VOTE DONK MEK
Pagi itu, sinar matahari menembus celah tirai kamar utama mansion keluarga mereka. Cahaya keemasan perlahan menyinari wajah mungil Hechan yang masih terlelap sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.
Beberapa detik kemudian, matanya berkedip pelan. Ia menguap lebar sebelum duduk di atas tempat tidur berukuran besar itu. Rambutnya masih berantakan, membuatnya tampak semakin menggemaskan.
Bangun sambil mengucek mata dengan masih merasa pegal atas kejadian semalam.
"Pagi..." suara serak karena baru bangun tidur.
Terkecoh itu papanya, Jeno. Berdiri di luar sisi ranjang sudah dengan pakaian rapi.
"Bagaimana badan mu apa masih sakit?"
Haechan terdiam, rasanya masih seperti mimpi dan dia masih terasa malu akan hal yang Jeno maksud.
Wajah merona reaksinya dari pertanyaan Jeno walau agak kontras dengan warna kulit badannya.
Haechan menggeleng malu, bohong karena bagian bawahnya terasa agak perih.
Jeno hanya tersenyum simpul.
Dia jelas tahu bagaimana sifat saudara kembarnya.
Jeno memberikan sebuah salep kepada Haechan yang sedari tadi sudah di pegangnya.
"Pakai ya, pasti masih perih kan?
...Atau mau papa bantu pakai kan?"
Hechan kembali menggeleng malu, mengambil salep dengan terburu-buru kemudian segera turun dari tempat tidur. Dengan langkah kecil, ia berjalan menuju kamar mandi.
Jeno hanya tersenyum kecil melihat sifat lucu anak angkatnya itu.
Setelah selesai mandi, Hechan mengenakan pakaian santai yang sudah dipilihkan. Kaus putih polos dipadukan dengan celana pendek berwarna krem dan sepatu kecil favoritnya.
Melihat keberadaan Jeno yang sudah tak ada di kamar. Haechan bergegas ingin menuju ke bawah.
Saat keluar dari kamar, aroma sarapan langsung memenuhi lorong mansion.
"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa beberapa pelayan sambil tersenyum.
"Pagi," balas Hechan ramah.
Di ruang makan yang luas, meja panjang sudah dipenuhi berbagai macam hidangan. Mulai dari roti hangat, telur, buah-buahan segar, pancake, hingga jus jeruk yang baru dibuat.
Namun, Hechan tidak langsung duduk.
Matanya lebih dulu mencari seseorang.
"Papa Jeno belum turun?"
Salah satu pelayan tersenyum.
"Tuan Jeno sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan sebentar lagi."
Hechan mengangguk kecil sebelum akhirnya duduk.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari tangga.
Jeno muncul dengan pakaian santai berwarna hitam. Begitu melihat Hechan, senyumnya langsung mengembang.
"Selamat pagi, prince."
Hechan langsung turun dari kursinya dan berlari memeluk Jeno.
"Papa!"
Jeno tertawa pelan sambil mengangkat tubuh kecil itu.
"Sudah mandi?"
"Sudah."
"Gosok gigi?"
"Sudah."
"Sudah sarapan?"
"Hehe... belum. Nunggu Papa."
Mendengar jawaban itu, Jeno mengusap rambut Hechan pelan.
"Kalau begitu kita makan bersama."
Mereka pun menikmati sarapan sambil mengobrol ringan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MengHarem
Non-Fiction- isi book nya cuma naena doang! - Haechan uke Haechan x All Haechan Harem -Jangan salah lapak -🔞 -MURNI IDE DARI SAYA SENDIRI- -slow update - males revisi
