Ngomong-ngomong, sesi let it udah resmi berakhir. Ini bisa disebut trilogi, kan? He he he.
Cerita ini lahir dari perasaan yang selama ini saya tahan. Bikin sesak. Jadi harus saya lepasin. Dan momentum juga pas, karena ditinggal grad osaosi juga, makin patah hati huft.
Ini tuh kaya bentuk dari perjalan belajar ikhlas dalam melepas. Kalo kata orang, ketika kita bisa moveon, kita harus melewati fase "5 stage of grief" dulu. Tapi disini, saya engga mendeskripsikan itu. Ada hal yang harus dipahami, kita ngga harus ada di fase denial dan anger kok. Ya walaupun kebanyakan orang akan membenarkan itu. Dan depression juga ngga harus yang sedih dan gelap, ada bentuk lain yg bisa kita ganti. Dari rasa sedih, beralih ke refleksi. Kaya yg dilakuin Shani. Paham kan ya?
Bukan berarti semua perasaanmu itu tidak valid, dik, tapi coba kita melihat dari sisi lain, kaya yg saya gambarkan di trilogi ini. Semakin sering kita menerima luka dan sakit di masa lalu, kita makin tahu cara buat menyikapinya saat kita kembali terluka. Itu pesan yang mau saya selipkan.
Kenapa bisa nulis kaya gini, kek seolah-olah semuanya gampang? Ya karena saya juga udah berkali-kali kok mengalaminya, saya juga pernah muda :(( usia dan pengalaman itu jadi pelajaran berharga untuk setiap individu, begitu kira-kira kids. Tidak bermaksud untuk menggurui ya, saya bukan guru soalnya. Tapi semoga kalian nangkap maksudnya. Aww!
Ngga semua hal yang kita cintai itu harus selamanya kita miliki, kadang ada waktu dimana kita harus milih buat yaudahlah ya. Toh semua perpisahan itu ngga selalu berakhir buruk kok, tetep ada ruang baik yang kesisa kalo kita mau cari.
Disini, GreShan bukan cuma sekedar pemeran, tapi saya ngeliatnya kak bentuk reflektif dari kebanyakan orang-- aku, kamu, kita, dalam proses menghadapi kehilangan yang kita alami. Tentang gimana kita coba buat menahan, melepas, dan akhirnya berdamai. Kita semua hampir pasti ada di posisi GreShan. Entah sebagai yang pergi, atau sebagai yang ditinggal.
Saya harap ketika kalian selesai membaca trilogi ini, ada perasaan yang datang menghinggapi. Entah itu lega, sedih, damai, atau apapun, semoga pesannya sampai pada kalian. Karena ketika kalian merasakan perasaan itu, artinya kalian juga lagi berproses.
Kids, saya nulis ini juga karena saya sedang menyembuhkan sesuatu dalam diri sendiri. Lewat sinilah saya sedang belajar memaafkan dan menenangkan diri, dan saya sadar, saya ngga sendirian. Ha ha ha.
Yaudah. Sekian deh. Makasih ya yang udah mampir buat baca, terimakasih juga yang sempat pencet tombol vote, terimakasih udah komen.
Dengan ini, Let It resmi selesai(~ ̄³ ̄)~(灬º‿º灬)♡
