Tempat yang terletak di area yang sunyi dan tenang, jauh dari diuh pikuk kehidupan sehari-hari. Hanya dipecahkan oleh suara-suara lembut dan penuh hormat.
Sesekali orang berdatangan ketempat itu untuk menumpahkan semua rasa rindu pada orang yang mereka cintai walaupun mereka sudah tak dapat melihat orang tersayang nya lagi.
Seperti saat ini Bagas, berjongkok disamping pemakaman milik wanita yang ia cintai yang tak lain adalah bundanya. ini lah yang setiap hari ia lakukan, pergi ketempat bundanya beristirahat setiap sepulang sekolah.
"Seandainya bunda masih ada pasti bunda bakal seneng banget tau kalo aku udah maju satu langkah buat deketin dia"
Lelaki itu menghembuskan nafasnya pelan.
"Orang yang selama ini hanya bisa aku perhatikan dari kejauhan. Aku seneng banget Bun, ya walaupun aku masih belum bisa dapetin hatinya tapi, gapapa aku ga bisa maksa dia terus-terusan buat bales perasaan aku. Aku rasa buat saat ini untuk bisa tetap berada didekatnya aja udah buat aku merasa hidup ini kembali berjalan"
"dia masih seperti dulu kecil... ga bisa diem" Ucap lelaki itu lalu tertawa kecil.
"Aku akan tetap pastiin dia aman walau hanya bisa dari kejauhan sama seperti dulu kecil, aku membuat orang-orang yang membulynya menjadi tunduk tanpa dia tau. ya walaupun aku tau dia berani dan selalu melawan orang yang membuly-nya" lelaki itu kembali tertawa kecil mengingat hal-hal dulu yang ia lakukan.
"Tapi, tetep aja aku mau dia tenang tanpa ada orang yang merusak hidupnya" Katanya lalu menghembuskan nafas beratnya.
"Bun... I miss you, always" Ucap terakhirnya lalu perlahan berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Namun, baru beberapa langkah lelaki itu tak sengaja melihat seseorang yang tak asing baginya. Kakinya melangkah maju untuk melihat lebih dekat siapa orang itu.
"Ibunya Rehan..." Lirihnya sambil menatap sepasang suami istri yang sedang menangis dipemakaman putranya.
Tak, butuh waktu lama kedua orang tua itu berdiri dan mulai menjauh dari pemakaman milik putranya, dengan cepat Bagas berlari menghampiri mereka.
"Permisi.. assalamualaikum pak, buk". Ucapnya tersenyum ramah lalu menyalimkan tangannya kepada orang tua itu.
"Waalaikumsalam" Jawabnya dengan tatapan bingung.
Mengerti tatapan itu Bagaspun berkata "saya Bagas Bu, temennya Rehan. Ibu sama bapak ini orang tuanya Rehan kan?"
Mereka berdua saling menatap lalu mengangguk pelan.
"Jujur saya turut berdua cita atas kematian rehan. Apa lagi berita kematiannya lenyap begitu saja tanpa ada yang tau apa pelakunya sudah ketangkep atau belum"
Mendengar ucapan itu tentu membuat tatapan kedua orang itu seperti panik.
"em nak, maaf kami buru-buru. Kami permisi dulu ya" Ucap lelaki lanjut usia itu yang berada disamping istrinya.
Bagas, menatap kepergian mereka berdua dengan isi otak yang terus bertanya-tanya.
"Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan..."
***
Kakinya melangkah masuk kedalam rumah, pemandangan pertama yang ia liat adalah seorang gadis sedang tengkurap di sofa depan tv yang menyala tapi matanya fokus pada buku.
Bagas, menggeleng lalu berjalan kearah tv untuk mematikan tv yang menyala itu.
Dasar wanita, untuk apa menyalakan tv jika mereka malah sibuk dengan hal lain?
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Nabil
Ficção Adolescentepersetanan dengan jaman dulu! perjodohan konyol yang dilakukan kedua orang tuanya? apa apaan ini memasuki sekolahnya yang baru tiba tiba dia disuruh menikah dengan seorang cowo bayi? whattt?? sifatnya aja gitu gimana mau jadi ketua rumah tangga YI...
