30

294 41 4
                                        

Maaf jika ada kata-kata yang typo dan bijaklah dalam membaca. Happy reading...


Ruangan kantor nuansa putih abu terlihat berantakan akibat pecahan vas bunga dan beberapa berkas penting berserakan di lantai. Lelaki dengan pakaian kemeja kantoran dan dasi yang berantakan memperlihatkan betapa frustasi dirinya. Pesan yang terkirim dari orang yang sangat ia kenal penyebab dari kekacauan ini.

~Unknown~
💬halo sahabat lama
💬 sebentar, apakah masih pantas kau disebut sahabat padahal sudah membunuh sahabat nya sendiri?
💬 kau ingat aku bukan?
💬 jangan harap aku tidak akan membalaskan dendam Jinwo terhadapmu, sialan.
💬 sebelum kau mati, aku tidak akan berhenti mengganggu segalanya yang berhubungan dengan mu.

💬 Nathan? Ini nomor mu? Kau masih mengungkit ini? Sudah kubilang bukan aku pelakunya.

💬 Tidak ada bukti jika kau bukan pelakunya sialan. Aku muak dengan sikap mu yang tidak tahu apa-apa.
💬 Lihat saja, anakmu akan membencimu akibat perbuatan mu.

Napas Rui tidak beraturan, pikirannya kacau kemana-mana. Wajah kesakitan Jinwo kembali muncul dalam pikirannya. Tangannya yang bergetar memukul kepala itu dengan keras berharap bayangan wajah Jinwo menghilang. Dada nya sakit muncul penuh rasa bersalah. Air mata jatuh setelah tak bisa terbendung lagi. Kini ia memikirkan anaknya apakah ia juga akan ikut membencinya seperti sahabatnya.

"Jinwo... Maafkan aku... Maaf... H-harusnya diriku... Jika saja aku tidak mengajak mu keluar, hal ini tidak akan terjadi" Lirih Rui. Tubuhnya merosot ke lantai, tubuhnya terduduk dengan lemas. Wajahnya yang sangat kacau, kelopak bawahnya menghitam, bibirnya kering pucat, keringat dingin membasahi sekitaran dahinya. Dengan lemah, tangannya mengambil bingkai foto yang tergeletak di lantai. Foto dimana mereka bertiga, Nathan, Jinwo, dan dirinya yang tersenyum bahagia saat pembukaan pertama kali perusahaan yang mereka dirikan. Tangisan Rui kembali terdengar dan ia memeluk foto itu. Andai Nathan tahu, bahwa dirinya sudah berulang kali ingin bunuh diri hanya saja bayangan Jinwo tertawa bahagia terus muncul dalam benaknya.

——————

"Semua segera bersiap! Waktu lagi 15 menit" Seru staff mengingatkan mereka sisa waktu untuk bersiap. Para member dengan beberapa makeup artists sedang sibuk memoleskan beberapa makeup lagi untuk menampilkan lagu b-side mereka. Jiwoong yang sudah selesai sedang sibuk foto untuk dipost di akun Instagram.

"Oke bagus, badannya tegakkan lagi coba" Pinta Manager yang ikut sibuk memotret Jiwoong. Jiwoong bergaya dengan tampan mengikuti arahan Manager.

"Nah sudah, aku akan mengedit beberapa" Ucap Manager dan meninggalkan Jiwoong. Karema sudah selesai, ia segera pergi ke tempat para member berada.

"Dari mana hyung?" Tanya Gunwook melihat Jiwoong baru datang.
"Tadi foto diluar bareng Manager hyung. Sudah selesai bersiap?" Gunwook mengangguk cepat dan memeluk lengan Jiwoong manja. Jiwoong hanya terkekeh gemas, jarang-jarang Gunwook manja dengan para hyungnya.

"Ih geli~" Celetuk Gyuvin. Gunwook melirik tajam ke arah Gyuvin.
"Sirik aja" Sinis Gunwook. Ia memeluk lengan Jiwoong erat dan tangannya memegang ponsel nya bermain game bersama Matthew dan Taerae.

"Ngapain sirik, aku juga bisa sama Yujin. Iya kan hum~" Ucap Gyuvin dengan nada manja bergelayutan di lengan Yujin.
"Ih hyung apaan sih" Yujin menjauhkan tangannya dari Gyuvin tetapi Gyuvin dengan cepat memeluk tangannya kembali.

"Aaaa hyung jangan ganggu aku dulu" Rengek Yujin. Bukannya dilepas, Gyuvin semakin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa Yujinie, hyung cuma kangen kamu aja- aduh! " Pekik Gyuvin saat kepalanya terbentur meja akibat dorongan Yujin yang berusaha menghindari dirinya.

Ricky | ZerobaseoneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang