"Ngapain harus pindah sekolah sih mah..pah?!" Ucap kiara sambil memohon agar tetap tinggal dirumah lamanya.
"Karna papa dipindah tugaskan di jakarta ara sayang" jawab papa kiara sambil kasih pengertian. "Udh beres semua kan? Ayo kita berangkat ke b...
Keesokan harinya Nathan seperti biasa menyapa papa dan bundanya dan duduk di samping bundanya. Kebiasaan ia dari kecil sampai sekarang di samping piringnya selalu ada buku catatan kecil. Dia sudah terbiasa sarapan dengan membaca sedikit catatan pelajaran yg nantinya di kelas. Coba bayangkan gimana otaknya gak encer kayak jerome polin gak tuh.
"Bunda sama papa semalem dari mana kok Nathan panggil-panggil gak ada." Tanya Nathan sambil mengunyah makanannya.
"Papa habis ketemu sama temen lama papa dan bunda Nat." Jawab papanya.
"Oh.. Nathan berangkat duluan ada jadwal piket Osis." Pamit Nathan berjalan keluar rumah.
"Hati-hati sayang jangan ngebut." Ucap bundanya
"Iya bunda."
***
"Pah mah kiara berangkat dulu ya skip sarapannya kiara udh telat." Pamit kiara kepada orang tuanya.
"Hati-hati ara sayang." Ucap mamanya sambil menatap punggung anaknya yang lama-lama menghilang dari pandangannya.
Sesampainya di depan gerbang, dugaannya pun benar dia telat untuk masuk kedalam dikarnakan gerbang sudah terkunci. Ketika kiara ingin membalikkan badannya untuk pergi, ada suara asing yang memanggilnya dan mau gak mau ia pun harus berbalik badan untuk melihat siapa yg telah memanggilnya.
"Ekhem... mau kemana lo!" Tegas Nathan dengan tangan di masukkan ke saku celana.
"Ya pulang kan udh telat." Ucap santai kiara kepada Nathan.
"Lo boleh masuk." Jawab Nathan sambil membukakan gerbang untuk kiara.
"Wehhh ternyata lo baik juga ya." Heran kiara sambil menaikkan alisnya. "Oh iya btw thanks ya gue pergi dulu."
"Mau kemana lo!!" Sentan Nathan
"Ya ke kelas gue lah."
"Sorry anak baru, gue belom selesai ngomong tadi. Lo boleh masuk dan menjalani hukuman dari peraturan sekolah sini." Tegas Nathan sambil mengarahkan kiara untuk ikut dengannya.
"Dih bisa kek gtu?!" Kiara pun kaget dengan ucapannya Ketua Osis.
Mau tidak mau kiara pun menuruti omongan Nathan untuk menjalankan hukumannya. Kiara sadar dia memang telat dan seharusnya menerima hukuman dan peraturan di sekolahnya.
"Tugas lo gampang kok, bersihin sampah-sampah ini dari sini sampai kelas ujung sana. Selesai itu lo boleh balik ke kelas lo." Jelas Nathan.
"Gak ada kopensasi gtu? Jauh bener jaraknya." Pinta kiara melas.
"Gak."
"Dih dasar keluwek!" Umpat kiara
***
Kurang 10 menit bell istirahat bunyi. Ia pun rasanya sia-sia kalau balik ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Dengan jalan santainya ia berjalan menuju kelasnya sambil menunggu bell istirahat bunyi.
"Lo kiara kan?" Tanya salah satu cowo di hadapannya.
"Kok lo tau."
"Lo gak inget gue? Gue brian temen lo dulu wktu SMP." Jelas nya sambil mengulurkan tangannya kepada kiara.
"Apaaa??!! Lo brian yang dulu pernah Nembak gue?" Tanya kiara dengan wajah kagetnya.
"Hahaha lo masih inget tentang itu? Gue kira lo udah lupa." Ucap brian
"Iyalah gue inget anjir, sejak saat itu lo sama gue di gosipin jadian untung gue langsung pindah rumah, eh btw sorry ya dulu tanpa jawaban keburu pindah." Jelas kiara kepada brian.
"Santai aja tp klo gue minta jawabannya skrg boleh dong?" Dengan muka menggoda kepada kiara.
"Ehh... gila kali lo, gue anggep lo temen gue sndiri." Ucap kiara gugup lalu pamit pergi.
"Gapapa masih tolakan pertama hehe." Ucapnya dalam hati.
***
Selama di perjalanan pulang kiara masih memikirkan omongan Brian yang membuatnya terkejut salah tingkah, bukan karna punya perasaan tetapi kiara masih canggung dengan pengakuan seseorang secara langsung. Sampai kini kiara tetap memikirkan apa jawabannya seperti tadi membuatnya sakit hati atau terlalu kasar dan selama di perjalanan pulang sampai di depan gerbang rumahnya masih di pusingkan dengan persoalan Brian.
"Lo gak mau turun?!" Ketus Keenan kepada kiara dan membuyarkan pikirannya.
"Ha? I-iya." Jawab kiara
Seperti biasa kiara masuk kamar dan melakukan ritualnya setiap pulang dari sekolah atau sehabis dari luar rumah mulai dari mandi sampai bergelut dengan per-skincarerannya, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur berukuran Queen size.
***
Jangan lupa bintangnya ya gaes Jangan jadi pembaca tanpa ngasih bintang :( See you
Bonus visual Brian
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.