22.N

420 30 8
                                        

Disisi lain seorang laki-laki duduk dengan laptop didepannya matanya fokus pada layar tersebut. Otaknya kembali terbayang ucapan..

"Seorang psikopat yang rela membunuh siapa aja yang berani mendekati cewe yang dia suka! Terus dengan gampangnya psikopat itu menghilang semua jejak sampe dia ga bakal ketauan kalo dia yang ngebunuh. kira-kira abang percaya ga kalo didunia nyata ada yang kaya gitu?"

Lalu teringat juga tentang...

"Jujur saya turut berdua cita atas kematian rehan. Apa lagi berita kematiannya lenyap begitu saja tanpa ada yang tau apa pelakunya sudah ketangkep atau belum"

Mendengar ucapan itu tentu membuat tatapan kedua orang itu seperti panik.

"em nak, maaf kami buru-buru. Kami permisi dulu ya" Ucap lelaki lanjut usia itu yang berada disamping istrinya.

Bagas, menatap layar komputer didepannya dengan tatapan bingung.

"ini aneh. Orang tua mana yang rela berita kematian anaknya sendiri lenyap gitu aja, gua udah cari di berbagai berita tapi sama sekali ga nemuin berita kematian rehan! Ini kaya disengaja, iya berita ini pasti dihilangkan secara sengaja di tambah kedua orang tua rehan diam tanpa ada pergerakan apapun itu sama aja seperti mereka sedang ditutup mulutnya untuk tidak berbicara tentang kebenaran. Ya, gue bisa pastiin itu dari cara gue liat gerak-gerik mereka tadi"

Bagas, mengambil handphonenya, tangannya bergerak cepat menjadi salah satu nomor disana.

"sorry kalo gua ganggu. Bisa ketemu?" Ucapnya pada seseorang dibalik telpon.

"Kapan?"

"Siang ini di relatif kopi"





***



Hati yang sedang terbakar panas seperti panasnya mata hari. Itu lah yang gadis itu rasakan. Seorang gadis yang tengah duduk melamun di tempat yang tak begitu ramai. Tangannya sibuk mengaduk coffe dengan tatapan kedepan dan tatapan yang kosong tapi, isi kepalanya sangat berisik seperti teriakan orang yang lagi masuk kerumah hantu.

"Masa iya gue cemburu? Kalo cemburu berati gue suka dong? Gak! Yira, Lo yang bener aja masa Lo suka sama dia sih?!!!" Ucapnya tak percaya.

"Ga! Ini bukan cemburu! Ini cuma hal yang wajar buat seorang istri yang liat suaminya sendiri jalan sama cewe lain!!" Ucapnya lagi meyakinkan diri.

"Lo ga boleh suka sama diaaaaaa!!!"

Ada yang salah dengan perasaan suka? Suka itu hal yang wajar bukan. Gadis itu sudah lama satu rumah dengan lelaki yang tak lain adalah suaminya sendiri bagaimana mungkin tidak timbul perasaan? Walaupun pernikahan mereka diawali dengan tidak saling mencintai.

Yira, mengerutkan keningnya ketika tiba-tiba didepannya terdapat bunga mawar. Gadis itu menoleh kesamping.

"Elo?! Ngapain Lo disini?" Tanyanya terkejut.

"Harusnya aku yang nanya, kenapa kamu disini?" Katanya setelah duduk dikursi depan gadis itu.

"Ya-ya gue- cuma nyantai aja! iya, nyantai! Ini kan udah jam pulang sekolah" Jawabnya dengan sedikit gugup.

"Yang bilang jam istirahat siapa?" Ledek lelaki itu sambil memajukan sedikit wajahnya.

Sangat jelas kalau gadis itu sedang gugup sekarang. Wajahnya dan wajah lelaki itu... Sangat dekat.

"Biasa aja kali natapnya!" Ucapnya sambil mendorong pelan wajah lelaki dihadapannya.

"Jawab gue! Ngapain Lo kesini?" Tanyanya dengan nada ketus.

Dia NabilTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang