Jeremiah tak pernah kenal dengan yang namanya cinta, cinta yang ia ketahui hanya cinta kekuasaan dan jalanan-suara mesin, ban berdecit, malam yang panas- dia hanya mencintai itu, tapi kehidupannya serasa hilang saat malam itu Vier mendatanginya dengan hawa nafsu yang buatnya kecanduan.
Setiap malam Jeremiah termenung, ditemani asap rokok juga sebotol alkohol, orang gila memang, bahkan sahabatnya sering menegur dirinya beberapa kali.
"Mau mati ya lu?" tanya Haris, mengambil sebotol minuman dari tangan Jere yang meneguknya kasar, dia tau tabiat sahabatnya.
"Yaudah lah, semua yang jadi milik gue akan selalu mati kan?" Racau Jere terkekeh pelan, pria dengan mata wolf itu menghela nafas, selalu saja begini, dan hanya dirinya juga lah yang tau ini semua.
"Gak semua hal harus diselesein sama mabok, lu tau itu."
"Ya terus gue harus ngapain? Berantem? Balapan? Nyari musuh lagi? Atau bahkan," katanya terkekeh, menyesap rokok lalu menghembuskannya pelan . "Taruhan? yang bikin gue dibenci sama Vier," lanjutnya pelan, sesak rasanya menyebutkan nama Vier, seolah membuat lubang besar dihatinya.
Haris hanya mendengarkan, bingung mau menjawab apa biarkan Jere luapkan emosinya, dia memang raja jalanan tapi Haris pun tau dia hanya seseorang yang kehilangan seseorang yang bahkan Haris bisa katakan itu bukan salahnya, ini hanya tentang dirinya yang menyalahkan dirinya sendiri.
"Terus dengan lu begini, keadaan bakal membaik?" tanya Haris, dan Jere hanya termenung memikirkan pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya.
"Satu deh pertanyaan gue, lu beneran serius ama si Vier apa gimana?" Ketika pertanyaan itu keluar dari mulut Haris, Jere diam tak berkutik ditempatnya, dan sahabatnya menghela nafas.
"Jangan jadi pengecut Jer, jangan cuman diem dibalik nama kebanggaan lu dan yang lu bisa lakuin cuman diem kaya orang bego kayak gini," ucap Haris meninju bahu Jere dengan kasar.
"Gue cabut, dan stop minum. Kita masih mau punya captain yang gue harap masih bisa bertanggung jawab ke depannya."
Malam itu, Jeremiah merenungkan semuanya kembali, ditemani angin malam yang dingin yang membawanya kembali ke masa saat dirinya bersama Vier, tawanya, senyumnya–
Membuat Jere terkekeh pelan, perasaanya pada Vier memang patut dipertanyakan.
Dan ia rasakan.
...
Pagi yang cerah untuk memulai hari, tapi tidak dengan Xavier, pria lucu itu masih bergelung di dalam selimutnya, menikmati cahaya matahari yang masih malu untuk menunjukkan seluruh sinarnya.
"Shhh," pusing yang merajarela di kepalnya mulai terasa, ia ingat dirinya menang dan pergi ke bar bersama rekannya yang lain, sayangnya pria dengan rambut merah itu tak ikut, meninggalkan Vier yang mabuk dengan sengsara.
Pria 178 cm itu berdiri, berusaha mengambil minum untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya, menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri dan pergi untuk mencari makan.
"Hi."
Jeremiah Orlo berdiri di depan pintu apartemennya, menciptakan hening beberapa saat dengan udara pagi yang semakin dingin, entah karena cuaca atau karena atmosfer yang mereka berdua timbulkan.
Pria dengan sejuta pesona itu mengangkat kresek sembari tersenyum. "Buat kita sarapan," bukan ajakan melainkan kalimat mutlak yang tak bisa ditolak.
Xavier kini hanya diam, dengan fikirannya yang memutar entah kemana, menimbulkan banyak pertanyaan dibenaknya.
...
arghhh maunya si jeremiah tuh apa sih gess
dkakfkk 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
taruhan (harukyu)
RomanceJeremiah, lelaki dengan sejuta pesona yang seringkali membuat Xavier jengkel akan kelakuannya, sampai suatu ketika mereka membuat taruhan saat Xavier kembali ke negara kelahirannya dan terjebak akan taruhan yang dibuatnya sendiri bxb alias homo haru...
