Chapter 19 (Fullmoon Bag IV)

148 18 6
                                        

Satu minggu yang lalu

.......

Wolf Christ berlari sambil membawa hyunjin di punggungnya. Setibanya dia di depan sebuah rumah, dia mengubah wujud wolfnya menjadi wujud manusianya. Dia menggendong hyunjin dengan kedua tangannya dan berjalan menuju pintu depan rumah itu.

Udara dingin di malam hari sudah tidak terasa begitu dingin lagi, udara dingin yang menghembus ke arah tubuhnya seakan langsung lenyap sebelum bersentuhan dengan kulitnya yang terasa sangat panas. Di malam yang dingin ini dia berkeringat, pelipisnya sudah bercucuran keringat, mungkin karena dia telah berlari namun juga karena sesuatu yang lain.

Rut-nya.

Saat dia membawa hyunjin, dia tahu wolfnya telah merespon heat omeganya, saat christ terus mencoba untuk menahan insting wolfnya semakin lama juga dia merasa depresi. Dia ingin mengklaim matenya dan membantunya. Namun dia tidak bisa melakukan itu, setidaknya dia tidak akan membiarkan dirinya ataupun wolfnya melakukan hal itu di saat hyunjin sedang tidak berada di dalam kesadarannya.

Christ mengetuk pintu depan rumah itu dengan keras, nafasnya semakin lama semakin berat. Sementara hyunjin dia melingkarkan tangannya di leher Christ, dan dia bisa merasakan nafas hyunjin yang terasa panas menyentuh lehernya.

Tak lama kemudian seorang wanita muncul dari balik pintu itu. Wanita itu terlihat terkejut saat melihat sang pack alpha yang membawa seseorang di gendongannya dengan kondisi yang tidak mengenakan apapun. Wajah keduanya sangat merah dan juga nafas keduanya yang terlihat panas terlihat dari embun yang keluar dari mulut mereka.

"Chan? Apa yang terjadi?" Ucapnya dengan panik.

"Hyunjin...," Dia mengatakan satu nama itu dengan susah payah.

Orang yang membuka pintu itu, yaitu ibunya Christ atau sang Priest pack Luna melihat hyunjin yang berada di gendongannya. Dia lalu mengerti apa yang tengah terjadi saat ini. Dia lalu membukakan pintunya lebih lebar dan membiarkan mereka berdua masuk.

Christ membawa hyunjin ke dalam dan mengantarkannya ke kamar yang di tunjukan oleh sang priest, saat akan menurunkannya di atas tempat tidur hyunjin menahannya agar tidak melepaskannya, dia semakin mengeratkan pelukannya ke leher Christ. Christ menggeram dengan pelan saat dia melepaskan pelukan pria itu dan pergi menjauh darinya dengan cepat. Dia bisa mendengar suara tangisan dan rintihan hyunjin, dia menutup pintu kamar itu sebelum dia pergi dari sana.

"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya," Ucap sang priest Luna.

Christ mengangguk saat mendengarnya dan berlari keluar meninggalkan tempat itu. Dia berubah menjadi wujud wolfnya kembali dan berlari dengan cepat menuju rumahnya. Dan dia mengunci dirinya disana. Dan menghabiskan rut-nya sendirian.

......

Tiga hari kemudian

Christ perlahan sudah kembali, rut-nya perlahan sudah mulai reda. Dia duduk sendirian di ruangan tengah rumahnya, otot-otot tubuhnya terasa kaku dia menyenderkan punggungnya ke senderan sofa di belakangnya. Dia mendengar suara seseorang yang membuka pintu rumahnya.

"Hyung, apa kau sudah merasa lebih baik?" ucap orang itu saat dia melihatnya yang tengah bersandar di kursinya.

christ bangkit dari senderannya dan menatap orang yang berdiri di depannya itu.

"Em. aku merasa lebih baik. bagaimana dengan hyunjin?" tanyanya.

"Heat-nya masih belum ada tanda-tanda akan berhenti." jawabnya.

"selama ini? bukankah seharusnya sekarang sudah mulai-mulai reda? " tanya christ.

"em. seharusnya. aku tidak tahu kenapa, aku mulai khawatir dengannya," ucapnya.

Home [Chanjin]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang