Part 52

477 16 0
                                        

Satu minggu kemudian

Mamanya menuangkan teh hangat ke dua cangkir, lalu duduk berhadapan dengan anak perempuannya. Tatapannya lembut, namun sarat dengan rasa ingin tahu dan rindu yang lama dipendam.

"Bagaimana kehidupanmu disana... bersama suamimu?" tanya mamanya pelan, memilih kata-kata agar tak terdengar menghakimi.

Kiara tersenyum tipis. "Kami baik, Ma. Menjalani hari-hari seperti pasangan lain."
Ia berhenti sejenak. "Awalnya sulit. Kami harus belajar saling memahami di tempat yang asing, tanpa keluarga, tanpa bantuan."

Mama kiara mengangguk. "Apakah Nathan menjagamu dengan baik?"

"Iya, Ma," jawabnya mantap. "Saat aku rindu rumah atau merasa lelah, dia yang menguatkanku. Kami sering memasak bersama, saling berbagi cerita sebelum tidur. Hal-hal kecil, tapi berarti."

Mamanya tersenyum lega. "Rumah memang bukan soal tempat, ya."

"Benar, ma," ucap Kiara lirih. "Kadang rumah itu ada di bahu seseorang yang mau mendengarkan."

Mama kiara meraih tangan anaknya. "Selama kamu dihargai dan bahagia, mama tenang. Tapi ingat, kalau suatu hari kamu lelah atau merasa sendiri, pulanglah. Mama dan Papa selalu di sini."

Kiara mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Ma. Nathan adalah suami yang baik dan bisa mengerti kiara."

Mama kiara tersenyum lega mendengarnya. "syukurlah. Ternyata mama tidak salah pilih menantu."

"Suamimu di mana, Ra?"

"Dia masih di luar, Ma," jawab kiara pelan. "Ada urusan pekerjaan yang belum selesai."

Mama mengangguk kecil. "Apakah dia sering seperti itu?"

Anak perempuan itu ragu sejenak, lalu mengangguk. "Iya, tapi dia selalu memberi kabar. Aku berusaha memahaminya."

Mama menatap wajah kiara. "bilang sama Nathan jangan terlalu fokus sama pekerjaannya, fokus sama kesehatannya juga."

Kiara mengangguk dan tersenyum. "hmm. Terima kasih ma."

Keesokan harinya

"Good Morning sayang." ucap Nathan menghampiri istrinya yang baru bangun dan mengecup bibirnya.

Kiara menggeliat, lalu membuka mata perlahan. "Morning..." Ia tersenyum kecil. "Jam berapa ini?"

"Hampir jam tujuh," jawab suaminya. "Kamu tidur nyenyak?"

"Lebih nyenyak karena kamu di sini," balasnya setengah bercanda.

Nathan tertawa pelan. "Kalau begitu, bangun dan sarapan, mama sudah menunggu dibawah."

Kiara menatap langit-langit sejenak. "Hari ini kamu kerja?"

"tidak," katanya. "hari ini aku mau mengajak kamu jalan-jalan selagi ada di jakarta."

Kiara mengangguk, lalu menarik selimut sedikit lebih tinggi. "Serius?"

"Iya sayang," jawab suaminya sambil menggenggam tangannya.

Pagi masih terasa sejuk ketika Nathan dan Kiara keluar dari kamar setelah mandi. Di dapur, Mamanya sudah lebih dulu sibuk, aroma nasi hangat dan teh manis memenuhi ruangan.

"Kalian sudah bangun?" sapa Mamanya sambil menoleh.

"Iya, Ma," jawab Kiara sambil tersenyum. "Papa udah berangkat ma?."

Nathan ikut menyapa mamanya. "Selamat pagi, Ma."

Mama tersenyum hangat. "Pagi juga sayang," katanya "iya, Papa sudah berangkat karna ada meeting penting."

NATHAN [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang