingin kamu yang meneruskannya," lanjut Papanya tanpa basa-basi. "Semua sudah Papa siapkan."

Nathan menghela napas panjang. "Maaf, Pa... aku belum bisa."

Alis Papanya sedikit berkerut. "Belum bisa, atau tidak mau?"

Nathan mengangkat wajahnya. Tatapannya jujur, tanpa menantang. "Aku tidak ingin, Pa. Setidaknya bukan sekarang."

Teras belakang kembali sunyi. Papanya menyandarkan punggung ke kursi. "Kamu tahu berapa banyak orang hidup dari perusahaan itu?"

"Aku tahu," jawab Nathan pelan. "Justru karena itu aku takut. Takut mengambil sesuatu yang bukan panggilanku."

Papanya menatapnya lama. "Kamu ingin lari dari tanggung jawab?"

Nathan menggeleng. "Bukan lari. Aku hanya tidak ingin menjalani hidup orang lain." Suaranya bergetar tipis. "Aku ingin membangun jalanku sendiri."

Papanya memejamkan mata sejenak. "Papa membangun semua ini dari nol, Nathan."

"Aku menghargai itu," sahut Nathan lirih. "Dan aku bangga jadi anak Papa. Tapi jika suatu hari aku memimpin tanpa hati, perusahaan itu justru akan hancur."

Keheningan kembali menyelimuti. Akhirnya, Papanya berdiri, menatap jendela. "Papa kecewa," katanya jujur. "Tapi Papa tidak bisa memaksa."

Nathan berdiri ikut. "Terima kasih sudah mengerti, Pa."

NATHAN [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang