Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 16: Trauma

23 0 0
                                        

Jangan lupa vote dan komen yak!

Happy reading🍂

•••••√

Malam hari rain berjalan kaki seorang diri dari rumah sakit, ia ingin menjenguk kara namun setelah sampai disana mereka sudah pergi. Kata perawat disana ara telah di bawa pulang oleh kedua orang tuanya siang tadi.

Dan baru saja ia menelepon menanyakan keberadaan mereka pada bik uni. Paruh baya itu mengatakan bahwa kedua orang tuanya membawa ara ke Singapura untuk berlibur memenuhi keinginan kara meski baru saja keluar dari RS.

Rain kecewa. Kenapa ia tidak di beri tahu, apakah segitu bencinya mereka pada dirinya hingga menjenguk kara saja ia tak di beri waktu.

Kenapa mereka tak mengajaknya.

Tanpa sadar kakinya berjalan ke arah jalan yang sepi, meski jalan itu memang menuju rumah namun jalan ini sangat jarang di lalui orang karna rawan akan begal.

Gadis itu tetap dalam lamunannya yang tengah memikirkan kesalahan apa yang ia perbuat hingga orang tuanya sebenci itu.

Bahkan kata mereka dialah penyebab kara terluka.

Seketika kepalanya berdenyut, rasa pusing tiba-tiba datang membuat ia harus berpegangan pada salah satu tiang lampu jalan.

"Wah, ada cewe nih bos. " Sahut seorang pria yang berjalan dengan dua temannya.

Tepat setelah pria itu berbicara darah segar keluar dari hidung rain, dengan cepat ia menyeka darah itu menggunakan jarinya.

Salah satu dari pria tadi menyahuti. "Cantik bos, lumayan ada mainan baru. "

Pria yang di panggil bos itu menatap penampilan rain dari atas hingga bawah dengan tatapan mesumnya.

Rain yang kini mengerti situasi di hadapannya segera berlari tanpa menghiraukan darah di hidungnya. Ia tak mau tertangkap preman mesum seperti mereka.

"Woy! Jangan lari lo! " Teriak pria yang memakai jaket berwarna hitam.

"Kejar bodoh! "

Kedua preman itu segera mengejar langkah rain yang tak seberapa setelah mendengar perintah dari bos mereka.

Gadis itu sekuat tenaga untuk berlari namun sia sia. Dua pria itu menangkapnya, " Mau lari kemana kamu, hah! "

"Lepasin! Jangan sentuh gue sialan! Lepas!! " Teriak rain berusaha untuk melepaskan cekalan pria itu pada lengannya.

"Ehh jangan galak galak dong cantik, kita nggk akan main kasar kok."

"Tolong! Siapapun disana tolongin gue!! "

"Sssstt jangan berteriak, saya nggk suka wanita yang terlalu berisik." Bos preman itu datang lalu mengelus dagu rain namun segera di tepis.

"Disini nggk ada siapa siapa. Sekalipun kamu berteriak tidak akan ada yang menolongmu." Ucap pria itu lalu segera mendekat ke wajah rain.

"Lepasin! Brengsek! " Dengan kekuatan penuh rain menendang selangkangan bos preman tadi lalu mendorong dua pria di samping hingga jatuh.

"AKHH! GADIS SIALAN! CEPAT KEJAR DIA JANGAN SAMPAI LOLOS DARI SINI! "

"Baik bos. " Dua pria yang menjadi bawahan itu dengan cepat mengejar rain.

Langkah rain semakin cepat. Nafasnya memburu, takut dan rasa panik pun menjadi satu. Tubuhnya gemetar hebat kala bayangan itu terlintas, ia menggelengkan kepala guna mengusir rasa trauma yang selama ini ia alami.

Trauma yang tak pernah orang tau.

Trauma yang selalu ia sembunyikan dari dunia.

Ia sesekali menoleh ke belakang memastikan ketiga pria tadi tak bisa menangkapnya, ia mempercepat larinya ketika melihat ujung jalan berada di depannya. Senyum lega menghiasi birai cantik itu namun tak bertahan lama karna sebuah balok kayu mengenai punggungnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

She PluviophileCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang