11

246 20 2
                                        

flashback on

Terjebak diantara taruhan yang ia buat sendiri menurutnya adalah kesalahan terbesar, kesalahan terbesarnya adalah mengenal Jeremiah orlo, jika saat itu ia tidak diberi obat oleh temannya sendiri ia tak mungkin akan mengenal pria licik dengan segala pesonanya, jika saja ia bukan ketua dari geng Victor, ia tak mungkin familiar dengan wajah ketua geng musuhnya. Banyak dikepalanya kata jika, jika ia tak mengenal Jeremiah apakah hidupnya akan lurus-lurus saja?

Tangannya memegang sepuntung rokok, menghisapnya pelan lalu menghembuskannya dan asap itu menguar hilang bersamaan dengan udara yang saat ini mencekam dingin menusuk kulitnya. Dihadapannya ada Jeremiah yang hanya memperhatikan kegiatan yang Vier lakukan.

"Apa? Lu mau apa lagi dari gue?" Tanya Vier sinis, tangannya yang lain mengacak rambut frustrasi.

Jere hanya terkekeh pelan. "Gak, gue cuman minta kita balap, i mean itu udah lama bukan? Semenjak dari kekalahan lu?" Ejek Jere, buat ego dalam Diri Vier memberontak, karena kekalahan itulah ia bisa terjebak dengan taruhan yang ia buat.

"Selalu ada udang dibalik batu, gue tau lu gak sebaik itu buat ajak gue balapan," tuduh Vier dan membuat Jere tersenyum dalam hati, Vier memang tak pernah salah untuk menebak.

"Seks terakhir sama gue, and its over," ucap Jeremiah buat Vier terdiam sebentar. Jika ia menang ia akan terbebas dari belenggu pria gila di depannya.

"Atas dasar hal apa tiba-tiba lu bikin taruhan gini?" Vier malah bertanya.

Jere menaikan satu alisnya bertanya. " Lu gamau kehilangan gue?" tanyanya percaya diri.

Vier nenghembuskan asapnya pada Jere dan tersenyum. "Otak lu gak mungkin sebaik itu," katanya.

"Kali ini gue serius, lu menang, kita selesai."

Vier berpikir dalam diam, ia tak mungkin akan jatuh lagi bukan?

"Jangan pernah ganggu hidup gue lagi, deal?"

"deal."

kesepakatan dibuat, taruhan diperbarui, entah apa rencana Jeremiah kali ini, yang Vier ingin ia hanya ingin menang.

"Kita liat, sampe kapan kamu bisa bertahan." ucap Jere dalam hati kecilnya.

flashback off
...

Malam yang sering mereka lalui terasa berbeda, Jeremiah terlalu lembut untuk hari ini, setiap sentuhan pada tubuh Vier itu terasa berbeda, tak ada aura dominasi atau paksaan, ini hanya kelembutan yang nyata buat perut Vier terasa seperti ada kupu-kupu.

Jeremiah ambil perlahan pipi Vier, mengusapnya pelan lalu tersenyum. "Cute, kamu lucu."

Vier hanya diam diperlakukan seperti itu, seolah dibius akan perlakuan Jeremiah malam ini.

cup

Awalnya hanya mengecup, berubah menjadi lumatan lembut, tak ada paksaan darinya, hanya mencium seolah dia adalah miliknya, mutlak.

Ciuman itu berubah pada kedua matanya, hidung yang kini memerah dan menggigit pelan telinga Vier tepat ditindikannya, terasa berbeda, ketika ciuman itu mendarat di dada Vier, lelaki manis itu melenguh nikmat.

Ciuman terus berlanjut pada puting Vier, buatnya keleyengan tak kuasa menahan rasa nikmat, sebab Jere memainkan putingnya dengan tangannya yang lain.

Xavier sudah tak bisa berhenti menahan kenikmatan ini, ia hanya ingin dirinya dipenuhi oleh Jeremiah.

"It,s hurt?" Tanya Jere lembut, dan Vier hanya menggeleng, yang ia rasa hanya kenikmatan duniawi.

Bibir Jere terhenti di depan gundukan kecil yang siap mengacung di depannya, buatnya terkekeh kecil dan membuka celana Vier dan yang benar saja, adik kecil vier butuh dimanja, Jere jadi flashback disaat pertama kali ia mengenal lelaki yang sekarang di bawah kungkungannya.

Setiap sentuhan terasa berbeda, apalagi saat tangan Jere mulai memasukan jarinya pada bongkahan milik Vier.

Vier hanya merasa berbeda malam ini. "Sakit?" Tanya Jere lembut saat ketiga jarinya mulai masuk, Vier hanya menggeleng, ia hanya ingin segera dimasuki.

"Jer please, i want you."

"i,ll be gentle, tonight."

malam ini terasa berbeda, hanya sentuhan saling menginginkan, ciuman akan perpisahan dan ucapan selamat tinggal yang tak bisa mereka ungkapkan.

Vier menatap ruangan yang sudah bersih, kosong, tak ada Jeremiah yang selalu menatapnya saat ia terbangun, tak ada ucapan hangat yang biasa jeremiah layangkan untuknya, sekarang hanya sunyi.

Vier cari nomor Leo, sahabatnya untuk ia mintai jemput, sebelum melihat secarik kertas yang mencuri perhatiannya.

we're over, dan lu bebas- J

Ya, mereka telah selesai, tapi entah mengapa itu membuat Vier merasa tak nyaman, entah apa yang salah akan dirinya, entah ia hanya merasa kosong setelah diperlakukan hangat oleh Jere semalam, atau bahkan hal lain yang menganggu hatinya? yang dirinya tau ia hanya merasa sesak melihat ranjang disebelahnya yang kosong dan sudah dingin, menandakan Jermiah sudah pergi beberapa jam lalu. Dia merasa ditinggalkan.

...

apa jere semudah itu melepas vier? oh tidak mungkin 😃🤭

dkakfkk 2025

taruhan (harukyu)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang