Ali POV
That what makes you beautiful....
Saat aku masuk, aku mendengar seorang pria bernyanyi menggunakan gitar.
Siapa itu? Seorang pria memetik gitarnya sambil memandang.... Prilly? Dengan pandangan... Ah! Susah dijelaskannn!! Yang jelas, aku tidak suka!
Prilly. Dia sangat cantik malam ini, dengan gaun hijau dengan motif batik dengan lengan sepundak, dan panjangnya sedikit diatas lutut. Polesan make up tipis membuatnya terlihat semakin mempesona. Tapi kenapa para tamu disini tak ada yang mengetahui bahwa dia artis?
Aku menyelinap setelah menggunakan masker dan menutupi mata dengan poniku...
Pluk!
Aku sontak menoleh saat seseorang menepuk pundakku. "Randy?" desisku pelan. "Itu ada yang nyanyi buat Kak Prilly. Lo gak mau ikutan nyanyi?" goda Randy membuatku mengernyitkan dahi.
"Gakk... Gue belum nyiapin mental ngadepin fans." Well, sebenarnya bukan itu alasan asliku. "Cuma mau ucapin Happy Birthday buat Cassie."
Sebenarnya aku gak suka melihat cowok itu bernyanyi untuk rekanku, Prilly. Jujur ada yang mengganjal di hatiku. Rasanya aku juga ingin membuktikan bahwa aku juga bisa seperti itu bahkan lebih. Tapi apa boleh buat? Keadaanku yang seperti ini juga suaraku yang tak mendukung membuat aku merasa rendah diri tidak bisa seperti mereka. Padahal aku adalah seorang musisi.
Hobiku menyanyi, tapi lagi-lagi suaraku tak mendukung sehingga aku harus mencari hobi baru. Sebenarnya suaraku itu tidak membuat masalah, tapi cita-citaku adalah seorang penyanyi sekaligus pembuat lagu. Suaraku yang tak mendukung ini tidak akan disukai banyak orang. Lagi-lagi karena suaraku, aku harus menggugurkan salah satu cita-citaku sejak dulu.
Cukup ceritanya. Setelah menyelinap, akhirnya aku sampai juga di tempat Cassie dan Prilly berdiri. Ya ampun, wajahnya terlihat sangat natural dan polos jika tanpa make up.
"Cass, happy birthday. Wish you all the best. Ini kado buat lo."
"Thanks, Ali." Cassie memelankan suaranya saat mengucap namaku.
"Oke, gue balik, ya." pamitku. "Pril?" Aku beralih padanya. "Mau bareng?"
Prilly melirikku. "Emm... Boleh. Gue duluan, Cass, Ran."
"Kamu cantik banget malam ini, sumpah." pujiku saat kami berjalan ke parkiran.
"Emm... Masa, sih? Tapi makasih."
Aku tersenyum, lalu membukakan pintu mobil.
"Thank you." ucapnya sambil tersenyum malu. Dasar manis!
"Rumah kamu di Whites Home kan?" tanyaku setelah masuk ke mobil.
"Eng... Kok tahu?"
"Ketahuan... Kamu kulitnya white, terus mirip Snow White juga. Berarti udah ketahuan dong, kalo kamu tinggal di Whites Home?"
Blusshh!
Kulihat pipi chubbynya itu memerah. Menggemaskan!
"Mm.. Berarti kalo aku tinggal di Black Home, kulit aku black juga dong!"
katanya sambil mengerucutkan bibirnya. "Enggak. Mau apapun warna kulit kamu, kalo Prillvers sejati pasti nggak akan permasalahin hal kecil kayak gitu." sahutku.
"Kamu Prillvers juga, Li?" tanyanya sambil menatap mataku.
"Iya. Prillvers sejati, seperti yang aku bilang tadi. Emang kenapa?" tanyaku balik.
"Mm.. Gak papa. Aku juga Alicious." Hatiku terpekik senang. "Benarkah?" tanyaku. Ia mengangguk. "Btw, kamu udah makan?" tanyaku. "Belum."
"Masa, sih? Lah, kamu di pesta Cassie nggak makan?" ujarku tak percaya. "Mana sempat. Sibuk bantu dan ngumpet kalo ketauan." keluhnya. "Randy gak ingetin?" Aku terfokus pada jalanan. "Dia sibuk bantu Cassie, Li."
"Ya udah, mending kita dinner sama-sama aja, yuk. Aku juga belum makan. Mau gak?" tawarku. "Boleh.. Tapi... Kamu nggak akan culik aku, kan?" Mata hazlenya menyiratkan keraguan.
"Menurutmu, hm??"
"Hmm.. Aku..."
"Tenang sayang, tidak akan." UPS! Aku keceplosan!!!
"Eeh.. Apa katamu tadi?" ucap Prilly tak percaya. "Maaf, aku salah bicara."
"Kamu mau makan dimana?" Aku mengalihkan pembicaraan. "Suka steak?"
Prilly mengangguk. "Steak House's Jcloud saja, bagaimana?" tawar Prilly. Aku baru ingin mengusulkan itu!
"Baik. Aku yang bayar."
---
Cek medianya ya
"Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?"
"Chicken Steak Jcloud Special." Aku dan Prilly menyebutkan pesanan kami secara bersamaan. Kami tersentak. Si pelayan malah tersenyum geli.
"Prilly Gillbert dan Ali Anderson, kan?" Si pelayan perempuan itu memelankan suaranya. "Ssst!" Aneh, kenapa masih ketahuan juga. Padahal kami sudah berusaha menutupi wajah. "Iya, saya tutup mulut. Tapiii..." Ia berlari menuju meja kasir, lalu kembali lagi ke meja yang ditempati kedua selebriti tersebut. "Tandatangan, dan foto ya.. Tapi fotonya di toilet dan bergantian." Ali dan Prilly berpandangan lalu tersenyum.
YOU ARE READING
Bad Voice ✅
DiversosHanya kisah tentang seorang penyanyi dan seorang musisi./ "PRILLY!! GUE NGE-FANS BERAT SAMA LOO!!!"/ "Kamu cantik banget malam ini, sumpah."/ "Kembali pada kejadian waktu lo jatuh cinta sama dia, lo mau pertahanin atau lepasin?"
