16

166 14 0
                                        

Pernah bayangkan bagaimana ketika semesta tak berpihak pada diri kalian? Apa yang kalian rasakan? Kesal? Marah? Atau bahkan membenci seolah apapun yang kalian lakukan tak pernah berpihak.

Vier pernah membaca teori Law Of Attraction, yang di mana energi negatif yang kita pancarkan dunia tentu akan sama seperti apa yang energi kita keluarkan, dan untuk sejujurnya Xavier membenci teori ini.

Kehidupannya berubah ketika Jeremiah muncul dalam lingkup ruangan yang ia buat, seolah Jere terus berusaha memasuki hidupnya secara paksa, pun ia kesal dengan dirinya yang tak bisa menahan diri agar pria dengan sejuta pesona itu tak memenuhi pikirannya, sampai saat ini.

Jangan lupakan tugas dia sebagai captain, walau memang Vier terkenal karena kemalasannya atau bahkan sifat introvert, pria manis ini punya pesona yang mampu buat siapapun tunduk padanya, termasuk saat ia dipilih menjadi Captain dari Victor.

"Capt, daerah utara ada kericuhan anggota, ngaku-ngaku lahannya milik mereka," lapor Bewok, pria dengan banyaknya tato di seluruh tubuhnya.

"Anggota mana?" balas Vier menghembuskan asap rokok, dan baunya menguar ke seluruh penjuru, tak usah heran dengan berbagai bau di seluruh sudut markas mereka

"Rabbits," balas Bewok dan captain itu hanya tersenyum miring, sedikit intermezo, Rabbits adalah geng yang sangat terdengar licik, mereka akan melakukan apapun untuk mendapat kekuasaan bahkan dengan cara kotor sekalipun.

"Cabut, kita selesain malam ini," perintah Vier dan anggotanya berteriak mengeluarkan suara yang bahkan sudah siap memangsa siapapun di depannya.

...

Daerah utara adalah kekuasaan Victor, mutlak. Dan Vier membenci ketika daerahnya direbut secara paksa, ia lihat sekitar, anggotanya banyak yang tumbang menyisahkan kekehan di depan sana anggota dari Rabbits–Kres– captain yang licik.

"Wow, applause gue captain langsung turun tangan ngeliat anggotanya terkapar gak berdaya kaya gini, kasih tepuk tangan dulu semuanya," tengil. Kres berucap sembari mengajak anggotanya yang lain untuk bertepuk tangan ria, tapi dimata Vier itu terdengar seperti topeng monyet yang beratraksi.

"Geng Victor kan emang cupu bos, beraninya keroyokan."

"Halah, cakupan geng Victor kecil bos, senggol dikit tumbang."

"Kaya captainnya, ye gak?"

Ucapan serapah keluar dari mulut jahanam geng Rabbits, membuat kepalan tangan di sisi tubuh Vier.

"Halah... ngaca ngontol siapa yang beraninya keroyokan."

"Tumbang juga lawannya 10 lawan 1, emang dari sananya aja Rabbits, geng paling tolol, yang beraninya main keroyokan."

Seolah tak terima, anggota Victor balas dengan ucapan yang bahkan 100% benar adanya.

"Gue mau ngomongin ini baik-baik Kres," ajak Vier tak mau ribut, ia sudah melihat banyaknnya anggota yang berlumuran darah, dan ia benar tak ingin ada pertumpahan darah lainnya.

Kres terkekeh dari arah sana dan mendekat. "Apa yang perlu diomongin lagi?"

"Dari awal mulanya terbentuk, daerah Utara udah jadi milik Victor, lu tau itu, tanyain ke Bang Bayu, mantan ketua Rabbits," ucap Vier tergolong pelan, tak ada ajakan ribut darinya.

"Emangnya Jalanan punya nenek moyang lu, sampe harus ditandain gini, Ye gak?" Balas Kres tengil, mengajak anggota yang lain untuk mengompori keadaan sekitar yang semakin memanas.

Vier menahan emosinya, seolah masalah dalam hidupnya terus berdatangan, menumbuk pikirannya tak berhenti. "Mau lu apa?"

"Satu lawan satu, bareng gue. Lu kalah daerah ini jadi milik Rabbits," ucap Kres dan Vier mengangguk.

"Gak ada permainan licik Kres," balas Vier dan pria dengan tindik telinga itu mengedikan bahunya tak peduli.

Tak ada bintang menghiasi, hawa mencekam di sekitarnya, yang menjadi penghangat adalah riuhnya anggota yang terus mendukung Vier dari belakang.

Bibirnya sudah beberapa kali mengeluarkan darah, knukle yang digunakan Kres seperti membunuhnya secara perlahan, menumbuk tampa henti pada setiap jengkal kulitnya.

"Gimana? Nyerah?" Ujar Kres memutari Vier layaknya predator yang sedang bermain-main dengan mangsanya.

Vier hanya meludah, mengeluarkan rasa asin dan manis dari bibirnya yang sudah berlumuran darah.

"Gak sudi gue ngalah sama lu Kres," Balas Vier memukulnya dengan keras, energinya semakin bertambah buat lawannya tak bisa berkutik dan hanya bisa tertidur diaspal.

Riuh teriak mulai terdengar dari berbagai sisi, menyuarakan nama Vier dalam setiap hembusan napas, buat lawannya membenci hal ini.

Captain dari Victor itu terkekeh, ketika dengan brutal dirinya memukul Kres tanpa ampun, sebelum penyerangan terjadi dari segala sisi, buat perutnya menukik atas rasa sakit yang ditimbulkan. Rabbits, bermain curang kembali dengan cara kotor, mengeroyoknya tanpa ampun.

"Lu tunggu balesan dari gue Vier," ucap Kres meninggalkan beberapa anggotanya yang sudah terkapar tak berdaya.

"Udah gue bilang, Rabbits gak mungkin bisa main fair" ucap Leo kesal, sudut bibirnya berdarah sehabis melawan anggota Rabbits.

"At least, gue liat dia berdarah, bikin harga diri Rabbits jatuh, dan gue buktiin bahwa Victor selalu jadi pemenang," kekeh Vier dan meringis setelahnya, akibat luka yang ditimbulkan oleh Kres.

...

dkakfkk 2025

taruhan (harukyu)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang