31

254 40 5
                                        

Maaf jika ada kata-kata yang typo, jangan membawa tokoh ke dunia nyata. Happy reading...

•••

"Akh R-rui... s-sakith... "

"Jinwo lari! Cari Nathan!"

Tidak... Kumohon...

"Wo! Pergi, cari bantuan! Jangan kesini"

"JINWO!"

Dahi Ricky terus mengernyit, peluh membasahi pelipisnya, napasnya yang tak teratur.

"Ricky, hei bangun... " Lirih Hao khawatir. Tangannya tak berhenti mengelus dahi Ricky yang berkeringat. Tangan kanannya mengelus tangan Ricky yang terpasang infus. Diruangan hanya ada Hao, Hanbin, Manager, dan Gyuvin. Awalnya Gyuvin tak diberi masuk oleh manager, namun karena Gyuvin terus merengek hingga akhirnya terpaksa memberi izin kepada Gyuvin.

"Ricky kenapa hyung?" Lirih Gyuvin khawatir memegang tangan Ricky disisi lain. Tangan Ricky sangat dingin dan juga berkeringat.
"Hyung, apa perlu kita memanggil dokter? Kenapa Ricky tak kunjung bangun padahal sudah seperti ini?" Tanya Hanbin. Manager pun segera keluar namun berhenti.

"Ricky! Ada yang pusing?" Ricky mengerjapkan matanya berkali-kali menyesuaikannya cahaya lampu. Ia melihat bahwa disisinya ada para member menatap dirinya dengan khawatir.

Nginggg

"Akh... " Lirih Ricky kesakitan saat telinganya berdenging.
"Ada apa? Telinganya sakit lagi?" Tanya Hanbin menjauhkan tangan Ricky dari telinganya.

"Tidak... tidak apa hyung" Ucap Ricky menenangkan Hao saat melihat mata hyungnya sudah berkaca-kaca.

"Sudah berapa lama aku pingsan hyung?" Tanya Ricky mengingat terakhir kali ia berada dipanggung.
"Sudah hampir 3 jam" Ricky terkejut tak menyangka selama itu ia pingsan.

"Bagaimana dengan performance nya? Maafkan aku karena sudah mengacaukannya hyung... "
"Tidak apa, selagi kamu baik-baik saja" Sahut Hanbin menenangkan Ricky.

"Bagaimana dengan agensi?" Tanya Ricky membuat mereka diam.
"... Itu biar hyung yang mengurusnya, hyung akan panggilkan yang lain. " Ucap Manager hyung dan meninggalkan mereka. Tak lama terdengar derap kaki yang saling bersahutan.

"RICKY!"
"HYUNG!"

Hanbin melotot kearah mereka yang masuk dengan berteriak. Seketika suasana hening dan terdengar suara tawa dari belakang, Jiwoong.

"Sudah hyung bilang jangan keras-keras." Kekeh Jiwoong.

"Kan kita khawatir hyung. " Jawab Yujin cemberut dan segera naik ke kasur untuk bisa duduk bersama Ricky.
"Hyung baik-baik saja?" Tanya Yujin memegang pipi Ricky agar bisa melihat telinganya.

"Hyung tidak apa Yujin-na. "
"Seram sekali melihat darah keluar dari telingamu. " Ucap Matthew merinding. Taerae mengangguk setuju.

"Aku terkejut saat kau tiba-tiba ambruk di sebelahku." Timpal Taerae. Ricky hanya bisa cengengesan.
"Apa yang terjadi dengan in-earnya Ricky hyung?" Tanya Gunwook.

"Hyung tidak tahu, tiba-tiba musik berhenti dan telinga hyung langsung berdenging. Awalnya aku bisa menahan, tapi makin lama makin sakit." Jelas Ricky. Hanbin mendengar dengan seksama.

"Apakah milikmu rusak?" Tanya Gyuvin. Ricky menggeleng lemah.
"Seingatku tidak ada terjadi apa-apa."

"Tidak selalu seperti itu, Ricky. Seharusnya staff memberi tahu kita jika in-ear milikmu rusak, itu tugas mereka." Ucap Hanbin sambil memijat pelipisnya.

Ricky | ZerobaseoneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang