Author POV
Setelah menghabiskan tenaga dengan bernyanyi, Prilly mengajak Ali, Rian dan Randy untuk istirahat dan bersantai di taman belakang sambil menikmati biskuit dan teh hangan.
"Jadi," Rian mulai buka suara, "Lagu kalian itu mau di publikasikan?"
Ali dan Prilly berpandangan.
"Gue sih terserah aja." kata Ali, "Ngikut sama Prilly."
Prilly berpikir sejenak. "Boleh..."
"Gue mau usul," Randy yang sedari tadi terdiam, ikut buka suara.
"Gimana kalo kalian bikin lagi kira-kira 5 lagu, buat dijadiin satu album? Nanti gue sampein ke Ecrodise Music, produsernya Kak Prilly."
"Wah! Boleh tuh!" Prilly nampak antusias.
"Gimana, Li? Yan? Kalian setuju?" Prilly beralih pada Ali dan Rian.
"Okeeee!! Gue setuju!" seru Ali.
"Gue juga. Kalian latihan dulu lagu Apalah Arti Menunggu sampe bener-bener bagus."
"Emangnya tadi kami nggak bagus, ya, mas?" gumam Prilly.
"Eeeh... Nggak.. Maksudnya kalian bagus.. Tapi kan kalian itu baru sekali. Jadi harus lebih diasah lagi kemampuan kalian." sanggah Rian.
"Yaudah deh. Yuk makan dulu! Mbak Inah udah masak steak!" seru Prilly.
Randy dan Ali pun ngeces.
"Kalian duluan, gihh..." kata Prilly pada Ali dan Randy. "Oke!"
Prilly POV
Aku memiliki suatu rencana. Jadi, aku mengusir Randy dan Ali secara halus.
"Mas Rian, gue pengen..."
"Ehh... Stop! Jangan pernah panggil gue Mas! Nggak enak! Panggil Rian aja!"
"Oke, oke.. Rian.. Gue pengen nanya nih, sama lo... Please jawab jujur.."
"Hm."
"Ali tuh, sebenernya kenapa, sih? Setiap gue suruh nyanyi pasti selalu nolak. Padahal dia pembuat lagu... But... Why?? Padahal kayaknya dia jago nyanyi, ya." tanyaku. Rian sedikit terkejut.
"Inget... Jawab jujur, Yan.."
Ia lalu menarik nafasnya, lalu menghembuskannya perlahan.
"Oke... Gue cerita.. Tapi.. Lo jangan motong cerita gue." Aku membalasnya dengan anggukan.
"Ali itu adalah anak yatim. Dia adek kelas gue waktu SD. Meski cuma barengan sekolah pas SD, Dia sering ketemu dan cerita-cerita sama gue. Dia udah kayak adek gue sendiri. Gue dulu inget banget, dia sering cerita sama gue soal cita-citanya. Yaitu penyanyi dan pembuat lagu. Dia sering bilang, "Rian, ntar kalo Ali jadi penyanyi, Rian jadi manager Ali, ya."" Mata Rian berkaca-kaca. Lalu ia menyeka setetes air matanya yang jatuh.
"Duh kenapa gue jadi cengeng gini, sih." kata Rian mengusap-usap bawah matanya. "Maaf ya, Pril.. Gue jadi cengeng.. Abisnya sedih mulu kalo inget cerita Ali.." ujar Rian sambil tersenyum.
Prilly tersenyum. "Lanjutin, Yan."
"Terus, pas gue kelas 8, dia kan baru kelas 4 tuh, kira-kira umurnya 9-10 tahun lah.
Terus pas pulang sekolah gue dapet kabar menyedihkan..." Rian terdiam sejenak.
"...Ali kecelakaan."
"Pas itu gue langsung ke rumah sakitnya. Dia nggak bisa ngomong apa-apa.."
Aku sedikit terkejut, aku ingin bertanya namun aku ingat bahwa aku tidak boleh memotong cerita Rian.
"Dia nggak bisu, Pril... Selama seminggu dia di rawat. Tulang kaki kanan dan tangan kanannya retak. Alhamdulillah cuma retak. Nggak patah. Dan ada beberapa syaraf tenggorokannya yang putus jadi..."
Air mata Rian jatuh lagi, lalu dengan cepat ia menyekanya.
"Dia nggak bisa nyanyi, Pril... Dia harus menggugurkan salah satu cita-citanya.." Dan tangisan Rian sudah tak dapat ditahan lagi.
"Dia hiks.. Nggak kuat kalo nyoba nada tinggi... Suaranya nggak kuat, Pril..." kata Rian sambil terisak. Ia sudah tak memiliki kata malu karena menangis di depan perempuan, di depanku.
Aku ikut meneteskan air mata.
"Makanya tadi gue langsung dipelototin sama Ali pas gue usul kalian duet... Maaf, ya, Pril... Kalo lo emang gak terima.. Gue bisa kok bilang ke Ali dan manager lo supaya project ini batal.."
"Noo... Nggak, jangan batal.. Gue terima apapun kekurangan rekan gue..." kataku dengan sedikit terisak.
"Gue gak nyangka Ali kayak gitu..." Aku pun menangis.
Rian menyeka air matanya, lalu menyodorkan tisu yang dibawanya padaku
"So, itu jawaban dari pertanyaan lo. Sekarang dia cuma mampu jadi pembuat lagu. Kemaren dia coba nyanyi dan dia batuk-batuk.. Dia nggak mampu tapi dipaksa, Pril..."
"Emang gak ada cara lain supaya sembuh gitu? Nggak bisa di operasi?" tanya ku sambil menyeka air mataku menggunakan tisu.
"Nggak bisa, Pril.. Beruntung cuma syarafnya yang putus, bukan pita suaranya..."
"Semoga lo paham, ya, Pril sama semua cerita gue... Makasih lo udah ngertiin Ali.."
"Sama-sama, Yan... Gue gak mau nyinggung-nyinggung keburukan orang lain, karena itu bakal bikin orang itu sedih.."
"Ciee.. Nggak mau Ali sedih ya?" Rian mencairkan suasana. Aku tersenyum malu dengan pipi yang memerah.
"Rese lo! Udah ah, laper! Gue mau makan duluu!"
Haii.. Tinggalkan jejak dengan vote, komen, add to library and reading list ya.. Jangan lupa baca ceritaku satu lagi yang berjudul INNOCENT GIRL. Terima kasii
YOU ARE READING
Bad Voice ✅
AcakHanya kisah tentang seorang penyanyi dan seorang musisi./ "PRILLY!! GUE NGE-FANS BERAT SAMA LOO!!!"/ "Kamu cantik banget malam ini, sumpah."/ "Kembali pada kejadian waktu lo jatuh cinta sama dia, lo mau pertahanin atau lepasin?"
