17

200 13 0
                                        

Xavier adalah kelemahan terbesar Jere dan tak semua orang tau itu, ia membencinya? Tidak juga ia hanya sering terekekeh ketika dirinya mengakui bahwa hal itu memang, 

sedikit benar adanya.

"Gue denger, anggota Rabbits, ngaku wilayah utara jadi miliknya."

"Bego gila anggota Rabbits, apalagi si Kres, Captain tolol yang suka ngakuin wilayah orang."

"Rabbits emang geng yang terkenal dongo anjing, kadang gue ketawa liat tingkahnya yang sok tengil, sok petantang petetengteng, senggol dikit kaya ayam sayur."

Keadaan sore di markas dipenuhi riuh tawa dari anggota Phoenix yang berbincang ria membahas anggota geng lainnya, Jere hanya memperhatikan sembari menghembuskan asap rokok yang sering menemaninya akhir-akhir ini, berusaha mendistraksi pikirannya pada pria manis yang sering muncul dibenaknya, bahkan di depannya saat ini.

"Terus si kres, sok nantangin ketua Victor, ujungnya main keroyok," ucap Tyas dengan santai. 

Jere yang mendengar itu langsung mengeluarkan hawa tak enak disekelilingnya, ketika mendengar nama Vier walau tidak diucapkan secara tak langsung membuat dirinya kesetanan, membayangkan tubuh Vier yang dikeroyok oleh geng Rabbits.

Deka disebelahnya menyenggol tubuh Tyas, memberi kode untuk tak melanjutkan perkataannya, mereka tau hubungan dari ketuanya dan Victor, hanya saja mereka sebatas tahu dan tak lebih, walau memang terkadang keduanya seringkali berseteru dan mereka tak bodoh untuk menyadari ada sesuatu diantara mereka.

"Malem kita cabut, di sirkuit 69 ada balapan," ucap Haris berusaha mengambil perhatian ketuanya, yang ia yakini pemikirannya sudah jauh entah kemana.

"Lu iku Jer?" ajak sobat karib dekatnya.

"Gue cabut, entar nyusul," balas Jere dan setelahnya mengambil jaket untuk pergi meninggalkan markas, tanpa sepatah katapun lagi.

Haris menghela napas berat, dia tak ingin Jere terlalu ikut campur, sebab kini Kres seperti memanggil singa dalam diri Jere. Kres mengambil langkah yang salah-

berani menyentuh miliknya,

Jeremiah tak suka miliknya disentuh.

...

Malam ini pikiran Vier begitu suntuk, luka lebam di tubuhnya masih terasa nyeri jika ditekan dibeberapa titik, ia mengendarai  motornya dengan tenang, walau pikirannya entah melayang jauh kemana.

tin tin

kecepatannya tidak begitu tinggi, ketika ia menyadari ada seseorang yang mengikutinya untuk beriringan, ia tak mungkin salah melihat, ketika Jere adalah jawaban dari seseorang yang ikut di sampngnya.

Hanya suara mesin yang saling bersautan, benar tak ada percakapn, sampai Vier berhentikan motonya diikuti oleh pria dengan sejuta pesona disisinya. Membuka helm sembari mengacak rambutnya kasar dan berdecak tipis.

"Ngapain? Kaya stalker," ucap Vier, buat pria disebelahnya terkekeh yang bisa membuat siapapun jatuh pada pesonanya.

Luka disudut bibir Jere mengambil perhatian VIer, entahlah sejak kapan ia mulai sering memperhatikan detail kecil dalam diri Jeremiah Orlo.

Sadar diperhatikan Jere tersenyum kecil tanpa bisa diketahui buat dirinya ingin memeluk Vier saat ini juga walau yang ia keluarkan membuat ia mengutuk dirinya sendiri.

"Khawatir sama gue?" tanya Jere yang malah membuat Vier membuang muka, miris akan kepedean Jere.

"Ngimpi," balas Vier dan mulai menyalakan rokok untuk menghapus penatnya. 

Detail itu tak luput dari perhatian pria di depannya, ketika Vier menyalakan rokok, kedua bibirnya yang menyesap lalu menghembuskan asap yang ikut berbaur dengan angin malam, rambut halusnya yang melambai seirama dengan angin yang menyentuhnya, sial- itu adalah sempurna yang pernah Jere lihat. 

Pemikiran Liar untuk mencumbu Vier saat ini juga adalah dosa yang ingin ia lakukan, tapi ia hanya meneguk ludahnya kasar, merasa telah jatuh pada pesona Xavier dan ia menikmati itu.

Vier menoleh, memperhatikan Jere yang menatapnya dengan tak berkedip, dia tak bodoh untuk menyadari tatapan pria di depannya yang ingin memangsa. Dia tersenyum tipis dan menyodorkan nikotin padanya, Jere isap rokok itu diantara jari-jari lentik Vier dan menghembuskan pada wajah Vier.

"It still feels like you," ucap Jere lembut, mata kelamnya membawa Vier dalam ribuan memori saat mereka bersama, tatapannya teduh tak ada intimidasi sama sekali. Vier gagal,

Dirinya masuk dalam jebakan tatapan yang Jere buat untuknya.

"Lu adalah candu gue yang nyata, Vier."

Kesekian kalinnya ia tunduk pada Jere saat pria itu membawa lengannya membelai halus pipi Vier, meminta untuk lebih sampai kedua bilah bibir keduanya bertemu mencipkatan banyaknya ribuan kupu-kupu yang menggelitik perut mereka.

Ciuman itu halus dan lembut, seperti karamel yang luruh saat dipanaskan, rasa rokok mengeruak masuk dalam mulut keduanya, lidah saling berlilit membuktikan akan rasa yang sebenarnya tak mampu untuk mereka utarakan.

Malam ini mereka tak benar saling mengutarakan, mereka hanya merasa,

Bahwa perasaan mereka bukan sekedar fatamorgana.

...

dkakfkk 2025

taruhan (harukyu)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang