15

170 15 0
                                        

Keadaan apartemen kini hening, hanya semilir angin yang menemani sarapan mereka berdua, pun Xavier yang tak berbicara sedari awal, hanya mengizinkan Jeremiah masuk dan berbuat semaunya di dalam apart miliknya.

"Vier," panggil Jere, dia seakan tak nyaman dengan suasana disekitarnya, sedang yang dipanggil hanya berdehem, benar tak ingin mengeluarkan suara.

"Lu tau kan, kalo ada orang manggil itu lu jawab?" Seolah tenang bukan sifat asli Jere, pria itu malah mengajak Vier beradu mulut dengannya.

"Apa?" Balas Vier akhirnya.

"Di makan, jangan cuman diaduk," kata Jere, lalu mengutuk dirinya sendiri yang benar tak pandai untuk basa-basi.

"Terserah gue," balas Vier ketus dan Jeremiah hanya menghela nafas, berusaha menurunkan ego agar tak terjadi sesuatu setelahnya.

Hening kembali setelahnya. "Ngapain ke sini?" Tanya pemilik apart akhirnya.

Jere diam sembari melihat ke arah Vier, mencuri pandang karena yang ia rasa, hanya ingin merengkuh Vier dalam dekapnya, ia rindu hangatnya Vier ketika berada ditubuhnya.

Terlalu banyak ucapan yang ingin ia lontarkan, tapi mulutnya kelu padahal dari awal perjalanan sampai tadi dia berdiri di depan pintu, banyak sekali ucapan yang ingin ia lontarkan.

"Gue kangen ngewe sama lu."

Bego. ucapnya dalam hati berkecamuk tak tentu, bukan ini yang ingin ia ucapkan

Vier diam, hatinya seperti luka yang dibelah lalu diperas oleh lemon, perih. Tapi ia hanya terkekeh dari hati, untuk apa hatinya tersakiti, toh sedari awal mereka memang memulai dengan cara seperti ini bukan?

"It's over Jere," balas Vier, tak ada nada apapun dalam ucapannya, marah tidak, terluka pun tidak akan. Jere yang melihat itu hanya bisa berharap, membawa tangan Vier ke dalam genggamannya, berusaha menenangkan bahwa mereka tidak pernah selesai, sampai kapan pun.

"Maksud gue," ucapannya tertahan di tenggorokan, meninggalkan luka yang ingin ia telan karena tak berani untuk ungkapkan kepada Vier yang kini menatapnya dengan enggan.

"Itu yang mau lu omongin di pagi buta ini? Udah ngomongnya? Sekarang lu keluar, kita selesai," ucap Vier dingin tak menatap pada Jere yang kini hanya diam, bukannya mengambil tindakan.

"Gue mau mulai dari awal sama lu Vier," andai, andai ia berani ungkapkan isi hatinya, apa sekarang keadaan akan berbalik? Apa Vier bisa menatapnya dengan cara berbeda? Atau bahkan kini, mereka berdua bisa berpelukan, meninggalkan perasaan luka yang sebenarnya mereka ingin hilangkan?

Tapi salah, Jeremiah hanya pergi dengan tak berdosa

Keduanya terlalu pengecut untuk masalah cinta.

Dan mereka lebih memilih untuk berpisah dengan cara seperti ini.

Sakit. Meninggalkan luka–

Dan akhirnya kedua hati mereka berbohong akan perasaan yang nyata adanya.

....

dkakfkk 2025

taruhan (harukyu)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang