20. N

948 68 12
                                        

Pagi hari adalah waktu yang paling tenang dan damai. Matahari mulai terbit, memancarkan cahaya lembut yang menyinari bumi. Langit berwarna biru muda, dengan awan putih yang berarak perlahan-lahan. Udara masih sejuk dan segar, dengan sedikit embun yang masih menempel di dedaunan.

Burung-burung mulai berkicau, menyambut pagi hari dengan lagu-lagu yang merdu. Suara mereka menggema di udara, menciptakan suasana yang riang dan gembira. Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa aroma bunga dan tanaman yang baru saja mekar.

Di jalan, orang-orang mulai beraktivitas, berjalan kaki atau bersepeda ke tempat kerja atau sekolah. Mereka membawa tas dan ransel, dengan senyum di wajah mereka. Begitupun dengan dua orang yang sedang saling jatuh cinta.

Faiz Robert, lelaki tampan dengan sejuta kesetiaannya, buktinya lelaki itu sekarang tengah duduk bersama gadis pujaan hatinya di taman favorit mereka.

Gadis itu memberikan sebuah kertas dengan tulisan "ka, lebih baik kamu berangkat ke sekolah".

Setelah membaca tulisan itu faiz menggeleng kan kepalanya, mengambil pulpen dari tangan gadisnya dan mulai menulis.

"Gamau, aku mau disini nemenin kamu"

Gadis itu menghela nafas panjang membaca balasan dari kekasihnya.

Vanya Caroline, gadis beruntung yang mendapatkan lelaki seperti faiz. Semenjak faiz datang dalam hidupnya, kehidupan nya mulai banyak yang berubah. Dia hanyalah gadis tunawicara yang hanya tinggal bersama ibunya. Mereka dulu hanya berjualan gorengan keliling lalu faiz datang dalam hidupnya, mengetahui gadisnya mempunyai hobi membuat kue lelaki itu langsung membangun sebuah toko kue untuk mereka berjualan.

"Sebentar lagi aku mau buka toko kuenya" Faiz, tersenyum dan mengangguk setelah membaca tulisan itu.

Tangannya mulai kembali menulis "kali ini aku yang nemenin kamu jualan! ga nerima penolakan."

Kalau sudah seperti ini vanya tidak bisa menolak karna isi pesan itu adalah perintah bukan tawaran.

"Tuhan sebaik baiknya seniman, dan kau sebaik baiknya mahakarya. i prayed for you"

Wajahnya bersinar dengan senyum yang lebar dan hangat. Matanya berkerut di sudut, membentuk garis-garis halus yang menunjukkan kebahagiaan. Bibirnya terangkat, membentuk lengkungan yang sempurna. Bukan sekali dua kali lelaki itu menulis kata-kata indah untuk vanya, namun tak ada satu kata-kata pun yang tak membuat Vanya berbunga-bunga.

Kata-kata nya indah, begitupun orang yang membuatnya.




***

Yira, gadis itu terdiam sedari tadi sambil mengaduk es teh menggunakan sedotan. Matanya terfokus pada suatu titik, dengan intensitas yang menunjukkan gadis itu sedang memikirkan sesuatu yang mendalam.

Alisnya berkerut, menunjukkan bahwa sedang berusaha memecahkan masalah, memahami konsep yang kompleks.

Hal itu membuat teman-temannya menatapnya bingung.

"Ra, dimakan nasi gorengnya" Suara Rusiana membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.

"ah i-iya. hm gays, gue ke toilet dulu ya" ucapnya lalu pergi setelah mendapat anggukan dari teman-temannya.








***








Yira, menghela nafas panjang. Menatap dirinya di depan cermin toilet. Kejadian semalam membuat pikirannya bekerja sampai sekarang, sebenarnya jawaban lelaki itu lah yang membuat yira seperti ini.

Dia NabilTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang