13

245 22 1
                                        

Langit malam menghitam, tak ada bintang menghiasi, dingin malam menusuk, tapi tidak bagi Vier yang kini duduk dimotor kebanggaannya, Yamaha RM1. Ia akan turun malam ini, hanya untuk melepas kekesalannya kemarin malam. dirinya akui, memang tak senang atas kejadian kemarin.

flashback on

Pikirannya sekarang terlalu pengap, berbagai hinaan terus berputar diotaknya, menekan ego dari segala sisi. Mengatakan bahwa dirinya memang lemah akan manusia satu itu. Kebulan asap dari mobil saling bersautan, menantang siapa saja yang mendengarnya, udaranya dingin, kebulan asap rokok juga bau alkohol menyeruak, Underground. Tempat pilihan terakhirnya, sekedar melepas penat dengan melihat orang berduel tentang siapa yang menang.

Xavier turun dari mobil BMW M4 G82 sembari mengedarkan pandangan. Sedikit menyesali datang kemari, di sana ada Jeremiah yang duduk di kap mobil bersama rekannya yang lain, tak lupa dengan seseorang yang dirangkulnya.

Tatapan keduanya beradu, dan dengan segera Vier putuskan eye contact yang mereka buat. Entah kenapa hatinya merasa kesal akan hal itu dan dengan cepat ia menggeleng. Ia melangkah untuk melihat siapa yang akan bertanding hari ini.

"Hei," panggil seseorang dan Vier menoleh, Calvin. Mantannya.

Vier tersenyum. "Hai," jawabanya.

"Sendiri? Gak sama yang lain?" Tanya Calvin.

"Seperti yang lu liat," jawab Vier seadanya. setidaknya untuk saat ini ada Calvin yang mendistraksi pikiran Vier dari lelaki yang bahkan tidak ingin ia pikirkan. Dia seperti mengulang kesalahan yang sama. Kesalahan bersama calvin tentunya.

"Why? Lu lagi banyak pikiran kaya dulu? Dan Underground pilihan terakhir?" Tanya Calvin telak. Ia tahu kebiasaan Vier yang sering kemari.

Xavier hanya mengedikan bahu tak peduli, dan Calvin hanya terkekeh. "Kebiasaan lu dari dulu," katanya mengacak pelan rambut Vier.

"Vin," kata Vier dan Calvin tersenyum canggung, merasa tak enak atas kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan saat masih bersama Xavier.

"Sorry."

Riuh teriak dari berbagai penjuru terdengar, buat telinga berdenging ketika mendengar, pertandingan segera dimulai, berbagai ucapan mulai keluar menekan ego dari segala sisi, siulan pun tak terlupakan. Bau alkohol menyengat, asap rokok memenuhi ruangan disertai lampu yang menyala buat suasana makin mencekam.

Di tengah ring, keduanya mengatur napas, paru-paru terasa sesak, pukulan tak terelakan dan hinaan mulai terdengar dari penonton. provokator, hanya ingin melihat pertumpahan darah malam ini.

Xavier diam dan memperhatikan, sebelum matanya menatap Jeremiah di sebrang sana, sekarang telinganya tuli, fokusnya hanya ada di depan, mereka menikmati itu, seolah ada yang ingin mereka ungkapkan satu sama lain, tapi mereka ragu.

"Vie," samar ia dengar, menariknya kembali dalam kenyataan.

"Vier," panggil Calvin buat pria manis itu tersadar. Riuh, teriakan dan pukulan kembali ia dengar.

Malam ini ia akui bahwa dirinya senang, maksudnya dia senang jika pikirannya tak terus tertuju pada Jeremiah. Calvin pun berbicara seakan topik tak akan pernah habis.

Calvin, pria itu masih saja tetap sama, leluconnya yang bahkan tak lucu buat dirinya tertawa beberapa kali.

"Lu inget soal gue yang dimarahin bunda gara-gara balapan dan sering kabur?" Tanya Calvin dan Vier mengangguk, dirinya sadar bahwa mereka pernah saling mengenal sebelum Calvin memutuskannya dan pergi tanpa alasan yang bahkan sampai detik ini ia tak tahu kenapa.

"Sialnya, kemarin gue ketauan buat pergi balapan, dan lebih sial lagi, pantat gue bener-bener diabisin sama bunda. kadang gue mikir, apa salahnya gue pergi balapan?" Tanyanya polos. Vier tertawa dan membayangkan muka melas Calvin yang ditunjukan pada bundanya, memang anak bunda sekali.

"Yeu.. orang tua mana yang gak khawatir liat anaknya gitu, gak berubah ya lu," jawab Vier terkekeh, sungguh Calvin menikmati pria manis di depannya. Senyumnya, masih sama seperti matahari di tengah kegelapan.

Vier menoleh dan tatapannya beradu. "Sorry," sesal Calvin.

"Aww, is this a reunion or a rom-com?" Ujar seseorang yang tak asing bagi keduanya. Di sana ada Jere dengan seseorang yang dirangkulnya.

Mereka berdua berdiri, dengan Vier yang menatap tajam Jeremiah, ia benci itu terlebih dengan seseorang di sebelahnya, ia hanya merasa, dipermainkan. Atau bukannya sedari awal mereka hanya permainan.

"Hai Jer," sapa Calvin sebagai sepupunya.

Jere tersenyum miring. "Long time no see, sepupu," jawabnya mengejek.

"Something wrong?" Tanyanya.

"Ahh, maksud lu Xavier?" Tanya pria berzodiak aries itu.

"Ambil aja yang dari awal milik lu," lanjut Jere buat amarah Vier tertahan sembari mengepalkan tangannya.

Calvin menoleh ke keduanya, dia perhatikan bahwa mereka sepertinya memang ada sesuatu dan sekarang keduanya berselisih.

"Dia bukan mainan, Jer," jawab Calvin menatap dingin sepupunya yang brengsek.

Jeremiah hanya terkekeh pelan. "Aww... how romantic. You two protecting each other like a love story," balas Jere.

Amarah Vier memuncak dan dengan cepat ia tonjok wajah Jeremiah dengan kesal. "Anjing." dan pergi meninggalkan kekehan pada Jeremiah

flashback off

Vier memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya. Semua terasa terlalu nyata—tawa itu, marah yang nyata dan kalimat yang membuatnya menahan amarah.

Ia kenakan helm. Mesin dinyalakan.
Malam ini, dia akan balapan. Bukan buat menang. Tapi buat membungkam semuanya, termasuk rasa yang masih dia benci tapi gak bisa dia buang.

...

makin panas nih hubungan mereka dan makin complicated

dkakfkk 2025

taruhan (harukyu)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang